Cak Durasim Sang Pahlawan

Irama gamelan menggema, lembut khas Jawa Timur. Waranggana atau pesinden tampil memikat, menampilkan tembang bersama. (Terakota/Ahmad Iksan).

Reporter : Ahmad Iksan

Terakota.id–Seorang lakon atau pemeran seni ludruk tampil di atas panggung, bernyanyi dan menyampaikan prolog cerita di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 7 Kota Malang. Usai penyampaikan prolog cerita berlakon Cak Durasim Sang Pahlawan dilanjutkan menari Remo. Awalnya tarian keliling asal Desa Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

Kini, tari remo merupakan tarian pembuka pertunjukan seni ludruk, khas Jawa Timur. Irama gamelan menggema, lembut khas Jawa Timur. Waranggana atau pesinden tampil memikat, menampilkan tembang bersama. Tak lupa kidungan dan parikan juga tampil sebelum ludruk dimulai.

Kisah Cak Durasim dimulai bersama lakon cilik dari kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara. Cak Durasim merupakan seniman ludruk Surabaya, ia melawan narasi propaganda Jepang. Propaganda Jepang menyatakan Jepang sebagai saudara tua bangsa Indonesia. Serta menyampaikan dan akan melepaskan dari belenggu Belanda.

Cak Durasim menilai propaganda hanya rayuan Jepang dan usaha tipu muslihat untuk merayu rakyat Indonesia. Cak Durasim menyampaikan pesan untuk menghindari propaganda melalui kesenian ludruk. Yakni dengan lakon cerita berbentuk perlawanan terhadap penjajah. Ludruk tampil memikat, namun juga berperan mengajak masyarakat agar tak tertipu terhadap rayuan Jepang.

Pertunjukan ludruk yang melawan propaganda Jepang sampai ke telinga Jepang. Cak Durasim menjadi orang yang paling dicari militer Jepang. Pertunjukan luduruk itu merugikan Jepang. Keluarga Cak Durasim teruma istrinya sangat mengkhawatirkan nasib suaminya.

Firasatnya benar, nasib buruk dialami Cak Durasim. Ia ditembak mati oleh tentara Jepang. Meski raga Cak Durasim telah musnah, namun semangat tetap berkobar dan bergelora bersama kesenian ludruk. Melawan dan berjuang untuk bangsa dan Negara.

Yuni salah seorang pelakon berharap kesenian ludruk bisa menjadi media belajar anak muda. Termasuk belajar sejarah perjuangan bangsa. Seperti mengangkat kisah hidup Cak Durasim. Sebagai tokoh perintis seni ludruk, Cak Durasim merupakan seorang pejuang melalui kesenian ludruk.

“Semoga para pemuda setia melestarikan kebudayaan warisan leluhur. Jangan sampai mencintai budaya lain dan melupakan budaya kita sendiri,” kata Yuni, pemeran kakak istri Cak Durasim.  Yuni juga berperan sebagai pembina Ludruk Cilik Pedang Taruna Budaya Surabaya.

Waranggana atau pesinden tampil memikat, menampilkan tembang bersama. Tak lupa kidungan dan parikan juga tampil sebelum ludruk dimulai. (Terakota/ Ahmad Iksan).

Ia tekun mengajari anak-anak untuk turut melestarikan seni ludruk. Pertunjukan dilangsungkan menggunakan bahasa keseharian. “Kita bercerita dan akhirnya mereka mengenal dan mengingatnya.”

“Kalau bukan pemuda siapa lagi yang mempertahakan ludruk,” kata pimpinan Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara, Deden. Kelompok seni yang dipimpinnya ini berdiri sejak 1987. Sampai kini, ia merupakan salah satu kelompok ludruk yang tetap mempertahankan ludruk tobongan. Sementara kelompok lain jarang menggunakan ludruk tobongan.

Ludruk yang digelar tobongan, yang rutin menggelar pertunjukan saban hari. Biasanya berkeliling daerah dalam menyajikan pertunjukan seni tradisi khas Jawa Timur dengan beragam lakon. “Mengumpulkan pemain sekaligus proses regenarasi. Seminggu sekali latihan di gedung THR Surabaya,” katanya.

Sejumlah anak muda juga bergabung dalam kesenian ludruk ini. Pasang surut ludruk ia alami. Bahkan ludruk yang dipimpinnya sempat dihentikan dan bergabung menjadi ludruk juragan. Ludruk, katanya, merupakan kesenian yang luar biasa. Ludruk mempersatukan warga Jawa Timur.

Kisah Cak Durasim dimulai bersama lakon cilik dari kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara. Cak Durasim merupakan seniman ludruk Surabaya, ia melawan narasi propaganda Jepang. (Terakota/Ahmad Iksan).

Salah seorang penonton, Ahadiyah, 19 tahun, mengaku penampilan Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara menarik. Bahkan kisah dan pertunjukannya tak membosankan. “Ceritanya ringkas, namun disuguhkan dengan sangat baik,” ujarnya.

Para pelakon, katanya, bermain dengan profesional sesuai karakter yang dimainkan. Sayang, kata Ahaditah, tak banyak penonton dari kalangan muda. Padahal, penampilan kesenian khas Jawa Timur ini merupakan bagian menanamkan kecintaan terhadap kesenian tradisi sejak dini.

“Sayang tak banyak pemuda yang menonton. Menunjukkan kecintaan terhadap kesenian khas daerah masih sangat rendah.”

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini