Candi Kidal Jadi Inspirasi Lambang Garuda

candi-kidal-jadi-inspirasi-lambang-garuda
Kisah Garudeya tergambar jelas dalam relief candi Kidal. (Terakota/ Abdul Malik).

Terakota.id—Candi Kidal merupakan satu-satunya candi dengan relief yang secara khusus bercerita tentang kisah Garudeya. Serta memiliki gambaran truktural ikonik Garuda paling lengkap dibandingkan dengan candi lain. Keunikan Candi Kidal adalah adanya unsur ajaran Syiwa dan Wisnu sekaligus dalam satu candi.  Di dalam candi terdapat lingga yoni sebagai penanda ajaran Syiwa sementara di dinding luar candi terdapat relief Garudeya sebagai penanda ajaran Waisnawa atau pemuja Wisnu.

Atap candi Kidal tidak dihias dengan ratna sebagai ciri khas dari candi Hindu serta tidak dihias pula dengan stupa sebagai ciri khas dari candi Buddha. Sehingga bisa ditafsirkan Candi Kidal berkarakter sinkretisme antara Syiwa-Wisnu yang dibangun sebagai monumen persatuan nasional. Pemerhati sejarah Cokro Wibowo Sumarsono menyebut sebagai simbol pengayoman terhadap segenap rakyat Singhasari termasuk para pemeluk ajaran Buddha.

“Candi Kidal merupakan monumen persatuan pada masa Singhasari,” katanya. Pada Candi Kidal terdapat relief Garudeya pada ketiga sisi kaki candi. Ketiga relief tersebut adalah Garuda dan para naga, Garuda membawa tirta amerta serta Garuda bersama ibunya yang telah terbebas dari perbudakan Kadru dan para naga.Tertuang dalam riga panil relief Garudeya. Semua terekam jelas di Candi yang terletak di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Pada era Raja Dharmawangsa Teguh (991-1016) telah digubah beberapa bagian daripada kitab Mahabarata diantaranya adalah Adiparwa, Wirataparwa dan Bhismaparwa.  Cerita Garudeya yang menokohkan sang Garuda terdapat dalam kitab Adiparwa. Kisah heroik pembebasan Ibunda sang Garuda dari belenggu perbudakan sebangun dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melepaskan Ibu Pertiwi dari belenggu perbudakan.

Kisah mitologi Garuda merupakan wahana dari Dewa Wisnu. Garuda dimaknai sebagai sang pembebas serta simbol spirit perjuangan yang tak kunjung padam. Bentuk relief Garudeya di Candi Kidal memiliki banyak kemiripan dengan Garuda Pancasila. Beberapa kemiripan ada di paruh yang besar kuat, tajam dan terbuka. Bentuk lidah sama melengkung ke atas. Garudeya berkalung ular sedangkan Garuda Pancasila berkalung rantai dengan mata rantai berbentuk kotak dan bulat.

Keduanya memakai hiasan di dada, Garudeya memakai selempang sedangkan Garuda Pancasila memakai perisai berbentuk jantung. Sama-sama memiliki cakar yang kuat dan besar serta memiliki bentuk sayap yang mirip. Keduanya memiliki arah muka yang sama, menghadap lurus ke kanan.

Sama-sama membawa kain panjang, Garudeya mencengkeram kain selendang sebagai pengikat guci tirta amerta. Sedangkan Garuda Pancasila mencengkeram pita selendang bertuliskan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Urutan arah membaca simbol dalam jantung perisai lambang negara sama dengan arah membaca relief Garudeya secara prasawiya.

Dalam sejarahnya, pemakaian burung Garuda sebagai Lambang Negara diawali pada masa Mataram Kuno era pemerintahan Dharmawangsa Teguh. Pada masa Kahuripan, Airlangga juga menjadikan Garudhamukha sebagai lambang negara. Selanjutnya masa Singhasari relief Garudeya dipahatkan secara resmi pada candi Negara.

Raden Wijaya dan penerusnya menggunakan warna merah putih sebagai bendera nasional. Warna merah dan putih adalah warna kebesaran burung Garuda secara mitologis. Selanjutnya Keraton Ngayogjakarta Hadiningrat juga menggunakan sayap Garuda sebagai lambang keraton.

Panitia Lencana Negara yang dibentuk oleh Presiden Sukarno dengan beranggotakan Muhamad Yamin, Moch Hatta, Sultan Hamid II, Ki Hajar Dewantara, M.A Pelleupesy, Moh Natsir,  Poerbatjaraka dan Doellah adalah sebuah tim kerja yang kolektif berperan merumuskan Lambang Negara. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 1951 tentang Lambang Negara dijelaskan bahwa Garuda merupakan burung mitologi yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia serta terdapat di berbagai candi di Indonesia termasuk di Candi Kidal Malang.

“Sketsa rancangan awal Panitia Lencana Negara gambar Garuda sangat mirip dengan relief Garuda di Candi Kidal,” ujarnya. Berambut ikal atau ngore gimbal, berdiri di atas padma atau bunga teratai, menghadap ke kanan, memiliki bahu, memiliki tangan, memiliki sayap yang mirip dengan penggambaran Garudeya di Candi Kidal.

Sehingga bisa disimpulkan relief Garudeya di Candi Kidal merupakan sumber inspirasi lahirnya lambang Negara Garuda Pancasila. Candi Kidal adalah mahakarya terbaik Singhasari untuk bangsa Indonesia.

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini