Daging Kurban Berbukus Besek yang Ramah Lingkungan

SMP Negeri 3 Kota Malang mulai tahun ini mengganti bungkus daging kurban dengan besek. Selama bertahun-tahun menggunakan tas kresek. (Terakota/Eko Widiantio)

Terakota.id–Usai salat Idul Adha, puluhan siswa meriung di halaman Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Kota Malang. Belasan ekor kambing mengembik dan enam ekor sapi berjajar di samping sekolah yang terletak di Jalan Cipto Kota Malang. Sedangkan sejumlah guru dan tukang jagal siap dengan sebilah pisau untuk menyembelih hewan kurban.

Suara takbir bergema, satu per satu hewan kurban disembelih. Usai disembelih, para guru dibantu siswa memisahkan kulit dengan daging dan tulang. Lantas, giliran sekitar 70 siswa dan siswi yang bekerja. Memotong dan menimbang daging kurban antara 1,5 kilogram hingga 2 kilogram.

Kain terpal dibentang di lapangan bola basket, para siswa duduk bersimpuh. Berbaris, sesuai dengan tugas masing-masing. Mulai memisahkan tulang dengan daging, memotong dan menimbang daging hingga mengemas untuk siap diedarkan. Mengenakan pakaiam muslim, laki-laki berpeci dan berbaju koko sedangkan perempuan berjilbab dan berpakaian muslimah.

Sejumlah siswa lain membawa besek atau wadah terbuat dari anyaman bambu dari gudang sekolah. Usai ditimbang, daging dibungkus di dalam besek. Besek disusun sesuai jenis daging, dipisahkan antara daging kambing dengan daging sapi.

Mulai tahun ini, sekolah mengganti tas kresek dengan besek. Manajemen sekolah berkomitmen menggunakan wadah yang ramah lingkungan, Lantaran sekolah yang dianugerahi Adiwiyata Mandiri ini berkomitmen segala aktivitas menggunakan prinsip lingkungan hidup.

SMP Negeri 3 Kota Malang menyembelih enam ekor sapi dan 16 ekor kambing. (Terakota/Eko Widianto).

“Tas kresek sulit diurai, besek cepat hancur. Ramah lingkungan,” kata Ketua Panitia Kurban SMPN 3 Kota Malang, Rahman Helmi, Ahad 11 Agustus 2019. Sebelumnya sejumlah guru usul agar daging kurban dibungkus daun jati. Namun, daun jati sulit diperoleh di Kota Malang dan membungkus daging dengan daun jati butuh keterampilan khusus.

Ternyata membeli besek dalam jumlah besar di pasar tradisional tak mudah. Pedagang kesulitan memasok dengan jumlah besar dan waktu yang cepat. Sehingga, harus membeli langsung ke perajin di Ngajum, Kabupaten Malang. “Membeli 750 biji besek,” katanya.

Besek seharga Rp 2.500 per biji. Jika dihitung secara ekonomi, tas kresek lebih murah dan praktis. Namun, dalam jangka panjang merusak lingkungan. Selain itu, beralih menggunakan besek juga bagian dari pendidikan lingkungan kepada siswa sejak dini.

Wadah besek, katanya, akan digunakan tahun depan dan seterusnya. Daging kurban diwadahi besek tahun ini, katanya, merupakan permulaan yang baik. Perubahan perilaku, sejumlah panitia beralih menggunakan wadah besek menguntungkan perajin. Para perajin besek di Jalan Pesantren Desa Talunsono, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang mengaku penjualan besek melonjak.

Panitia penyembelihan hewan kurban beralih menggunakan besek. Perubahan wadah daging kurban menguntungkan perajin besek. (Terakota/Abdul Malik).

“Pesanan meningkat,” kata perajin besek, Sukarsih. Selama ini, ia memasok besek untuk perajin tape di Bondowoso dan sekitarnya. Sejak dulu, sampai sekarang tape Bondowoso diwadahi besek. Selain itu, sejumlah panitia Idul Adha memesan khusus untuk wadah daging kurban.

Setiap pekan, ia memproduksi 100 biji besek. Sebagian untuk memenuhi kebutuhan hajatan pernikahan. Dulu, hajatan pernikan selalu menggunakan bungkus besek. Namun, sesuai perkembangan zaman berubah makanan dan kue dibungkus kardus.

Pindidikan Religi dan Ekologi Sejak Dini

Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur Purnawan D Negara mengapresiasi sekolah yang merevitalisasi nilai ekologi dengan religi. Membungkus daging kurban dengan besek yang ramah lingkungan memiliki makna ekologi dan religi.

“Tak hanya retorika, tapi ini guru juga mengajarkan dalam gerakan nyata. Dalam kehidupan sehari-hari,” katanya. Sedangkan selama ini pendidikan agama termasuk di sekolah, 80 persen mengajarkan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Habluminallah. Padahal nilai Islam juga mengajarkan habluminannas. Hubungan manusia dengan manusia lain.

Besek, katanya, menjadi sebuah relasi sosial antar manusia. Menggunakan besek berarti membantu meningkatkan perekonomian perajin besek. Selain itu, besek mudah diurai sehingga tak mewariskan sampah kepada anak cucu. “Ada keseimbangan. Besek bagian dari pengajaran agama Islam,” katanya.

Dalam kisahnya, kata Purnawan, Nabi Muhammad sendiri sangat ekologis. Setiap langkah dan aktivitas diukur dampaknya dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Berkurban menggunakan wadah besek, katanya, bakal mendapat dua pahala sekaligus. Yakni pahala atas ibadah kurban dan pahala lagi atas menyelamatkan lingkungan. Ada nilai ekologi yang ditanamkan. Berkorban untuk menyelamatkan lingkungan.

Para siswa SMP Negeri 3 Kota Malang bergotong royong memotong daging kurban. (Terakota/Eko Widianto).

Pendidikan ekologi dan religi yang dilakukan SMP Negeri 3 Kota Malang diharapkan ditularkan kepada sekolah lain. Agar tahun depan berubah, tak menggunakan tas kresek untuk membungkus daging kurban tapi beralih menggunakan wadah besek atau daun jati. Selain itu, juga mendidik para pelajar agar peduli lingkungan sejak dini.

Purnawan yang juga dekan Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang meminta pemangku kebijakan mengeluarkan aturan agar aparatur dalam bertindak sesuai prinsip lingkungan hidup. Agar gerakan peduli lingkungan hidup berjalan bersama-sama lintas sektoral. ”Sama seperti Bupati dan Wali Kota mengimbau pegawai pemerintah untuk salat berjamaah,” katanya.

Pimpinan, kata Purnawan, selalu menjadi panutan. Dalam masyarakat paternalistik, selalu dibutuhkan pemimpin yang bisa menjadi teladan. Sehingga Bupati dan Wali Kota bisa menunjukkan ketaladan secara ekologi. Lebih indah, katanya, jika semua berbasis religi. Menjaga lingkungan merupakan kewajiban umat muslim. Jika umat muslim tak ambil bagian, akan menjadi masalah bagi lingkungan.

Wali Kota Malang Sutiaji berkomitmen mengurangi sampah plastik. Kini, mulai mengimbau kegiatan di pemerintahan Kota Malang dilarang menggunakan air minum kemasan plastik. Selain itu, semua wadah plastik dikurangi. “Sebelumnya sudah ada peraturan wali kota. Namun, dianulir Gubernur Jawa Timur karena harus ada aturan di atasnya yang kuat,” katanya.

Para siswa SMP Negeri 3 Kota Malang mengemas daging kurban ke dalam wadah besek. (Terakota/Eko Widianto).

Sedangkan untuk pembungkus daging kurban, Sutiaji mengeluarkan imbauan kepada panitia penyembelihan hewan kurban mengganti tas kresek dengan bungkus yang ramah lingkungan. Seperti dibungkus daun atau besek. “Bentuknya imbauan, tak ada sanksi,” katanya.

Senada dengan Wali Kota Malang, Pelaksana Tugas Bupati Malang Sanusi mengaku sebatas mengeluarkan imbau melalui kepala bagian pembinaan mentan (Bintal). Agar panitia penyembelihan hewan kurban menggaanti tas kresek membungkus daging. Lantaran tas kresek baru bisa diurai di alam sekitar 500 tahun.

“Bisa pakai besek atau daun jati, sebagai pengganti kresek,” katanya. Dulu, masyarakat di Kabupaten Malang membagikan daging kurban dibungkus dengan daun jati. Lebih sehat dan daging lebih enak. Lantaran daging saat dikirim ke penerima kering. Berbeda dengan bungkus tas kresek, daging menjadi basah.

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini