Citra Perempuan dalam Karya Pramoedya Ananta Toer

“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Terakota.id–Petikan dialog ini terjadi antara Minke dan Nyai Ontosoroh, di penghujung novel Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer. Dialog ini muncul setelah serangkaian daya upaya yang telah dikerahkan oleh Minke dan Nyai Ontosoroh untuk mempertahankan permata terakhirnya, Annelies Mellema, menuai kegagalan. Di hadapan kolonial, seorang Nyai tidak punya hak apa-apa. Termasuk terhadap anak yang lahir dari rahimnya. Annelis Mellema dipaksa meninggalkan ibu dan suaminya ke negera asal mendiang ayahnya, Belanda.

Minke merupakan tokoh utama dalam tetralogi Pulau Buru. Sedang, Nyai Ontosoroh adalah perempuan pribumi yang dijadikan gundik oleh seorang Belanda totok, Tuan Administratur, Tuan Besar Kuasa bernama Herman Mellema. Perempuan itu dulunya bernama Sanikem. Sang Ayah yang dikuasai ambisi lantas menjualnya kepada Herman Mellema. Tanpa lebih dulu mempertimbangkan kesediaan Sanikem.

Lalu, Sanikem yang lugu, perempuan yang lahir dari rahim perkawinan yang sah, jadilah seorang Nyai. Ketika masa kolonial Hindia-Belanda, Nyai ialah perempuan yang tidak dinikah secara sah tapi punya tanggungjawab, kewajiban dan diperlakukan layaknya seorang istri. Ia tidak tumbang meskipun telah menjadi seorang Nyai. Ia juga tidak limbung di tengah mata sinis kolonialisme.

Sanikem yang lugu, justru bertransformasi menjadi perempuan pembelajar yang kuat. Ia membacai buku-buku dan majalah di habitat barunya. Bahasa Belanda juga berhasil ia kuasai. Perusahaan perkebunan kepunyaan Herman Mellema ia kelola dengan baik. Minke dalam Bumi Manusia, menyebut Nyai Ontosoroh mampu mengelola perusahaan secara Eropa.

“Maka malam itu aku sulit dapat tidur. Pikiranku bekerja keras memahami wanita luar biasa ini. Orang luar sebagian memandangnya dengan mata sebelah karena ia hanya seorang nyai, seorang gundik. Atau orang menghormati hanya karena kekayaannya. Aku melihatnya dari segi lain: dari segala apa yang ia mampu kerjakan, dan segala apa yang ia bicarakan,” kekaguman Minke pada perempuan yang mengaku tidak pernah bersekolah itu (Lihat Bumi Manusia hal. 105).

Dalam novelnya yang lain, Gadis Pantai, Pram juga menampilkan sosok perempuan yang tidak biasa. Si Gadis merupakan putri dari seorang nelayan yang dinikah oleh seorang bangsawan. Ia rakyat jelata yang hanya bergeser status sebagai istri bangsawan. Lambat laun ia menyadari, bahwa ia tak lebih dari perabot rumah tangga. Justru di gubuk reyot milik orang tuanya, Si Gadis dapat merasakan dirinya sebagai manusia.

Sampai akhirnya, feodalisme memaksanya menelan kegetiran. Ia diceraikan dan dikembalikan oleh suaminya. Bahkan, ia dipaksa berpisah dengan bayi yang baru ia lahirkan. Bagi kalangan bangsawan, menikah dengan perempuan jelata adalah sarana latihan sebelum pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan sesama bangsawan.

Membaca Perempuan dalam Karya-karya Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya selalu meniupkan roh yang menantang dalam diri setiap srikandi yang ada pada karyanya. Termasuk dalam Gadis Pantai dan petralogi Bumi Manusia seperti di atas. Savitri Scherer dalam bukunya, Pramoedya Ananta Toer Luruh dalam Ideologi (hal.112), mengatakan bahwa potret Gadis Pantai sendiri tidak hanya tajam, tetapi juga revolusioner.

“Dengan membuat sang tokoh perempuan, yang berasal dari lingkungan biasa, menolak tunduk pada kelas yang berkuasa, dan mempertanyakan keadilan atas hak-hak yang dinikmati kelas tersebut, cerita ini mencerminkan ide-ide sosial radikal yang bangkit saat memanasnya udara sosial pada paruh pertama 1960-an,” tulis Savitri Scherer.

Kritikus Sastra asal Jerman dan telah lama menetap di Indonesia, Katrin Bandel, menjawab beberapa pertanyaan dari Terakota.id melalui pesan elektronik. Pertanyaan seputar perempuan dalam karya-karya Pramoedya. Menurutnya, tokoh perempuan sering sangat penting dalam karya Pram, misalnya Nyai Ontosoroh dan Gadis Pantai. Hanya saja, menurutnya, apakah dengan demikian Pram mempersiapkan “soal-soal keperempuanan”, itu pertanyaan agak sulit.

“Saya rasa, Pram biasanya menggunakan tokoh perempuan untuk mempersoalkan relasi kuasa yang lebih luas, misalnya kolonialisme dan feodalisme. Bukan secara khusus atau terbatas bicara tentang identitas perempuan dan relasi gender,” jelas Katrin, penulis buku Sastra, Perempuan, Seks (2006).

Ia menambahkan bahwa tokoh perempuan dalam karya Pram sering cerdas dan kuat. Ia mencontohkan Nyai Ontosoroh dan Gadis Pantai. Menurut Katrin, meskipun mereka berada di posisi yang direndahkan, sebagai nyai dan sebagai selir, mereka tidak tunduk pada ideologi yang dibawa sang tuan (pasangan mereka).

Katrin memberi contoh bagaimana Gadis Pantai tidak tergoda untuk menjadi bangga karena dirinya ‘naik kelas’. Tapi Gadis Pantai justru merindukan dan membela kalangan darimana dia berasal, yaitu nelayan. Hal ini bisa dilihat dari penamaan tokoh dengan nama Gadis Pantai dengan tanpa menyebut nama lainnya. Bagi Katrin bisa saja kita mempertanyakan penggambara yang dilakukan Pram. Misalnya bagaimana bisa seorang gadis nelayan bisa sekuat dan semandiri itu dalam pemikiran dan pendiriannya.

“Tapi sebagai sebuah utopia, dalam arti karakter positif yang menarik diteladani, tokoh tersebut cukup mempesona. Dalam Bumi Manusia Nyai Ontosoroh Ketertindasan perempuan sering terkait dengan status legalnya dalam sistem masyarakat yang timpang. Nyai Ontosoroh tidak punya hak apa-apa sebagai nyai, dan bahkan dianggap beda ras dan beda status dengan anaknya sendiri. Demikian pun Gadis Pantai yang dipisahkan dari bayinya,” terang Katrin.

Deskripsi tokoh perempuan dalam karya-karya Pramoedya mempunyai tujuan yang spesifik. Ia menjadi alat bagi Pram untuk mengkritik kolonialisme dan feodalisme. Berdasar penjelasan Katrin, hal itu punya potensi lebih untuk menyentuh hati pembaca. Dalam sebuah wawancara seputar tetralogi, menurut Katrin, Pram pernah mengatakan bahwa dirinya sengaja memulai karya besarnya yang berkisah tentang sejarah itu dengan sebuah kisah cinta. Misalnya, cinta antara Minke-Annelies di Bumi Manusia. Tujuannya, kalangan muda menjadi tertarik untuk membacanya.

“Artinya, disadari bahwa kisah cinta atau perjodohan yang melibatkan trauma perempuan, seperti Annelies yang mengalami pemerkosaan, atau Nyai Ontosoroh yang “dijual” untuk menjadi pasangan orang Belanda, menjadi menarik dibaca, menyentuh emosi, sehingga pembaca bisa diajak memasuki renungan kritis di situ,” terang Katrin.

Pramoedya Ananta Toer memang bukan sastrawan yang mangkhususkan diri menulis tentang perempuan. Namun, jika dijelajahi, kita akan bertemu dengan banyak perempuan di dalam karya-karyanya. Lengkap dengan landai terjal kehidupan mereka. Selain tetralogi Bumi Manusia dan Gadis Pantai, ada banyak lagi karya pram yang meramu kenyataan tentang perempuan dan ideologi menjadi cerita fiksi yang mengagumkan. Diantaranya: Larasati, Midah Si Manis Bergigi Emas, dan Calon Arang. Ia juga menulis buku yang membela perempuan, Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer dan Panggil Aku Kartini Saja, misalnya.

Dalam Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, Pram menyuguhkan kekejaman fasisme Jepang yang menjadikan perempuan-perempuan Indonesia sebagai budak seks. Perempuan-perempuan Indonesia layaknya barang. mereka dikirim kepada para tentara Jepang di garis peperangan sebagai alat pemuas. Sedang di dalam Panggil Aku Kartini Saja, Pram menggugat penilaian terhadap Kartini yang telah lama mapan.

Sebagaimana ditulis Savitri Scharer (2012: 96), menurut Pram, Kartini justru merupakan korban kebijakan “etis” pemerintah kolonial. Ide-ide progresif Kartini, menurut Pram, lebih disebabkan oleh tanggapan Kartini sendiri. Yaitu tanggapan terhadap hierarki dan adat diskriminatif lingkungan feodalnya. Bukan oleh pertukaran ide dengan teman-teman progresif Eropanya.

“Pramoedya dengan tegas menekankan kemuliaan pikiran dan jiwa Kartini, dan ‘menyepelekan’ asal kebangsawanan Kartini. Evaluasi Pramoedya mengenai peran Kartini dalam masyarakat Indonesia sangat maju,” tulis Savitri (2012:99).

Karya monumental Maxim Gorki, sastrawan Rusia, dan berbicara ihwal keterlibatan perempuan dalam revolusi juga memikat Pram. Bagi Pram karya Gorki ibarat orang mengguncang tiang-tiang sebuah rumah sampai goyah. Novel Ibunda pun ia terjemahkan dari versi Belandanya.

“Novel ini tidak saja bisa menjadi inspirasi bagi para perempuan Indonesia untuk menolak bersikap pasrah terhadap kemandegan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan,” terang Melani Budianta dalam pengantar novel Ibunda (2002: xiv).

Sebagaimana dinarasikan ulang oleh Melani, penerjemahan dan penerbitan ulang novel Ibunda punya arti tersendiri bagi diri Pram. Yaitu memberikan penghargaan pada Ibu yang tidak pernah dihargai.

Tinggalkan Balasan