Dedikasi untuk Kaset Pita

Sebanyak 13 musisi indie Malang meluncurkan album mereka dalam format kaset pita. Ditambah album kompilasi bertajuk Cassette Store Day Compilation. Usaha para musisi patut diapresiasi, melihat proses produksi rumit dan tak murah. Apalagi saat ini marak pembajakan lagu dan karya musik.

Pecinta kaset pita berburu lagu kesayangan di Cassette Store Day. (Terakota.id/Yogi Fachri Prayoga).

Reporter: Yogi Fachri Prayoga

Terakota.id—Komunitas musik di Kota Malang menggelar Malang Cassette Store Day. Sebuah agenda tahunan, kali ini masuk tahun ke lima. Agenda ini tak ubahnya forum penting bagi musisi, record label, toko musik, dan pendengar musik di Kota Malang. Tidak hanya bernostalgia dengan kaset pita yang jamak diproduksi di tahun 1980 sampai 1990. Format ini juga menjadi bukti sejarah perkembangan indurstri musik di tanah air.

“Even ini juga untuk mengenalkan kepada generasi muda mengenai sejarah industri musik di Indonesia. Mulai dari tahap recording, penggandaan, dan distribusi kaset pita. Itu ilmu yang harus diketahui generasi hari ini,” ujar panitia penyelenggara Widjaya akhir pekan kemarin.

Sebanyak 13 musisi indie Malang meluncurkan album mereka dalam format kaset pita. Ditambah album kompilasi bertajuk Cassette Store Day Compilation. Usaha para musisi patut diapresiasi, melihat proses produksi rumit dan tak murah. Apalagi saat ini marak pembajakan lagu dan karya musik.

Para musisi ini sekaligus menyampaikan protes atas marak pembajakan. Widjaya menyatakan tengah menjaga semangat para musisi untuk terus berkarya. Serta berharap dukungan dari pemerintah untuk memerangi pembajakan.

Hutan Hujan masuk dalam Kompilasi Album Cassette Store Day 2017. (Terakota.id/ Yogi Fachri Prayoga).

Widjaya yang juga pemilik rocknterror label ini mencoba mengilustrasikan skema publishing musik kaset. Sejauh ini, rumah produksi hanya ada di Jakarta, Bandung, Solo dan Surabaya. Pabrik pembuatan kaset hanya tinggal satu di Indonesia, yaitu Sidoarjo. Jika ingin recording analog secara live hanya bisa di Lokananta, Solo. Selama ini teman-teman mengirimkan format digital album selanjutnya rumah produksi mengubah dalam bentuk analog, kemudian diproses dalam bentuk kaset.

“Untuk bahan baku kaset pita kosong kadang kita masih mendapatkan dari label mainstream seperti Akuarius,” ujar widjaya. Keterbatasan bahan baku juga membuat musisi tidak bisa merilis kaset dalam jumlah banyak. Ditambah pasar penjualan rilisan fisik yang juga lesu. Acara seperti ini menjadi usaha bersama pelaku industri musik menciptakan ekosistem musik di Kota Malang.

Sejarah Cassette Store Day International

Cassette Store Day pertama kali dirayakan pada 7 September 2017.  Atas inisiasi group record label di Inggris, DJ Jen Long dari Radio 1 berkolaborasi dengan Steven Rose dari Sexbeat Records & Matt Fladgari, Suplex Cassettes. Mereka merancang even untuk menetapkan hari yang didedikasikan untuk format yang bisa dibilang abadi. Long di laman cassettestoreday.com menjelaskan, meskipun Cassette Store Day terinspirasi dari Record Store Day, Even ini lebih fokus ke perayaan kaset dari pada record store.

Lebih dari 28 toko kaset termasuk Rough Trade Records di London memproduksi kaset edisi terbatas. Sejak itu CSD dilanjutkan dan menyebar ke negara-negara lain Seperti, Burger Records (California) yang mengorganisir semua rilisan di Amerika utara, Balades Sonores (Prancis), VSI (Jepang), Nasty Wizards (Cina), hingga Black Hands records juga mengambil kontrol untuk rilisan di Inggris.

Motorhead, Ramones, Julian Casablancas, Pixies, The Flaming Lips, Courtney Barnett, Green Day, dan Muse adalah musisi yang pernah merilis kaset di CSD. Dengan demikian, CSD telah menjadi arus penting untuk perkembangan musisi itu sendiri.

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini