Candi Kidal Inspirasi Lambang Garuda Pancasila

Bentuk relief Garudeya di Candi Kidal memiliki banyak kemiripan dengan Garuda Pancasila. Beberapa kemiripan tersebut adalah paruh yang sama-sama besar kuat, tajam dan terbuka. Bentuk lidah sama-sama melengkung ke atas. Garudeya berkalung ulur sedangkan Garuda Pancasila berkalung rantai dengan mata rantai berbentuk kotak dan bulat.

Oleh : Cokro Wibowo Sumarsono*

Candi Kidal merupakan candi tertua langgam Jawa Timuran yang berkesan ramping dan dinamis. Merupakan satu – satunya candi yang reliefnya khusus bercerita tentang kisah Garudeya serta memiliki gambaran struktural ikonik Garuda paling lengkap dibandingkan dengan candi-candi lainnya.

Keunikan Candi Kidal adalah adanya unsur ajaran Syiwa dan Wisnu sekaligus dalam satu candi.  Di dalam candi terdapat lingga yoni sebagai penanda ajaran Syiwa sementara itu di dinding luar candi terdapat relief Garudeya sebagai penanda ajaran Waisnawa (pemuja Wisnu).

Atap candi Kidal tidak dihias dengan ratna sebagai ciri khas dari candi Hindu serta tidak dihias pula dengan stupa sebagai ciri khas dari candi Buddha. Jadi dapat ditafsirkan bahwa Candi Kidal berkarakter sinkretisme antara Syiwa-Wisnu yang dibangun sebagai monumen persatuan nasional serta simbol pengayoman terhadap segenap rakyat Singhasari termasuk para pemeluk ajaran Buddha.

Candi Kidal merupakan monumen persatuan pada masa Singhasari. Pada Candi Kidal terdapat relief Garudeya pada ketiga sisi kaki candi. Ketiga relief tersebut adalah Garuda dan para naga, Garuda membawa tirta amerta serta Garuda bersama ibunya yang telah terbebas dari perbudakan sang Kadru dan para naga.

Candi Kidal adalah candi ruwatan yang khusus menggambarkan kisah Garudeya. Di candi-candi lainnya relief Garudeya bercampur dengan relief- relief cerita yang lain. Tiga panil relief Garudeya di Candi Kidal merupakan panil-panil yang merupakan kunci cerita yang mampu mengungkapkan keseluruhan cerita secara utuh serta merupakan relief paling lengkap tentang kisah Garudeya.

Panitia Lencana Negara yang dibentuk oleh Presiden Sukarno dengan beranggotakan Muhamad Yamin, Moch Hatta, Sultan Hamid II, Ki Hajar Dewantara, M.A Pelleupesy, Moh Natsir, R.M.Ng. Poerbatjaraka dan Doellah adalah sebuah tim work yang secara kolektif berperan dalam merumuskan Lambang Negara. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 tahun 1951 tentang Lambang Negara dijelaskan bahwa Garuda merupakan burung mitologi yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia serta terdapat di berbagai candi di Indonesia termasuk di Candi Kidal Malang.

Sebuah mobil minibus menabrak Candi Kidal. Mengakibatkan pagar jebol dan struktur candi rusak. (Foto : istimewa).

Pada era Raja Dharmawangsa Teguh (991-1016) telah digubah beberapa bagian daripada kitab Mahabarata diantaranya adalah Adiparwa, Wirataparwa dan Bhismaparwa.  Cerita Garudeya yang menokohkan sang Garuda terdapat dalam kitab Adiparwa tersebut. Kisah heroik pembebasan Ibunda sang Garuda dari belenggu perbudakan sebangun dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan Ibu Pertiwi dari belenggu perbudakan. Dalam kisah mitologi Garuda merupakan wahana dari Dewa Wisnu. Garuda dimaknai sebagai sang pembebas serta simbol spirit perjuangan yang tak kunjung padam.

Bentuk relief Garudeya di Candi Kidal memiliki banyak kemiripan dengan Garuda Pancasila. Beberapa kemiripan tersebut adalah paruh yang sama-sama besar kuat, tajam dan terbuka. Bentuk lidah sama-sama melengkung ke atas. Garudeya berkalung ulur sedangkan Garuda Pancasila berkalung rantai dengan mata rantai berbentuk kotak dan bulat.

Keduanya juga sama-sama memakai hiasan di dada, Garudeya memakai selempang sedangkan Garuda Pancasila memakai perisai berbentuk jantung. Sama-sama memiliki cakar yang kuat dan besar serta memiliki bentuk sayap yang mirip sekali. Keduanya memiliki arah muka yang sama-sama menengok lurus ke kanan.

Sama-sama membawa kain panjang, Garudeya mencengkeram kain selendang sebagai pengikat guci tirta amerta sedangkan Garuda Pancasila mencengkeram pita selendang bertuliskan sesanti Bhinneka Tunggal Ika. Urutan arah membaca simbol dalam jantung perisai lambang negara sama dengan arah membaca relief Garudeya yaitu dengan cara prasawya.

Dalam sejarahnya pemakaian burung Garuda sebagai Lambang Negara diawali pada masa Mataram Kuno era pemerintahan Dharmawangsa Teguh. Pada masa Kahuripan, Airlangga juga menjadikan Garudhamukha sebagai lambang negara. Selanjutnya masa Singhasari relief Garudeya dipahatkan secara resmi pada candi negara. Kidal termasuk dalam golongan tempat pendharmaan para raja (dharmahaji). Pada jaman Majapahit

Raden Wijaya dan penerusnya menggunakan warna merah putih sebagai bendera nasional, dimana merah putih adalah warna kebesaran burung Garuda secara mitologis. Selanjutnya Keraton Ngayogjakarta Hadiningrat juga menggunakan sayap Garuda sebagai lambang keraton.

Selain itu pada sketsa rancangan awal Panitia Lencana Negara gambar Garuda sangat mirip dengan relief Garuda di Candi Kidal. Yaitu sama-sama berambut ikal ngore gimbal, sama-sama berdiri di atas padma (bunga teratai), sama-sama menghadap ke kanan, sama-sama memiliki bahu, sama-sama memiliki tangan, sama-sama memiliki sayap yang mirip dengan penggambaran Garudeya di Candi Kidal.

Dari berbagai keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa relief Garudeya di Candi Kidal di Tumpang Malang merupakan sumber inspirasi lahirnya Lambang Negara Garuda Pancasila. Candi Kidal adalah mahakarya terbaik Singhasari untuk bangsa Indonesia.

Cokro Wibowo Sumarsono, pimpinan Padepokan Glugu Tinatar (dok pribadi)

* Pimpinan Padepokan Glugu Tinatar

Tinggalkan Pesan