Celengan Terakota : Jejak Arkhais Tradisi Menabung pada Anak dalam Keluarga

Patung-patung terakota dalam ukuran kecil hingga sedang, yang antara lain berbentuk celeng cukup banyak diketemukan di situs Trowulan. Arca-arca terakota yang dulu dikumpulkan oleh Ir. Maclaine Pont itu kini sebagian diantaranya menjadi benda koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM, Museum.Trowulan). Menilik adanya sebuah lobang berbentuk garis horisontal di bagian atas (punggung)-nya, maka amat mungkin artefak ini konon difungsikan sebagai wadah uang tabungan untuk jenis uang logam (gobog, coin), khususnya bagi anak-anak.

Celengan Terakota : Jejak Arkhais Tradisi Menabung pada Anak dalam Keluarga

Oleh: M. Dwi Cahyono*

“Bang beng bung,
Yok kita ke bank
Bang bing bung
Yok kita nabung
Tang ting tung hey
Tau-tau kita dapat untung”.

 

Sepenggal syair lagu anak-anak berjudul “Menabung” ciptaan Titiek Puspa pada medio 1970-an. Lagu yang pernah dipopulerkan oleh Santi Sardi lantas oleh Saskia dan Grofanny ini memuat ajakan untuk membiasakan menabung sedari usia dini, semenjak anak-anak.

Mengapa Dinamai “Celengan”

Menabung tak perlu rumit, tak pelik. Untuk menabung orang tidak harus susah-susah datang ke Kantor Bank, Kantor Pos, ATM atau di tempat lain yang terpisah dari rumah. Namun, cukup meski hanya di dalam rumah sendiri. Tempat menabungkan uang bisa pada apa saja. Batang bambu, kaleng bekas, tanah liat bakar (terakota) dalam bentuk tertentu, dapat dijadikan sebagai wadah uang tabungan. Yang penting, uang tersimpan aman, cukup rahasia, dan tidak gampang diambil apabila tidak amat perlu.

Masyarakat Jawa acapkali menamai kegiatan menabung dengan ‘nyelengi’. Wadah tabungannya disebut dengan ‘celengan’. Kedua istilah ini berkata dasar ‘celeng’, yakni sebuatan untuk babi peliharaan ataupun babi hutan. Pada bahasa Jawa Kuna juga didapati kata “celeng”, yang menunjuk kepada babi. Kata jadian “pacelengan” dipakai untuk menyebut tempat pemeliharaan babi (Zoetmulder, 1995:172). Istilah tersebut terdapat dalam kitab Adiparwa (84.14), Tantu Panggelaran (109.28) maupun pada prasasti Bali (Goris 83f.IV:5) dan prasasti-prasasti Jawa Kuna (OJO 83.7b, 8a; OV 1922. 4A dan 5a;).

Babi dengan tubuh yang umumnya kegemukan dijadikan sebagai “simbol kesuburan dan kekayaan”. Oleh karena itu, dapat dipahami bila makhluk jadi-jadian pencuri uang dimitoskan dalam wajud ‘babi ngepet’. Konon, figur babi (celeng) itulah yang seringkali dipilih sebagai figur bagi wadah uang tabungan, sehingga mucul sebutan lazim “celengan” terhadapnya. Yang menarik, ternyata di Eropa maupun Amerika, wadah tabungan uang juga banyak yang berfigur babi, sehingga bisa difahami terdapat sebutan “piggy bank”. Ini merupakan suatu fenomena “independent invention”.

Pada masyarakat pengkonsumsi daging babi, kekayaan suatu keluarga antara lain diindikatori oleh seberapa banyak babi yang dipelihara. Bahkan, denda dalam sangsi adat acap dirupakan dalam sejumlah babi. Oleh karena itu, kandang babi menjadi hal penting selain kandang ayam, kandang itik, kandang sapi, kandang kuda, kandang kerbau, dsb. Dalam konteks ini, wadah tabungan (celengan) diibaratkan dengan kandang babi (pacelengan), yakni sama-sama merupakan tempat mrnyimpan harta kekayaan.

Potong (sembelih) babi dalam suatu pesta pun menjadi cermin kemewahan kuliner. Pada sisi lain, sebagai binatang menyusui (mamalia), babi merupakan sejenis binatang yang terbilang kaya akan anak, mudah berkembang biak, sebagaimana tercermin pada jumlah punting susu babi betina. Berkat kelahiran anak babi (genjik) dalam jumlah banyak, berarti kekayaan pemiliknya menjadi bertambah, mengingat harga jual babi tidaklah murah.

Akar Tadisi Menabung

 

Celengan Terakota koleksi M. Dwi Cahyono (Foto : M. Dwi Cahyono).

Patung-patung terakota dalam ukuran kecil hingga sedang, yang antara lain berbentuk celeng cukup banyak diketemukan di situs Trowulan. Arca-arca terakota yang dulu dikumpulkan oleh Ir. Maclaine Pont itu kini sebagian diantaranya menjadi benda koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM, Museum.Trowulan). Menilik adanya sebuah lobang berbentuk garis horisontal di bagian atas (punggung)-nya, maka amat mungkin artefak ini konon difungsikan sebagai wadah uang tabungan untuk jenis uang logam (gobog, coin), khususnya bagi anak-anak.

Benda khas ini merupakan salah sstu kelengkapan di lingkungan rumah tinggal, yang berdasarkan lokasi temuan, yakni di Trowulan — konon merupakan ibukota (kadatwan) Majapahit, maka penggunanya adalah anak-anak di lingkungan warga dalam (watek i jro, margga/wargga i jro) keraton. Tergambar bahwa di keluarga bangsawan Majapahit anak-anak telah dibiasakan untuk menabung. Dengan demikian, setidaknya tradisi menabung pada usia dini telah hadir di Nusantara semenjak masa Hindu-Buddha, setidaknya pada masa keemasan Majapahit.

Dalam perkembangan selanjutnya, celengan dari bahan terakota tidak sebatas berfigur babi (celeng), namun memiliki beragam bentuk, baik aneka buah ataupun binatang. Buah labu misalnya, merupakan bentuk celengan terakota yang konon banyak dibuat oleh para pekriya gerabah. Figur-higur binatang lain yang juga banyak diminati adalah ayam, harimau, gajah, dsb. Dengan ragam bentuk yang mudah dikenal dan familier tersebut, diharapkan pertama figurnya diminati oleh anak-anak, dan lebih lanjut diikuti oleh minatnya untuk menabungkan uang ke dalamnya.

Dahulu ketika institusi perbankkan yang kapitalistik belum memasyarakat, terdapat banyak pekriya gerabah yang memproduksi wadah tabungan, Dijual di pasar atau dijajakan secara berkeliling, utamanya ketika tengah berlangsung acara yang menghadirkan keramaian. Perajin gerabah dari Malo misalnya, terbilang produktif dan amat mobile dalam menjajakan produk seni kriya gerabahnya, yang antara lain berupa wadah tabungan figuratif, hingga jauh ke luar daerah, bahkan sampai ke seberang pulau. Celengan produk Malo itu pernah amat diminati khalayak.

Selain wadah tabugan dari terakota, terdapat pula tabungan dari seruas batang bambu yang bentuknya menyerupai kentongan dan diberi lobang untuk memasukkan uang logam ataupun lipatan uang kertas. Tabungan yang juga disebut dengan “celengan” meski tak berbentuk celeng ini konon banyak mengisi rumah tinggal warga pedesaan dan keluarga kelas menengah ke bawah. Bahan lain, yaitu kqleng bekas, biasa pula dimanfaatkan sebagai wadah tabungan uang receh. Yang jauh lebih bersahaja berupa kantong kain (pundi) atau cukup ditempatkan pada tindihan tumpukan pakaian pafa rak almari.

Pembiasaan Menabung di Lingkungan Keluarga

Celengan kaleng. (Foto : M. Dwi Cahyono).

Dimanapun tempat dan dalam bentuk apa wadah uang tabungan tidaklah penting. Sesungguhnya, yang lebih penting daripada itu adalah habituality (pembiasaan) dalam hal menabung. Menabung tak sekedar untuk mencari tambahan dalam.bentuk ‘bunga bank’, namun merupakan wahana yang tepat untuk membiasakan berhemat, tidak hidup boros dan konsumtif. Mutiara kata menyatakan “rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya” adalah petuah tentang itu. Meski yang ditabung cuma sedikit, namun seperti kata mutiara bilang “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”.

Data historis diatas cukup mermberi gambaran bahwa tradisi menabung telah memasyarakat di Nusantara semenjak amat lama. Malahan, telah dibiasakan sedari usia dini (kanak-kanak). Mebiasakan atau mentradisikan menabung di rumah, dengan jalan menyisihkan sebagian uang – sekecil apapun – merupakan pembiasaan yang baik, guna melatih berhemat kepada anak-anak, agar tidak cenderung konsumtif.

Pada keluarga petani, sebenarnya tradisi keuarga dalam hal menabung telah terbiasa sejak dulu, yakni tabungan dalam wujud inatura (hasil bumi) di dalam lumbung. Oleh karena itu, tak heran bila tempat sumbangan uang ketika hajatan (buwuhan) dibuat menyerupai miniatur lumbung padi. Namun sayang, kini lumbung-lumbung pada telah banyak yang raib di kalangan petani, sehingga muncul pertanyaan keprihatinan “apakah tradisi berhemat petani mengalami degradasi?”.

Kini wadah tabungan bagi anak-anak kian dibuat beragam, baik bentuk, bahan maupun ornamentasinya. Pilihan untuk bentuk dan ornamen pertimbangkan sesuatu yang familier dan digemari oleh anak-anak, sesuai dengan tren di dunia anak pada zamannya. Ketertarikan pada bentuk dan.ornameb celengan itu bisa menjadi picu bagi anak untuk menbung dan menabung lagi. Nah, tnggal bagaimana orang tuanya menjadikan kemauan baik ini menjadi kebiasaan (habitual) pada diri anaknya.

Bagi anak-anak, perubahan bunyi celengan dari “crik-crik-crik” ke “crek-crek-crek” adalah hal yang menyenangkan, karena menjadi pertanda bahwa uang receh yang ditabungkan mulai penuh. Puncak kesenangannya adalah manakala membuka atau memecah celengan (mbethok).

Suatu momentum dimana keinginan lamanya bakal dapat dipenuhi dengan uang yang ditabungnya sendiri, meski kadang dengan tambahan uang dari orang tua yang jauh lebih banyak. Setidaknya, secara psikologis anak merasa dirinya mandiri, walau sesungguhnya muasal uang yang ditabunginya tak urung dari orang tua atau kerabat orang tuanya. He he he, ancene arek.

Semoga tulisan ringkas dan bersahaja ini membuahkan kefaedahan. Untamanya bagi anak-anak untuk membiasakan diri dalam menabung. “Yok nabung yok nak”. Nuwun.

Sengkaling, 22 Januari 2018
PATEMBAYAN CITRALEKHA

*Arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang

Arkeolog, M. Dwi Cahyono menunjukkan pecahan batu padas bermotif di situs Kelandungan, Malang. (Foto : Viva.co.id)

Catatan:
Foto pernak-penik di rumah. Inspirasi buat tulisan tak usah jauh-jauh. Cukup yang ada di dalam rumah saja

 

Tinggalkan Pesan