Demonstrasi dan Jejak Puisi

Almarhum Munir, pejuang HAM, dalam kata pengantar untuk buku puisi Wiji Thukul yang berjudul “Aku Ingin Jadi Peluru”, menulis “Sebagai seorang aktivis dan seniman rakyat, Wiji Thukul memang dengan tepat menggambarkan keterwakilan kelas sosialnya. Pilihan untuk kemudian bergabung bersama buruh,

Penulis (Sketsa oleh Terakota.id/Fachrurrozi).

Oleh : Yusri Fajar*

Terakota.id-Dalam sebuah surat tertanggal 31 Maret 1966, yang dikirimkan kepada Goenawan Muhamad yang baru tiba di Eropa, kritikus sastra H.B. Jassin menceritakan bagaimana penyair Taufik Ismail terlibat aktif dalam berbagai demonstrasi mahasiswa dan turut “berjuang dengan puisi”. Jassin melanjutkan tulisan dalam suratnya bahwa kumpulan sajak Taufik Ismail yang berjudul “Tirani” yang distensil tercipta dari situasi demonsrasi itu.

Kita membayangkan pada konstalasi politik saat itu seorang sastrawan sekaligus aktivis yang menyuarakan aspirasi dan kritiknya pada penguasa. Salah satu puisi Taufik Ismail yang merepresentasikan peristiwa perlawanan atas tirani bertajuk “Salemba”: Almamater, janganlah bersedih/Bila arakan ini bergerak perlahan/menuju pemakaman siang ini/anakmu yang berani/telah tersungkur ke bumi/ketika melawan tirani. Sejarah bangsa Indonesia tak bisa dipisahkan dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat.

“State apparatus” bersenjata itu dalam berbagai demonstrasi menjadi alat membungkam bahkan melumpuhkan mereka yang berdemonstrasi. Peserta unjuk aspirasi terluka bahkan hingga kehilangan nyawa demi menuntut penguasa untuk memperhatikan keadilan, kesejahteraan, kedaulatan negara, dan berbagai perubahan yang lebih baik.

Pada Mei 1998 demonstrasi mahasiswa yang menginginkan reformasi berhadapan dengan aparat bersenjata hingga beberapa mahasiswa tertembak mati. Beberapa aktivis mahasiswa dan pergerakan diculik, dipenjara, bahkan hingga kini ada yang tak diketahui rimbanya. Salah satunya adalah penyair Wiji Thukul yang dikabarkan hilang sebelum kecamuk Mei 1998 di mana kerusuhan besar meluluhlantahkan kota Jakarta. Para aktivis dan mahasiswa yang merupakan kaum intelektual yang punya tanggung jawab untuk mendorong dan mengawal perubahan harus berhadapan dengan senjata dan gas airmata.

Mengingat kembali peristiwa Mei 1998, kita bisa mengenang kembali demonstrasi yang para mahasiswa Universitas Trisakti yang di dalamnya dihiasi pembacaan puisi. Dalam konteks demonstrasi, puisi bisa menyuarakan aspirasi dan mewakili suara hati para peserta demonstrasi dengan kekuatan puitik yang terkandung dalam puisi. Diksi yang kuat dan tajam, dalam susunan baris-baris dengan rima yang menghasilkan bunyi musikal serta dengan muatan pesan yang kritis bisa memberikan sentuhan pada hati dan menggugah pikiran.

Dalam sebuah rekaman audio visual pembacaan puisi di aula Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, 9 November 1989, Wiji Thukul terlihat membaca puisi penuh penghayatan dan dengan wajah ekspresif. Di dalam puisinya itu kita bisa mendengar suaranya membacakan bagian puisi: Apa guna banyak baca buku/kalau mulut kau bungkam melulu/di mana-mana moncong senjata/berdiri gagah kongkalikong  dengan kaum cukong.  Sebagai penyair yang tidak mau menghabiskan waktu hanya menulis puisi di dalam rumahnya, Wiji Thukul dikenal sebagai penyair yang terlibat aktif dalam dinamika kehidupan bangsa ini. Puisi adalah salah satu senjatanya melawan tirani, selain pemikiran dan daya kritisnya. Melalui Jaringan Kesenian Rakyat (JAKER) Wiji Thukul menegaskan keberpihakan dirinya dan juga kesenian pada rakyat yang tertindas.

Almarhum Munir, pejuang HAM, dalam kata pengantar untuk buku puisi Wiji Thukul yang berjudul “Aku Ingin Jadi Peluru”, menulis “Sebagai seorang aktivis dan seniman rakyat, Wiji Thukul  memang dengan tepat menggambarkan keterwakilan kelas sosialnya. Pilihan untuk kemudian bergabung bersama buruh, dan kaum miskin lainnya dalam sebuah semangat yang semakin menguat, bahwa segala bentuk kemiskinan itu bukanlah semata-mata hadiah dari Tuhan, akan tetapi peluang dan kesempatan itu telah dilahap oleh kekuasaan politik dan modal.”

Kesan dan pendapat Munir ini makin menegaskan sosok Thukul yang berpuisi dengan memotret realitas yang penuh ketimpangan dan penindasan. Puisi dalam dunia proses kreatif Wiji Thukul dengan demikian bukan semata susunan kata-kata penuh metafora dengan bentuk yang memesona namun yang lebih penting dari itu adalah bagaimana puisi itu merepresentasikan realitas sosial politik dan mampu membangun kesadaran kritis. Wiji Thukul yang hingga hilang tak kembali  dan Munir yang mati karena kritis pada penguasa dan memperjuangkan HAM telah meninggalkan semangat perjuangan dan juga tulisan.

demonstrasi-dan-jejak-puisi
Penyair Wiji Tukul membaca puisi dari kampung ke kampung. (Foto : DW)

Buku, termasuk buku puisi, yang bisa menggelorakan semangat dan membentuk pribadi seseorang bisa menjadi sumber pengetahuan sebagai bekal pergerakan. Tapi apa gunanya membaca buku namun kemudian kran untuk mengekspresikan aspirasi, yang ide-ide dan prinsipnya bisa digali dari buku, ditutup rapat oleh aparat. Sastrawan peraih nobel Orhan Pamuk dalam novelnya yang berjudul The New Life menarasikan betapa sebuah buku bisa memengaruhi hidup seseorang.

Narator aku dalam novel tersebut dalam pembuka novel mengatakan “Aku membaca buku suatu hari dan seluruh hidupku berubah.” Novelis Leila S. Chudori dalam novelnya “Laut Bercerita” yang mengisahkan penculikan aktivis di tahun 1998 dan novelis Ratna Indraswari Ibrahim dalam novelnya yang berjudul “1998” menceritakan tokoh-tokoh aktivis yang menggumuli buku-buku kritis dan penting seperti karya Pramoedya Ananta Toer dan Karl Marx. Baik Leila maupun Ratna mendeskripsikan bagaimana penguasa Orde Baru dan kroni-kroninya berusaha menekan para aktivis secara represif agar mereka tidak bersinggungan dengan buku-buku tersebut. Para penguasa itu tentu takut dan khawatir jika para aktivis makin kritis dalam menyuarakan ketimpangan sosial ekonomi.

Dalam sebuah aksi keprihatinan nasional untuk mendukung KPK pada senin 2 November 2009, aktivis sekaligus penyair Adhie M. Massardi, membacakan puisinya yang berjudul “Negeri Para Bedebah” yang penggalannya adalah: Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?/Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah/tapi rakyatnya makan dari mengais sampah/atau menjadi kuli di negeri orang/yang upahnya serapah dan bogem mentah/di negeri bedebah/orang baik dan bersih dianggap salah/dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan/menipu rakyat dengan PEMILU menjadi lumrah/karena hanya penguasa yang boleh marah/sedangkan rakyat hanya bisa pasrah.

Puisi Adhie M. Massardi ini hingga kini masih relevan karena kita masih bisa melihat bagaimana penguasa mengambil kebijakan dan tindakan yang menyengsarakan rakyat. Aksi Adhie M. Massardi dan para aktivis lainnya termasuk para mahasiswa itu terkait dengan dugaan kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi. Hingga beberapa waktu yang lalu para elit negeri ini ada yang terjerat korupsi dengan bukti uang melimpah berbentuk dolar hingga rupiah. Uang korupsi itu jika digunakan untuk kesejahteraan rakyat pasti sangat bermanfaat.

Para penyair yang memiliki kesadaran sosial, terlibat aktif dalam menyuarakan keadilan, penegakan hukum, perubahan yang lebih baik, dan pembelaan pada rakyat yang tertindas, melalui puisi-puisi, dan gerakannya berarti telah menunjukkan kepekaan sosial dan kreatifnya. Sejarah akan mencatat penyair dengan kepekaan tersebut tidak hanya terkait hasil kontemplasi personalnya, namun juga keterlibatannya di alam nyata.

* Sastrawan dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini