Oleh : Marliana Eka Fauzia*

Kota Surabaya yang mendapat julukan sebagai kota pahlawan ini memiliki beberapa titik lokasi yang terdapat peninggalan fisik sejarah, salah satunya adalah Kampung  Peneleh. Peneleh merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Genteng. Nama Peneleh sendiri lahir pada zaman Kerajaan Singosari.

Peneleh adalah tempat persemayam pengeran pilihan (pinilih) Putra Wisnu Wardhana yang  memiliki pangkat setara bupati.  Kemudian Wisnu Wardhana diangkat sebagai  pemimpin di daerah antara Sungai Pengirian dan Kalimas (Klipping  Soerabaia Tempoe Doloe, Perpustakaan Medayu Agung : 93).

Salah satu bagian sejarah di Peneleh adalah Makam Belanda, yang merupakan makam tertua di Jawa Timur. Yaitu sejak tahun 1814, dengan nama asli De Begraafplaats Soerabaia. Luas area pemakaman sekitar 4,5 hektar. Menurut penuturan Kepala Makam Belanda, Ahmad Bukhori, kurang lebih 15 ribu jenazah di makam itu mayoritas adalah orang Belanda.

Area pemakaman Belanda tersebut juga berdekatan dengan Sungai Kalimas yang juga memiliki nilai sejarah. Pada abad ke 19 Sungai Kalimas ditetapkan sebagai pelabuhan utama (collegting action) dari serangkaian terakhir pengumpulan hasil bumi di ujung pulau jawa yang terletak pada daerah pedalaman. Selanjutnya diekspor ke berbagai daerah nusantara khususnya Eropa (Handitono dan Samuel Hartono : Vol.35, No ;1, 2007, 89).

Muri, 56 tahun, salah satu warga yang tinggal di area pemakaman sejak kecil, menceritakan bahwa  gerbang uatama Makam Belanda pernah mendapatkan serangan bom pada tahun 1960. Akan tetapi Muri sudah tidak mengingat kembali peristiwa yang melatarbelakangi bom tersebut jatuh di gerbang utama Makam Belanda yang kokoh.

Muri juga menjelaskan bawah setiap makam tidak hanya bersisi satu orang melainkan bisa lebih dari satu orang. Serta ada beberapa keluarga mengambil jenazah yang berada di makam Belanda Peneleh, lalu di pindahkan ke Belanda. Ada juga keluarga dari Belanda yang mengambil lalu membakar jenazah tersebut di pemakaman Kembang Kuning Surabaya, setelah proses pembakaran abu tersebut dibawa ke Belanda.

Maka dari itu tidak heran apabila mengunjungi makam Belanda di Peneleh terdapat makam-makam yang berlubang,karena jenazah sudah diambil keluarganya. Menurut Fahmi aziz, salah satu pekerja di makam Belanda, hampir 30 persen jenazah diambil oleh keluarganya. Meskipun ada jenazah sudah diambil dan berdampak pada kondisi makam yang berlubang, hal itu tidak melunturkan nilai sejarah Makam Belanda di Peneleh.

Marliana Eka Fauzia (Dokumen Pribadi)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini