Deretan Musisi Nusantara Masa Kolonial hingga Kemerdekaan  

deretan-musisi-nusantara-masa-kolonial-hingga-kemerdekaan
Foto repro Buku Wage Rudolf Supratman karya Anthony Hutabarat

Terakotaid-Perkembangan industri rekaman dan musisi Nusantara berkembang sejak 1920. Aliran musik jazz sedang menjadi musik yang populer di Barat. Musik yang berasal dari Amerika Serikat ini hanya dinikmati kalangan tertentu seperti warga Eropa dan Belanda. Sedikit warga pribumi dari kaum intelektual dan menengah ke atas.

Lagu tersebut juga disiarkan melalui Bataviae radio Vreniging (BRV) radio swasta pertama di Batavia yang mengudara 16 Juni 1925. Setelah itu, bermunculan banyak perkumpulan siaran radio berbahasa daerah. Radio menyiarkan topik utama kesenian dan kebudayaan nusantara.

Denny Sakrie dalam Buku 100 Tahun Musik Indonesia (2015) mencatat ada tiga jenis orkes yang terkenal pada 1930-an. Yakni , Harmonium, Gambus, Melayu. Syech Albar, ayah kandung Achmad Albar merupakan pemusik gambus terkenal di Surabaya. Bersama Orkes Gambus Al Wathon, Syach Albar produktif merilis album antara lain Zakhratoel Hoesoen 1937.

Syech Albar, ayah kandung Achmad Albar merupakan pemusik gambus terkenal di Surabaya. Bersama Orkes Gambus Al Wathonmerilis album antara lain Zakhratoel Hoesoen 1937. (Foto : Wikipedia).

Selain itu, juga ada S. Abdullah yang tergabung label Gramophone Company. Ada pula Menir Moeda yang melantunkan lagu Sunda. Miss Eulis, Miss Soepija, Gadjali, Miss Brintik, Mr Hanapi, Leo Sapulitu dan Bram Atjeh.

WR Supratman

Sementara di Makasar, W R. Supratman tergabung dalam kelompok Black and White Jazz Band. Band dibantu kakak ipar W.R. Supratman, Van Eldik. Beberapa nama penyanyi dan musisi melambung di Makassar. Broer Nadus, penyanyi Hawaiian, asli Maluku. Tan Tjeng Bok, telah meniti karir sejak 1912 saat usianya 14 tahun. Bram Tutuheru, penyanyi dan pemimpin orkers di Batavia. Annie Landouw, penyanyi tunanetra, menjuarai kontes menyanyi di Surakarta tahun 1927.

“Tahun 1936 muncul pemain biola, Mas Sardi namanya. Tergabung dalam Faroka Opera, kelompok ini tampil hingga ke Singapura. Tahun berikutnya, Mas Sardi bergabung dalam Sweet Java Opera. Sastrodiharjo, peniup klarinet dan penggesek biola juga dikenal namanya di belantika musik Indonesia kala itu,” tulis Denny.

Terdapat juga komposer dan pianis, Ismail Marzuki. Beberapa pemusik yang berjaya lainnya, kartolo, Abdullah, Jahja, Zahiruddin, Atungan serta Hugo Dimas. Lief Java, orkes keroncong yang populer kala itu dibentuk Hugo Dumas dan Abdullah. Orkes keroncong Lief Java kerap mengiringi penyanyi perempuan, Roekiah dan Annie Landouw. Roekiah mempopulerkan lagu “Terang Boelan” dan “Kerontjong Moritsko”.

Melodi Makers, kelompok musik jazz berdiri 1937. Menonjol pada permainan musik dixie dan ragtime, kelompok ini beranggota gitaris, Jacob Sigarlaki dan drummer, Boetje Pesolima. Era 1937-an musik keroncong, langgam, gamelan, gambus dan jazz mendapat sambutan hangat masyarakat luas.

Beberapa penyanyi dan musisi nusantara era ini, Miss netty, Jsn Bon, Van Der Mul, Miss Lie, Moenah, paulus Itam, Miss J. van Salk, Harry King, John Iseger, Miss Ninja, Miss J. Luntungan, Mohammad Jasin Al Djawi, Miss C. Luardie, Miss Dewe hingga Leo Spell terinspirasi gaya crooner Amerika Serikat.

Lagu Nasionalisme

Dalam skema musik gamelan, dikenal pesinden langgam Jawa, Njai Demang Mardoelaras, Bok bekel Mardoelaras dan M. A. Worolaksmi. Penyanyi gambus dan kasidah, Sjech Albar, S.H. Alaidroes dan Mohammad jasin Al Djawi. Penyanyi keroncong dikenal Parmin, Soekarno dan Soeparto.

Di Indonesia Timur, Hoo Eng Djie, musisi dan penyanyi Makassar pertama yang masuk industri rekaman. Perjalanan karir Hoo Eng Djie dimulai tahun 1930-an hingga 1950-an. Hoo Eng Djie pernah rekaman di Studio Hoo Eng Djie di Surabaya. Lagu-lagu Hoo Eng Djie bersuara tentang lagu rakyat Sulawesi atau celebes volksliederen.

“Musik jazz mulai meredup pada masa pendudukan Jepang, 1942-1945. Situasi politik kala itu tak memperkenankan budaya Amerika berkembang di Indonesia. Musik bernuansa propaganda Jepang dan lagu daerah lebih bergaung kala itu,” tulis Denny.  Salah satu musik yang berkembang kala itu musik keroncong, dengan ikon lagu Bengawan Solo karya Gesang.

Pada masa revolusi kemerdekaan 1945, Indonesia  dengan semangat kemerdekaan memunculkan skema musik tanah air bertema nasionalisme.  Lagu mars dari Barat sampai ke Timur, Halo-Halo Bandung menguar dinyanyikan pasukan pejuang di garis terdepan kemerdekaan Indonesia. Sumbangsih musisi nusantara.

Selain mars, lagu nasionalisme juga ada yang bersuasana tenang seperti Tanah Airku karya Iskak, Tanah Tumpah Darahku karya Cornel Simandjuntak, hingga Syukur karya H. Mutahar.  Lagu percintaan seperti Gugur Bunga, Selendang Sutera, Bandung Selatan di Waktu Malam juga mengisahkan perpisahkan gadis dengan kekasih yang berangkat berjuang, tanpa bisa dipastikan kapan kembalinya.

Lagu satire atau sindiran juga populer di masa kemerdekaan ini. Ibu, Aku Tak Sudi Tukang Catut mengisahkan gadis yang jijik dengan tukang catut, merugikan perjuangan.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini