Cara Pelaku Wisata Menghadapi Pandemi

cara-pelaku-wisata-menghadapi-pandemi
Beragam produk produksi pelaku jasa wisata yang ditawarkan Rupa Duta. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.idSri Warti Dyah, 66 tahun, menunjukkan aneka kemasan minuman jamu tradisional. Minuman yang dikemas secara sederhana, diproduksi sebulan terakhir. Ia banting stir memproduksi minuman jamu setelah bisnis pariwisata terpuruk sejak masa pandemi corona.

Selama 37 tahun, perempuan yang  akrab disapa Didien ini  menjadi pemandu wisata lepas yang bekerja secara profesional. Spesialisasinya memandu wisatawan asing berbahasa Perancis, namun kadang memandu wisatawan nusantara atau wisatawan asing berbahasa Inggris.

“Sejak akhir 2019 kunjungan turis mancanegara menurun,” katanya. Pandemi Covid-19 memukul sektor pariwisata, ribuan orang di Jawa Timur kehilangan pekerjaan. Mereka terpaksa mencari alternatif penghasilan dengan beragam usaha untuk bertahan hidup. Seperti yang dilakukan Didien.

Ia merupakan satu dari ribuan pemandu wisata yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata lndonesia’ (HPI) Dewan DPC Malang Raya. Sejak masa pandemi, praktis mereka tak mendapat pemasukan. Mereka harus memutar otak mencari sumber pendapatan lain. Untuk menampung hasil produksi

Didien memproduksi minuman herbal, sirup jahe dan sambal skala kecil.  Sebagian dipasarkan ke tetangga, teman dan jaringan kerja saat aktif menjadi pemandu. Runtuhnya bisnis pariwita memicu forum ekowisata Jawa Timur atau East Java Ecotourism Forum (EJEF) mendampingi, menampung dan mendistribusikan produk para anggotanya.

EJEF beranggotakan para pemangku kepentingan ekowisata di Jawa Timur. EJEF menginisiasi berdirinya Rumah Pangan Duta Ekowisata (Rupa Duta) untuk menampung dan mendistribusikan bahan pangan, olahan dan kerajinan yang diproduksi pelaku ekowisata di Jawa Timur.

cara-pelaku-wisata-menghadapi-pandemi
Rupa Duta memasarkan kentang unggulan di kaki Gunung Bromo produksi petani Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang. (Foto : EJEF),

Rupa Duta dikerjakan enam orang, mereka juga salah satu pelaku wisata  yang kehilangan pendapatan akibat pandemi Covid-19. EJEF mengidentifikasi potensi yang ada, seperti produsen oleh-oleh dan makanan olahan yang turut menopang jasa pariwisata.

Manajer Rupa Duta Tri Sulihanto Putra menuturkan Rupa Duta memprioritaskan pelaku usaha wisata yang paling terdampak. Tahap awal dilakukan identifikasi potensi produk yang akan dipasarkan dan menentukan standar produk sesuai dengan kebutuhan pasar. “Prioritas yang paling terdampak dulu,” katanya.

Rumah limasan khas arsitektur Jawa, berdiri di antara rumah berarsitektur modern yang berada di  jalan Sunan Muria II, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Inilah, sekretariat EJEF. Sejumlah pemuda menata barang, memfoto dan menggunggah di media sosial. “Dipasarkan melalui jaringan EJEF, media sosial dan sedang dibangun situs yang menjadi etalase produk,” ujarnya.

Rupa Duta  membantu usaha rintisan dari nol, seperti produk minuman herbal milik Didien. Mulai menentukan standar rasa, desain produk dan kemasan. Namun, untuk produk yang telah mapan akan dihubungkan dengan pasar yang lebih luas.“Disesuaikan dengan pasar, menyasar kelas menengah atas,” katanya.

Ada pula produknya telah mapan, dan memilliki izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT). Namun, perlu diperbaiki desain dan kemasan agar lebih menarik dan layak jual. Seperti ekstrak jahe, kunyit dan temulawak produk olahan desa wisata Ampelgading Kabupaten Malang, “Kemasannya dibenerin, biar layak jual,” ujarnya.

Cegah Usaha Kecil Gulung Tikar

Sementara pelaku wisata di Desa Ranupani, Kabupaten Lumajang juga mengalami nasib yang sama. Selain kehilangan pendapatan di sektor wisata, mereka juga tak bisa memasarkan kentang yang dipanen. Masyarakat di kaki Gunung Semeru ini terpaksa menimbun kentang, lantaran karena tak bisa didistribusikan ke sejumlah daerah sejak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kentang produk Ranupani dipasarkan ke Jakarta dan  Kalimantan. Kentang melimpah dan tak terserap pasar. Selain itu, pengelola wisata alam pantai tiga warna Kabupaten Malang juga memproduksi Virgin Coconut Oil (VCO) dan buah pisang. Harga pisang terus merosot, jika sebelumnya satu tandan pisang kapok dijual Rp 60 ribu turun sampai Rp 45 ribu.

“Sementara di Kota Malang harga satu sisir pisang kepok Rp 35 ribu,” ujarnya. Perajin gantungan kunci dan miniatur papan seluncur banting stir memproduksi gelas berlapis bambu. Selain itu, juga ada produk pangan seperti beras organik, jaruk, ikan kering, dan produk olahan seperti keripik pisang, petis dan terasi. Sementara Rupa Duta memiliki 13 variasi produk.

EJEF, katanya, memiliki aset sosial dan jejaring yang luas dan berada di hampir setiap Kota dan Kabupaten di Jawa Timur. Produk Rupa Duta dipasarkan melalui media sosial dan tengah dibangun sebuah portal khusus yang menjadi etalase produk. Selain itu, juga ditawarkan melalui jejaring EJEF yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Rupa Duta setiap hari ada transaksi sejak beroperasi dua pekan lalu. Transaski dilakukan secara daring dan luring.

cara-pelaku-wisata-menghadapi-pandemi
Pelaku jasa wisata bertahan menghadapi pandemi Covid-19. (Foto : EJEF).

Bersama-sama Rupa Duta dan jejaring EJEF menciptakan pasar baru. Apalagi didukung jejaring dan modal sosial yang kuat. Jaringan meliputi pemandu wisata, praktisi mulai tour operator, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan petani. Semua terdampak. Bagaimana potensi dikumpulkan, bahan mentah dijadikan produk ketemu pasar. Produk yang dipasarkan spesifik bahan pangan, produk olahan yang sehat dan ramah lingkungan.

Produk yang dipasarkan antara lain terasi udang Bu Yani seharga Rp 15 ribu, petis ikan tuna Rp Rp 7 ribu, ikan teri kering 250 gram Rp 35 ribu, kopi blend Panderman Margojoyo 250 gram seharga Rp 40 ribu, kopi robusta semeru Marjo ukuran 200 gram dijual Rp 30 ribu. Selain itu, beragam jenis madu ukuran 200 mililiter Rp 35 ribu sampai Rp 45 ribu, ukuran 500 gram Rp 75 ribu sampai Rp 90 ribu. Juga aneka produk minuman olahan, jeruk, mint, stowberi, lemon kering. Rp 25 ribu- Rp 30 ribu.

Setelah pandemi berakhir, diharapkan para pelaku wisata bisa mengembangkan produk yang telah ada. Apalagi, produk tersebut juga pantas menjadi oleh-oleh bagi wisatawan. Termasuk makanan atau minuman kesehatan. “Setelah pandemic covid-19, masyarakat mulai memperhatikan makanan dan minuman sehat,” katanya.

Model kerjasama dilakukan secara adil dan setara.  Termasuk menentukan harga dan memperbaiki standar rasa dan kemasan. “Produsen mendapat untung lebih banyak. Tapi pengelola juga dapat keuntungan karena mereka juga yang kehilangan pekerjaan,” katanya.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini