Citra Gendis, Mencegah Kekerasan dalam Rumah Tangga dengan Membatik

citra-gendis-batik-mencegah-kekerasan-dalam-rumah-tangga
Yuliani dan Jamilah menorehkan malam dalam canting di atas kain. Batik tulis merekatkan perempuan di Gondanglegi. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Duduk bersimpuh, Yuliani dan Jamilah kompak. Tangan kanan memegang canting elektrik dan sebelah kiri membentangkan kain putih. Tangan mereka meliuk menorehkan malam dalam canting di atas kain putih. Canting bergerak mengikuti pola yang digambar di atas kain. Sesekali mereka berdialog, membincang mengenai keluarga dan komunitas membatik.

Sejak 2016 Yuliani bersama sesame pegiat perempuan mendirikan kelompok perajin batik Citra Gendis. Beranggotakan 45 orang tersebar 14 desa di Kecamatan Gondanglegi. Kini, omsetnya mencapai 45 juta. Termasuk Jamilah yang bergabung untuk menambah pendapatan keluarga. Membuka toko kelontong belum bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam sebulan omset penjualannya mencapai Rp 4 juta. Keuntungan membatik sekitar 50 persen. Kolompok membatik solid, saling menguatkan dan rutin menggelar pertemuan. “Selalu ada ilmu baru. Jika ada pengetahuan baru selalu ditularkan dalam pertemuan,” kata Jamilah.

Selain itu, pertemuan juga membahas masa depan batik yang didirikan para pegiat perempuan tersebut. Sambil mengumpulkan lembaran batik hasil karyanya, mereka juga membincangkan dan mendapingi teman sesama perempuan.

Sekitar 80 persen anggota perajin batik Citra Gendis merupakan korban kekarasan dalam rumah tangga (KDRT).  Yuliati mengumpulkan satu per satu, untuk memberikan bekal keterampilan sekaligus membuat mereka berdaya. Merdeka secara ekonomi dan mampu memunuhi kebutuhan hidup sendiri. Termasuk keluarga.

Yuliati merupakan kader Tim Penggerak PKK sering berinteraksi dengan sama perempuan. Ia kerap menjadi pelarian korban kekerasan, untuk sekadar cerita atau meminta bantuan. “Ada yang datang dengan wajah penuh lebam. Kenapa? Mereka menangis lantas menceritakan semua masalahnya,” katanya.

Sebagai sesama perempuan, perempuan asal Desa Putat Kidul Kecamatan Gondanglegi ini tergerak untuk membantu sesama. Selain itu, ia juga turut merasakan sakit yang dialami teman sesama perempuan. Pengusaha batik yang berwiraswasta sejak 2014 ini termotivasi mengentaskan perempuan dari masalah kekerasan dalam rumah tanggan.

Beragam batik tulis dan echoprint karya perajin Citra Gendis Gondanglegi. (Terakota/Eko Widianto).

“Saya ajak berkarya. Menghasilkan uang, tanpa mengandalkan suami. Yang penting halal,” katanya. Kini, mulai banyak yang merespons tertarik bergabung dan menjadi solusi kemelut keluarga yang dialaminya. Sebetulnya, kata Yuliati, banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan. Namun mereka malu melaporkan.

Korban kekerasan memilih memendam masalah sendiri, dan tak menceritakan kepada orang lain. Mereka lebih memikirkan anak dan keutuhan keluarga. Sekaligus menatap masa depan keluarga. “Jika lapor polisi, suami dipenjara. Masalah menjadi berlipat,” katanya.

Perempuan Tangguh dan Mandiri secara Ekonomi

Yuliati membekali ibu korban KDRT dengan keterampilan. Beragam kekerasan yang dialami mulai kekerasa psikis hingga fisik. Suami menyiksa istri. Menurutnya ada dua faktor penyebab kekerasan, yakni faktor ekonomi dan perempuan idaman lain.

Setelah ditunjang penghasilan tambahan, kadang suami tak lagi melakukan kekerasan. Keluarga menjadi lebih harmonis. Yuliati merasa lega jika melihat keluarga temannya harmonis. “:Tak bisa diceritakan. Itu kebanggaan sekaligus kepuasan tersendiri,” katanya.

Namun ada juga teman yang berkecukupan namun sering mengalami kekerasan. Luka lebam di wajah selalu hadir saat bertemu. Korban bercerita jika kerap menerima tamparan dari sang suami. Tapi tak berani lapor ke polisi, demi menyelamatkan keutuhan keluarga.

Geliat membatik di kalangan perempuan Gondanglegi dimulai Yuliati sejak menjadi pengurus Koperasi Wanita pada 2010. Selama itu, tak banyak kegiatan berarti. Lantas ia mengajukan proposal pelatihan membantik ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang.

Pada 2014 digelar pelatihan yang diikuti 25 anggota koperasi, namun hanya tiga orang yang melanjutkan usaha membatik. Lantas secara swadaya ia mengumpulkan perempuan di Gondanglegi untuk belajar membatik. Yuliati bertindak sebagai pelatih.

Swadaya, mereka membeli kain sepanjang dua meter. Pelatihan membatik dilangsungkan selama empat hari. Yuliati juga belajar ke perajin batik Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Ia terus memutar usaha memproduksi batik tuis. “Saat itu dijual seharga Rp 200 ribu per lembar,” katanya.

Namun, saat rombongan dari Kementerian Perdagangan kain batik yang diproduksinya dibeli seharga Rp 700 ribu. Yuliati bersujud syukur, dan membelanjakan semua uang yang dihasilkan mengembangkan usaha yang dirintisnya. Kini, omset penjualannya mencapai Rp 10 juta per bulan.

Perajin batik di Gondanglegi ini memiliki motif khas yakni buah gondang dan tebu. Motif ini dijadikan ciri khas lantaran nama Gondanglegi berasal dari buah gondang yang rasanya pahit dengan tanaman tebu yang manis. Menjadi nama Gondanglegi. Sedangkan pewarnaan dilakukan secara eksperimental. Ia menggunakan warna alami dan sintetis sekaligus.

Batik tulis karya perajin Citra Gendis, sebagian besar perajin merupakan korban Kekerasan dalam Rumah Tangga. (Terakota/Eko Widianto).

Warna alami dihasilkan dari berbagai tanaman, daun dan kulit kayu. Proses pewarnaan lama dan susah. Selain itu pewarna alami juga susah. Ia berburu ke pelosok desa di Gondanglegi.

Mulai akar mengkudu, kulit ketepeng menghasilkan warna merah, kulit mahoni menciptakan warna kecoklatan, daun jati menjadi merah, kulit secang menghasilkan kain berarna merah muda, tegaran membuat kain berwarna kehitaman, sabut kelapa menghasilkan warna coklat dan jambal menghasilkan warna coklat tua.

“Bahan baku tersedia di alam. Tapi susah mencari ke pelosok desa,” katanya. Setiap kilogram kulit mahoni misalnya, direbus dengan air 10 liter hingga menyisakan sepertiga air. Lantas kain direndam semalam dan direbus.

Untuk menghasilkan kain batik tulis dibutuhkan proses selama tujuh hari.  Kain batik tulis berbahan katun yang menggunakan warna alami dijual seharga  Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta. Tergantung warna, motif dan tingkat kesulitan. Sedangkan batik tulis berbahan sutera dijual seharga Rp 2 juta.

Semua kain batik yang dihasilkan dikumpulkan. Mereka menjual bersama-sama melalui jaringan yang terbangun secara daring. Serta melalui kunjungan dari daerah lain. Bahkan, ia mengaku kewalahan memenuhi kebutuhan konsumen. Lantaran kunjungan ke rumah perajin mendadak dan banyak.

Kini, mereka juga menyediakan echoprint bermula dari uji coba. Pelanggan juga berdatangan dari berbagai daerah. Tanpa menawar harga, mereka kadang langsung membayar. Hingga kini, mereka belum pernah mendapat bantuan alat dan permodalan. Mereka membangun usaha secara mandiri.

“Butuh alat pencelupan, dan meja untuk mendesain lebih besar,” katanya. Namun, ia bersyukur bersama-sama perempuan tangguh yang menjadi gerakan mencegah kekerasan dalam rumah tangga. Citra Gendis juga bakal membuka galeri untuk memamerkan produknya. Harga batik tulis yang dihasilkan bervariasi. Mulai Rp 200 ribu sampai Rp 2 juta.

Jumlah Korban KDRT Meningkat

Direktur Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak Nusantara (Kopatara) Hikmah Bafaqih mengapresiasi langkah Yuliati. Menurutnya komunitas membatik menjadi saling menguatkan. Mereka senasib, memiliki kesetiaan. Mereka juga bisa berkaca dengan persoalan yang lain. Membandingkan masalahnya lebih ringan dibanding orang lain.

“Penting self healing. Dari diri sendiri dengan bantuan komunitas menjadi cara paling cepat,” katanya. Namun, perlu didampingi. Membantik, katanya, juga langkah positif karena harus tekun dan berkonsentrasi. Menjadi salah satu saluran untuk menyelesaikan masalah. Mengalihkan sementara perhatian agar melupakan masalah yang dihadapi.

Korban kekerasan yang tak memiliki saluran, biasanya hanya diam. Buntu tak ada aktivitas yang mengalihkan masalah. Kondisi ini berbahaya jika tak diurai. Jika korban tak bisa marah kepada pelaku, biasanya dialihkan ke anak. Jika tak bisa ke anak dan suami biasanya menyakiti diri sendiri.

“Komunitas membatik baik untuk mengalihkan perhatian dari masalah yang dihadapi,” katanya.

Kopatara melakukan berbagai langkah untuk menangani perkara KDRT. Mulai dari usaha pencegahan melibatkan konselor untuk parenting dan bertemu komunitas. Serta melakukan edukasi dengan berbagai program yang melibatkan para pihak. Selain itu, juga memberikan advokasi kepada korban. Menangani korban KDRT yang datang atau telepon.

Selain itu, juga memberi layanan pendampingan hukum, mediasi, problem solving dan trauma healing. Untuk menanganinya bekerjasama dengan beberapa Rumah Sakit dan Perguruan Tinggi. Juga rehabilitasi ekonomi dengan bantuan permodalan, peralatan dan pelatihan keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan.

KDRT merata, katanya, terjadi di kawasan perkotaan dan pedesaan. Latar belakangnya mulai masalah ekonomi, hingga perselingkuhan. Kekerasan rumah tangga dianggap persoalan privat, sehingga menghambat penanganan. “Fenomena gunung es, di permukaan kecil tapi bisa sewaktu-waktu meledak,” katanya.

Korban menganggapnya sebagai persoalan privat sehingga pihak lain tak bisa mengakses termasuk layanan hukum, dan konseling. Persoalan rumah tangga, katanya, muncul karena masalah kehidupan, sulit ekonomi sehingga memmunculkan konflik.

“Tantangan kehidupan sosial kuat, rumah rangga rapuh,’ katanya. Masalah rumah tangga muncul dari segala sisi. Jika relasi yang terbangun antar anggota rumah tangga tak baik, maka berpotensi menimbulkan kekerasan.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga di Kabupaten Malang meningkat. Catatan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Malang 2017 sebanyak 46 kasus. Pada 2018 meningkat menjadi 61 kasus. Selama dua tahun tercatat 107 kasus KDRT yang ditangani Polres Malang.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini