Cara Cerdas Mengolah Limbah di Sekolah

Terakota.id–Setiap tamu yang masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 23, Tlogowaru, Kedungkandang, Kota Malang bakal disambut kolam ikan koi. Kolam berlapis kaca ditutup kaca transparan terletak persis di depan pintu masuk. Sehingga siapapun yang hadir pasti melintas di atas kolam. Kaca hanya mampu menahan beban tubuh seberat 80 kilogram.

Air kolam menggunakan limbah air wudhu di musala setempat. Air diolah di instalasi pengolahan air limbah. Selain digunakan media untuk ikan, sebagian air digunakan menyiram tanaman sayuran dan pepohonan yang ditanam di sekitar sekolah. Sekolah didesain ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi yang ada.

Selain itu, juga menyelesaikan masalah lingkungan yang ada di sekitar. Enam siswa SMPN 23 Malang, Niken Ayu Inazah, Ferdy Wildan Pratama, Alviatus Salama, Devy Audytiarahma dan Diva Try Syafielia mendesain dan merancang bangun smart digester. Alat yang digunakan untuk mengolah sampah seresah atau dedaunan yang bertebaran di sekolah.

Ferdy mengaku ide membuat smart digester muncul karena keresahan banyak sampah menumpul di pasar induk gadang. Lokasi pasar tak jauh dari sekolah. Selain itu, sampah daun juga banyak di sekolah. Selama ini sampah organik diolah dengan komposter yang terbuang dari drum plastik.

Proses komposting lama, dibutuhkan waktu sekitar dua bulan sampai menghasilkan pupuk organik atau kompos yang siap pakai. Selain itu, menimbulkan bau yang menyengat. “Bau, menganggu saat proses belajar,” katanya.

Smart Degester mengantarkan siswa SMPN 23 menyabet medali emas dalam kompetisi Innovation Promotion Association (Innopa) kategori lingkungan di Bali September 2018. (Terakota/Eko Widianto).

Lantas tim mencari berbagai jurnal ilmiah tentang komposter. Serta berkonsultasi dengan tenaga ahli dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Budi Slamet Cahyono. Kemudian mereka merancang komposter yang efektif. Terutama agar produksi kompos cepat dan menghilangkan bau yang menyengat.

Ide ini dituangkan dalam sebuah proposal awal 2018. Proposal diajukan dalam ajang kompetisi Indonesian Science Project Olympiad (ISPO). Namun proposal tak lolos seleksi. Justru menyabet medali emas dalam kompetisi Innovation Promotion Association (Innopa) kategori lingkungan di Bali September 2018. Menyisihkan para peserta, sebagian besar kelompok mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Desain smart digester sederhana memanfaatkan kaleng bekas cat tembok 25 kilogram, baskom, pipa air pvc ukuran 2 inchi atau 5 centimeter, dan 1 inchi atau 2,5 centimeter. Panjang pipa disesuaikan tinggi kaleng dan lebar kaleng. Baskom dilubagi kecil untuk memisahkan kompos dengan pupuk cair. Seluruh bahan menghabiskan anggaran sebesar Rp 500 ribu.

Sedangkan pipa diameter 2 inchi berdiri tegak. Sedangkan tiga batang pipa diameter 1 inchi dipasang menyilang di atas dan bagian bawah. Kaleng dilubangi disesuaikan dengan diameter pipa pvc tersebut. Lubang pipa pvc ditutup kasa atau kain halus agar lalat atau serangga tak masuk. Jika lalat masuk, menjadi media untuk bertelur dan menimbulkan belatung sehingga komposting gagal.

Smart digester dilengkapi dengan sensor pH yang dihubungkan dengan arduino yang dilengkapi dengan piranti lunak untuk menerjemahkan data yang diterima dari sensor. Arduino dihubungkan dengan komputer jinjing untuk memantau kadar pH tujuannya untuk menentukan kompos siap atau matang.

Smart Degester menghasilkan pupuk kompos, pupuk cair dan biogas. (Terakota/Eko Widianto).

Proses pembuatan kompos dimulai dengan mencampur sampah organik seberat 10 kilogram dengan lima butir arang aktif. Arang aktif ini yang berfungsi mengendalikan bau. Setelah tercampur merata dimasukkan ke dalam smart digester dan disemprot dengan aktivator berupa effective microorganisms 4 (EM4).

Mereka membuat sendiri EM4 terdiri dari campuran nasi basi, air cucian beras, dan gula. Semua bahan dicampur dan difermentasi selama dua pekan. Hasilnya proses komposting lebih singkat yakni dua pekan, bandingkan dengan komposter konvensional yang harus panen dua bulan.

Smart digester menghasilkan kompos, pupuk cair dan biogas. Alat ini cukup mudah dibuat dan bisa diproduksi massal, cocok digunakan di dalam keluarga. Sehingga setiap keluarga bisa memanfaatkan setiap sampah organik seperti daun, sisa makanan dan sayuran menjadi kompos.

Ferdy mengaku dua kali gagal, alatnya tak bisa menghasilkan kompos. Lantaran komposisi arang aktif dan EM4 tak sesuai dengan ukuran. Mereka kerap melakukan uji coba try and error.

Guru pendamping Ferry Ardianto akan mengembangkan alat ini untuk produksi besar. Tujuannya mengatasi masalah sampah organik di lingkungan sekolah. Ia juga berharap dimanfaatkan skala rumah tangga atau sekolah. “Sudah disampaikan ke Dinas Pendidikan,” katanya.

Proses pembuatan mulai studi literasi sampai pembuatannya membutuhkan waktu selama enam bulan. Bahkan tim harus rela tak libur, sabtu dan minggu tetap ke sekolah untuk merencanakan alat. Mereka kerap pulang sampai pukul 8 malam. Kerja kerasnya ditebus dengan medali emas dalam kompetisi Innopa.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini