Cerita Museum di Desa

Oleh : Bachtiar Djanan*

Terakota.id–Kisah ini bermula dari penemuan-penemuan benda pra sejarah secara tidak sengaja oleh Bapak Dakri. Warga Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Penemuan berupa tulang-belulang yang diduga hewan prasejarah. Kali pertama ditemukan pada 1987. Bapak Dakri adalah orang desa biasa pada umumnya, sehari-hari menghidupi keluarga dengan mencari kayu di hutan atau memancing di sungai.

Awalnya temuan benda pra sejarah itu disimpan di rumah. Suatu saat temuan-temuan itu dilaporkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal. Tapi jangankan dihargai, saat itu pejabat Dinas pendidikan menganggap temuan itu hanya tulang-belulang babi hutan.

Tapi Bapak Dakri tak surut semangatnya. Ia dan keluarganya, dibantu beberapa tetangganya antara lain Duman, Sunardi, dan Ansori untuk mengumpulkan dan merawat benda bersejarah itu. Mereka beryakinan bahwa temuan-temuan itu merupakan sesuatu yangsangat bernilai, dan perlu dilestarikan.

Sehingga mereka terus mengumpulkan aneka tulang-belulang, yang mereka dapatkan di sungai, hutan, tebing bebatuan, di sekitar Desa Semedo. Masyarakat desa pun kebanyakan mencemooh, Bapak Dakri dan teman-teman, sering dianggap sebagai orang gila.

Pada 2005, LSM Gerbang Mataram menemui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal.  Akhirnya penemuan itu mendapat respon positif. Mulailah dilakukan eskavasi dan penelitian di Desa Semedo oleh Balai Arkeologi Yogyakarta maupun oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

Aneka koleksi fosil purba di rumah Bapak Dakri Desa Semedo, Kecamatanan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Foto Bachtiar Janan).

Namun geliat ini ternyata mengalami pasang surut. Sempat beberapa tahun vakum,  tak ada aktivitas eskavasi baik pihak pemerintah, maupun tim Bapak Dakri sendiri. Bahkan akhirnya tinggal Bapak Dakri seorang diri yang tidak pernah berhenti untuk mencari fosil.

Bahkan ia nekat menjadikan rumah kayunya yg sederhana sebagai museum mini. Dengan segala keterbatasan dan kondisi yang serba darurat.

Pada 2011, Bapak Dakri menemukan fosil manusia purba homo erectus, yang kemudian menghebohkan jagat dunia purbakala. Setelah diidentifikasi diperkirakan fosil ini berasal dari 700 ribu tahun silam. Semenjak itu, penelitian mengenai situs Semedo makin gencar dilakukan. Penelitian dilakukan peneliti dari beberapa Negara.

Pada 2015, pemerintah memutuskan membangun Museum Situs Semedo, dengan anggaran sebesar Rp 49 miliar. Direncanakan 2018 ini pembangunan Museum Semedo tuntas, dan temuan fosil purba Bapak Dakri dipindah, diteliti, dan dipajang di museum megah. Museum berdiri di tengah Desa Semedo, dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti laboratorium purbakala, perpustakaan, bahkan beberapa rumah dinas untuk peneliti.

Bapak Dakri di rumah tinggal yang merangkap berfungsi menjadi museum fosil. (Foto : Bachtiar Janan).

Total temuan Bapak Dakri di sekitar Desa Semedo berjumlah lebih dari 5.000 buah. Berupa fosil penyu, ikan hiu, kerang, gajah purba, badak, rusa, babi, kuda nil, gorilla raksasa, sampai fosil manusia purba homo erectus dan berbagai peralatan batu milik manusia purba. Sampai saat ini telah teridentifikasi setidaknya temuan ada fosil yang berusia 1,2 juta tahun.

Bapak Dakri sang penemu fosil, awalnya dianggap sebagai orang gila. Latar belakang pendidikan rendah, dan kondisi perekonomian keluarga serba kekuarangan. Kini ia bisa berlega hati karena telah menuai hasil atas perjuangan selama 30 tahun. Perjuangannya tak sia-sia. Museum Situs Semedo impiannya tinggal selangkah lagi terwujud.

Museum akan menjadi warisan maha penting bagi dunia pendidikan, ilmu pengetahuan, maupun sebagai rekam jejak penting bagi sejarah peradaban nusantara.

*Pegiat musik dan ekowisata

 

Tinggalkan Balasan