Wisatawan memotret kebun apel di Kota Batu. (Terakota.id)
Iklan terakota

Terakota.idSugiman, petani apel asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menyemprot tanaman apel untuk mengusir hama dan penyakit. Ia harus ekstra mengendalikan hama dan penyakit untuk menghasilkan buah apel yang segar dan manis. Mulai kutu hijau (Aphis pomi Geer), tungau, spinder mite, cambuk merah (panonychus Ulmi) mengancam tanaman apel.

Pengendalian hama penyakit dilakukan secara ekstra, ia menggunakan beragam jenis pestisida untuk mengusir hama dan penyakit. Ketua Kelompok Tani Makmur Abadi (KTMA) Batu ini menduga hama penyakit dipicu perubahan iklim.

Lantaran tanaman apel tumbuh subur pada suhu 16 derajat celsius sampai 27 derajat celsius. Namun, kini suhu udara di Batu di ketinggia 1.61 meter di atas permukaan laut (m.dpl) terus menghangat, sehingga hama penyakit semakin merajalela. Selain itu, tanaman tak bisa subur dan menghasilkan buah secara optimal. “Dulu mampu menghasilkan 60 ton per hektare, sekarang hanya 20 ton,” katanya.

Sehingga banyak petani apel yang beralih menanam jeruk dan aneka jenis sayuran. Anggota KTMA awalnya 40 orang, kini menyusut hanya menyisakan belasan petani.  Lahan apel banyak yang rusak, katanya, biaya produksi semakin membengkak untuk biaya membeli pupuk dan pestisida alami.

Suhu hangat berdampak pada tanaman apel, terjadi mutasi hama. Kini, hama berkembang biak semakin banyak. Pestisida tak mempan digunakan membasmi hama. Alhasil petani apel memilih pestisida yang daya basmi lebih kuat.

“Terpaksa menambah biaya produksi, untuk beli obat dan penyemprotan. Awal musim hujan begini jamur Gloeosporium mulai mewabah,” kata Sugiman.

Jamur penyebabkan buah apel membusuk, sehingga terus menghantui petani. Dua tahun terakhir, serangan jamur menyebabkan petani merugi. Sehingga produksi buah apel anjlok hingga 20 persen.

“Petani mengantisipasi dengan sering menyemporot obat. Bisa sampai 30 kali selama satu musim. Normalnya 20 kali,” kata Sugiman.

Berbagai problem yang mendera petani apel, membuat mereka bimbang untuk tekun menanam apel. Mereka bingung dengan nasib petani apel kedepan.  “Usia pohon apel sudah 40 tahun. Apakah kita perlu menanam bibit baru? Bagaimana pendanaan? Adakah bibit apel yang cocok dengan suhu sekarang?,” ujar Sugiman bertanya.

Apel segar, langsung dipetik di kebun menjadi sensasi tersendiri berwisata di Kota Batu. (Terakota/Zainul Arifin)

Petani apel sejauh ini diuntungkan dengan wisata petik apel. Lantaran harga cukup kompetitif dan langsung ke pembeli. Apel kualitas bagus per kilogram dijual Rp 20 hingga Rp 25 ribu. Sedangkan, jika dijual ke tengkulak hanya seharga Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per kilogram.

“Petani mengharap pemerintah menyediakan bibit yang adaptif dengan perubahan iklim. Analisis lahan pertanian, atau rekomendasi teknologi baru,” tutur Sugiman.

Luas lahan apel terus menyusut. Semula 1.900 hektare menyusut menjadi 1.600 hektare. Jumlah tanaman apel pada 2010 sebanyak 2.604.829 sekarang tersisa 1,4 juta tanaman. Rata-rata produksi sebanyak 150 ton per bulan.

Suhu Semakin Panas

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu sejak 1998 produksi apel terus anjlok. Produksi apel merosot sejak dua dekade terakhir. Pada medio 2009 sampai 2010, produksi apel berkurang hingga 50 persen. Semula 129.15,2 ton, turun menjadi 84.279,9 ton. Dua tahun berikutnya produksi apel menurun di angka 70 ribu  ton. Semapi naik pada 2013 menjadi 83.891,5 ton. Tahun berikutnya produksi apel kembali turun, hingga menyentuh 23.176,4 ton pada 2020.

Peningkatan suhu udara di Kota Batu terekam di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso. Rata-rata suhu udara di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu) terus meningkat. Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Linda Fitrotul menjelaskan sejak 1990 hingga 2020 terjadi kenaikan antara 0,1 sampai 1,5 derajat celsius.

Kenaikan suhu memicu menurunnya kualitas apel yang diproduksi. Sehingga lahan apel semakin tinggi, menyesuaikan dengan suhu yang ideal untuk tanaman apel. Terutama di ketinggian di atas 1.600 mdpl. Awalnya apel ditanam di sekitar Bumiaji dengan ketinggian 950 mdp, namun suhu terus meningkat sehingga tanaman apel semakin ke atas. “Desa di atas sini pernah dicoba tanami apel. Kurang subur sebab area berkabut,” tambahnya.

 

Peneliti jurusan Pertanian Universitas Pajajaran Ruminta dalam penelitiannya berjudul Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Apel di Batu menyebut terjadi perubahan iklim di wilayah Kota Batu. Ia memaparkan perubahan iklim mempengaruhi produksi apel. Produktifitas apel merosot.

“Tanaman apel tetap produktif dalam batas suhu 22,2 derajat celsius. Selebihnya, angka produktifitas tak lagi naik,”tulisnya.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Malang, Linda Fitrotul menilai kenaikan suhu di wilayah pantau Stasiun Klimatologi Karangploso menandakan indikasi perubahan iklim di area Malang Raya. Namun perlu analisis menyeluruh dalam waktu lama.

“Indikasi perubahan iklim meliputi curah hujan, suhu, kelembaban udara, cuaca. Perlu analisis lebih dalam untuk menyebut Malang Raya mengalami perubahan iklim, indikasi ada,” ujar Linda. 

Ancaman Deforestasi di Malang

nasib-petani-penggarap-lahan-perhutanan-sosial
Erik menunjukkan bilah kayu yang tergetelak di kawasan hutan lindung Sendiki, Tambakrejo. (Terakota/Eko Widianto).

Meski belum ada kajian terpadu terkait perubahan iklim di Malang, Manajer Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Timur Wahyu Eka Setiawan menjelaskan peningkatan suhu dan ketidakjelasan pola musim hujan dipengaruhi perubahan iklim. Selain itu, juga terjadi deforestasi di Malang sebagai menyokong pengaruh perubahan iklim di Malang Raya.

“Mulai 2001-2020, hutan di Kabupaten Malang hilang sekitar 9.004 hektare. Berada di kawasan pegunungan dan pesisir selatan,” kata Wahyu. Selama rentang 20 tahun itu, Kota Batu kehilangan 348 hektare tutupan hutan. Hilangnya hutan turut menyusutnya peran pengikat (sequestrasi) karbon.

“Dampaknya lepasan atau emisi karbon meningkat. Deforestasi jadi sumber terbesar kedua emisi karbon dioksida atmosfer setelah pembakaran bahan bakar fosil,” kata Wahyu.

Kawasan hutan di Provinsi Jawa Timur seluas 1,3 juta hektar, seluas 1,1 juta hektare di antaranya dikelola Perum Perhutani. Perum Perhutani KPH Malang mengelola kawasan hutan seluas 90.360 hektar. Terdiri atas hutan lindung 44.140 hektar dan hutan produksi 46.195 hektar. Secara administratif tersebar di Kabupaten Malang, Kota Batu dan Kabupaten Kediri.

Data Global Forest Watch menunjukkan sepanjang 2001 hingga 2020 di Malang Raya kehilangan 9 ribu hektare tutupan pohon. Pada 2000, sekitar 63 persen wilayah Malang Raya, merupakan tutupan pohon.  Terdiri dari tutupan pohon 240 ribu hektare dan non hutan 143 ribu hektare.

Komandan Ranger sekaligus Juru kampanye Protection of Forest and Fauna (PROFAUNA) Erik Yanuar menyebut pembalakan masif justru terus berlangsung di hutan lindung Sendiki, Tambakrejo, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. “Kami investigasi dan gali informasi. Kami Temukan ada empat cukong,” katanya.

Pembalakan dilakukan dini hari, menggunakan gergaji mesin. Pohon terlebih dahulu dibakar, dikupas kulitnya atau diracun agar mati. Lantas kayu ditebang dan dipotong berbentuk balok ukuran 12 senti meter x 2 meter sampai 5 meter.  Beragam jenis kayu hutan dijarah, diolah menjadi bahan mebel untuk kemudian dijual ke perusahaan mebel di wilayah Batu, dan Pakisaji.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini