Cerita tentang Cerita

Ilustrasi: vectorstock.com

Terakota.id–Salah satu poin yang saya bawa pulang dari membaca Sapiens: A Brief History of Humankind (2014) karya Noah Yuval Harari adalah tentang arti penting cerita sebagai faktor pembeda utama antara manusia cerdas (homo sapiens) dan makhluk hidup yang lain. Manusia memiliki kemampuan berabstraksi, yang tidak dimiliki hewan atau tumbuhan. Salah satu manifestasi dari kecerdasan abstraksi tersebut adalah dalam kemampuan mereka menganggit cerita, juga memodifikasi dan mewariskannya dari generasi ke generasi.

Konon, kemampuan manusia berabstraksi ini dimungkinkan oleh fakta bahwa manusia memiliki daya berbahasa yang kompleks, yang lagi-lagi tidak dimiliki oleh makhluk lain, bahkan oleh makhluk semulia malaikat. Itulah sebabnya, demikian menurut kisah alkitabiah, beberapa malaikat tidak suka dan dengki. Mereka memprotes keras Tuhan dan lantas memberontak sehingga dibuang ke kerak neraka.

Begitulah, realitas manusia atau, lebih tepatnya, bagaimana manusia memahami dunia sangat ditentukan oleh bahasanya. Tidak ada realitas di luar bahasa, demikian dalil Derrida. Tanpa bahasa, manusia hanya akan melihat dunia as is (secara ontologis), dan itu artinya dunia tidak bermakna baginya. Dengan bahasa, manusia memandang dan memahami dunia dengan suatu kacamata dan perspektif. Dengan bahasa, manusia memberi makna pada benda-benda dan pada dirinya sendiri. Dengan bahasa, manusia menguasai dan mengolonisasi dunia.

Hewan, misalnya, tidak memiliki bahasa yang sekompleks manusia, sehingga realitas mereka pun amat terbatas pada masalah-masalah subsisten dan immediate. Dan mereka tidak dapat mewariskan pengetahuan di luar pengetahuan instingtif mereka kepada anak-cucu mereka, sehingga anak harimau akan tetap menjadi seperti induknya. Cucu harimau tidak akan lebih cerdas daripada nenek-moyangnya. Begitu pun gajah, yang konon merupakan hewan dengan ingatan paling hebat, tidak dapat mengakumulasi pengetahuan lintas-generasi. Mereka tidak akan pernah mengenakan pakaian secara mandiri; beberapa dari mereka memakai zirah perang, tetapi manusialah yang mengenakannya pada tubuh mereka.

Cerita

Kembali ke topik seputar ‘cerita’. Setiap peradaban manusia, baik yang oleh standar tertentu dianggap sebagai peradaban yang agung dan maju maupun peradaban yang dipandang sederhana dan primitif selalu memiliki cerita. Cerita itu ditemukan, diciptakan, (seringkali) didokumentasikan secara lisan dan tertulis, dipentaskan, didaraskan, dan, pendeknya, dikisahkan ulang oleh generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda. Cerita seperti itu bisa mewujud sebagai mitos; juga dalam manifestasi-manifestasi kebudayaan yang lain, seperti sistem kepercayaan, mata pencaharian, sistem perbintangan, dan semacamnya.

Menurut saya, terdapat beberapa fungsi ‘cerita’ bagi kelompok. Yang pertama, cerita menjadi sebuah warisan non-bendawi yang berfungsi sebagai pengikat soliditas kelompok. Di sini, agar soliditas kelompok terbangun dan terpelihara, cerita pada umumnya membantu suatu kelompok atau komunitas membedakan diri, atau istilahnya mendiferensiasi diri, mereka dari kelompok atau komunitas lain. Tentu saja, ini dilakukan sambil menghidup-hidupkan keyakinan bahwa kelompok mereka adalah kelompok yang terpilih, lebih hebat, lebih jaya, lebih baik dan murah hati, dan seterusnya. Soliditas suatu kelompok biasanya lebih kokoh manakala mereka dihadapkan atau diperbandingkan dengan kelompok lain.

Contoh dari cerita yang berfungsi sebagai pengikat soliditas kelompok adalah kisah-kisah kepahlawanan patriotis. Setiap bangsa dan negara di dunia ini dapat dipastikan memiliki satu atau lebih kisah kepahlawanan patriotis, yang mengisahkan para pahlawan yang mengorbankan diri mereka bagi nilai-nilai yang dianggap luhur oleh kelompok, atau yang membela kelompok mereka dari penindasan kelompok lain. Para pahlawan itu biasanya dikisahkan gugur dalam usaha mereka menentang lawan (atau yang dibayangkan sebagai lawan) dari kelompok. Cerita-cerita kepahlawanan mereka akan dituliskan dalam sejarah bangsa, diperingati dalam hari nasional, dan seterusnya. Cerita-cerita itu akan dikisahkan dan digunakan untuk mempererat soliditas kelompok, setiap kali dianggap penting.

Contoh lain dari cerita yang punya fungsi pengikat soliditas adalah cerita babad, atau genealogi, atau asal-usul suatu kelompok atau komunitas. Bisa dikatakan bahwa setiap kelompok selalu ingin dilihat unik dan khas, dan mereka memiliki cerita terkait asal-usul keberadaan nenek-moyang mereka. Kisah dalam Kitab Kejadian dari Perjanjian Lama adalah kisah genealogis bangsa Abrahamaik, Babad Tanah Jawi adalah cerita asal-usul orang Jawa, La Galigo adalah cerita asal-muasal orang Bugis, dan seterusnya.

Cerita-cerita itu dibangun dan dikisahkan, bahkan dikanonkan, agar tumbuh soliditas di dalam kelompok yang mempunyainya. Dan, cara kerjanya pun kurang-lebih mirip satu sama lain. Agar soliditas internal tumbuh, perlu disadari kekhasan diri mereka sebagai kelompok yang distingtif (dan superior) dari kelompok lain. Dengan kata lain, cerita genealogis menegaskan dua adagium: (1) kelompok kita adalah kelompok yang paling awal ada di muka bumi, dan (1) agar kita lebih kompak, kita perlu menciptakan musuh bersama.

Fungsi cerita yang kedua adalah sebagai sebuah pedoman perilaku dan etis. Cerita tidak pernah berhenti menjadi kisah yang diwariskan begitu saja. Di dalam cerita, terkandung ajaran yang secara implisit dan tidak langsung dapat dipetik. Tentu saja, untuk dapat memeras ajaran dari cerita, sudah selayaknya dibutuhkan pemahaman akan sejarah atau konteks cerita, selain juga pengetahuan naratologi yang memadai. Dengan demikian, ajaran yang dipetik tidak semena-mena semau si penafsir. Ada ruang yang terbuka bagi pembelajaran, tetapi ruang itu bukan lantas nirkonteks dan bebas sebebas-bebasnya.

Di sinilah letak tegangannya. Cerita menawarkan ruang tafsir yang cukup luas sekaligus memungkinkan penempatan dengan konteks tertentu, atau relevansinya dengan suatu masa dan ruang tertentu. Ketika kita saat ini di Indonesia membaca atau menikmati kisah Mahabharata, misalnya, kita dapat memetik ajaran dari pengorbanan seorang pemimpin saat negeri sedang dilanda bencana seperti dilakukan Puntadewa. Ketika kita membaca perikop dari Alkitab tentang Yesus yang menyembuhkan orang kusta, kita dapat menarik ajaran tentang bagaimana seseorang yang memiliki kemampuan dan kekuasaan semestinya berempati dan membantu yang lemah dan terpinggirkan, secara khusus pada masa pandemi sekarang ini.

Tentu saja, cerita tidak menawarkan standar moral dan etis yang baku, yang dapat dengan seketika itu juga diaplikasikan dalam beragam situasi. Cerita tidak sama dengan peraturan yang ditempel di kantor kecamatan, bahwa kita, misalnya, harus memakai masker, mencuci tangan terlebih dulu, dan menjaga jarak ketika ingin bertemu Pak/Bu Camat. Hal yang diminta dari kita bisa jadi sama, tetapi cara keduanya menyampaikan hal yang sama tersebut berbeda; dan yang diminta kita untuk sampai ke sana juga berbeda.

Fungsi ketiga dari cerita adalah untuk mengisi masa luang dan menghibur diri. Setiap orang pada mulanya adalah pencinta cerita. Bahkan kehidupan setiap orang, mulai dari penciptaannya sampai pada ketiadaannya lagi, pada dasarnya adalah cerita atau bisa diceritakan. Kalau kita memelihara jurnal harian atau diari, yang sebenarnya kita tuliskan di sana adalah cerita hidup kita. Sejak kecil, kita pun gemar mendengar dan mencipta cerita. Kita bermain-main dengan imajinasi kita, dengan lingkungan kita dan mengubahnya sesuka kita. Kita suka duduk di pangkuan ayah-bunda kita untuk mendengarkan cerita atau dibacakan cerita dari buku.

Obsesi kita pada cerita terus berlanjut sampai sekarang; meskipun banyak orang yang, setelah dewasa, merasa atau mengaku tidak lagi menggemari cerita. Bisa jadi itu benar, jika yang dianggap sebagai cerita, secara sempit, adalah karya sastra semacam novel. Tidak setiap orang senang membaca novel, atau punya waktu untuk itu.

Beberapa mungkin sama sekali tidak kenal dengan sastra, sebagai suatu bidang, karena mereka dibesarkan tanpanya atau mereka memang kurang memiliki kecenderungan alamiah ke sana. Tetapi, setiap orang mendengarkan cerita dan menjadi bagian dari cerita itu. Bahkan, dalam ajaran agama yang kita anut, cerita adalah bagian yang esensial. Kehidupan para nabi, rasul, syuhada (yang jelas merupakan cerita) selalu menarik dan mengilhami.

Mungkin memang benar, kita hidup di panggung sandiwara. Dan apakah sandiwara, selain cerita yang terpentaskan? Dengan kita semua menjadi aktor dan aktrisnya?

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini