Cafe Sawah Malang, Destinasi Bebas Polusi  

Terakota.id–Kabut tipis menyelimuti Desa Wisata Pujon Kidul, Kabupaten Malang Jawa Timur. Beranjak siang, masih berselimut hawa dingin. Berulangkali kedua telapak tangan saling digosokkan dan masuk ke saku jaket untuk melawan hawa dingin. Pijar mentari masih malu-malu berselimut kabut awan.

Di sudut desa, hadir sebuah destinasi wisata baru bernama Cafe Sawah. Lokasinya dikelilingi ladang sayur-mayur terhampar sejauh mata memandang. Area pegunungan dan perbukitan terhampar hijau mengelilingi Café Sawah. Tak heran, udara terasa segar. Kebisingan kendaraan bermotor nyaris tak terdengar. Pengunjung pun betah berlama-lama menikmati percikan surga ini.

Sebuah bangunan mirip pendapa digelari karpet-karpet kecil dan beberapa meja. Semuanya terisi penuh, pengunjung duduk lesehan. Mereka larut dalam perbincangan dan keceriaan. Sekeliling pendapa, tertata apik sejumlah gazebo dan tempat duduk.

Di sudut area didesain sedemikian cantik untuk memanjakan pengunjung berswafoto. Tulisan ‘Desa Wisata Pujon Kidul’ dilengkapi gambar capung dan pegunungan di tengah lokasi langsung menarik mata setiap pengunjung. Perbukitan dan hijaunya hamparan ladang sayur yang menjadi latar belakang tulisan. Menarik setiap pengunjung.

Cafe Sawah berdiri berawal dari obrolan tiga tokoh desa setempat yang tengah duduk menikmati pemandangan di Pendapa Balai Tani Desa Pujon Kidul. Terbersit untuk memaksimalkan pemandangan yang luar biasa itu untuk pemberdayaan desa.

“Duduk di sini tiga orang. Ada Pak Udi Hartoko Kades, Mas Uddy Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), dan saya sendiri. Melihat view yang indah, lalu muncul ide membuat kafe,” kata Ketua Lembaga Desa Wisata, Samsul Hadi, ketika ngobrol dengan Terakota.id.

Pengunjung menikmati bakso dan kopi di tengah keindahan alam. (Terakota/Muntaha Mansur).

Kafe itu pun segera dibangun di atas lahan bengkok Kepala Desa dan dukungan anggaran sebesar Rp 55 juta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Pengelolaan Cafe Sawah secara otomatis juga berada di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bagian Desa Wisata.

“Mempekerjakan 36 pemuda-pemudi desa sini saja. Coba lihat, rata-rata mereka bertato. Karena mereka dulu anak jalanan. Sudah 20 orang tua yang kemari dan berterima kasih anaknya bisa berubah,” ujar Samsul Hadi menjelaskan sembari menunjuk beberapa pekerja Cafe Sawah.

Meski masih berumur sekitar empat bulan, destinasi wisata baru ini telah mendatangkan ribuan pengunjung. Di hari biasa, Senin-Jum’at buka mulai pukul 08.00-19.00, ada kurang lebih 300-400 pengunjung. Sedangkan hari libur, Sabtu-Minggu buka mulai pukul 08.00-22.00, bisa menyedot 1.500-2.200 pengunjung.

“Padahal kami belum promosi, sudah banyak yang datang dari luar kota. Ada dari Riau, Bali, Jakarta, juga Surabaya,” kata Samsul Hadi menjelaskan dengan penuh kebanggaan.

Tidak ada karcis masuk. Pengunjung hanya membayar uang parkir sebesar Rp 2.000. Pengunjung bebas memilih kuliner dengan harga ndeso. Satu porsi bakso cukup membayar Rp 10 ribu. Nasi Jagung dengan sayur pedas, ikan asin, mendol dan urap-urap hanya dibandrol Rp 12 ribu. Minuman semacam kopi ndeso, jahe, susu murni juga siap menemani. Jagung rebus, tahu mercon, pisang landak dan pisang pasir bakal menghangatkan suasana.

“Semua makanan dari masyarakat desa. Pengelola yang menjualkan dengan mengambil sedikit untung,” terang Samsul Hadi. Dengan begitu, pemberdayaan desa bisa berjalan. Ia juga berharap bisa menambah jumlah-jumlah kios yang nanti bisa ditempati warga.

Tahun ini, ada penambahan penyertaan modal atau investasi dari APBDes,  sekitar Rp 150 juta untuk memperluas area Cafe Sawah. “Target kami,  tahun ini Cafe bisa menyumbang pendapatan desa sebesar Rp 100 juta,” ujar Samsul Hadi berharap.

Keberadaan Cafe Sawah ini sekaligus menambah jumlah BUMDes yang dimiliki Desa Pujon Kidul. Sebelumnya, mereka telah memiliki BUMDes berupa HIPPAM, pengolahan sampah terpadu, simpan pinjam, juga agro pertanian.

Data Litbang Terakota.id, gelontoran Dana Desa di Kabupaten Malang, rata-rata jumlahnya mencapai Rp 700 Juta per desa. Anggaran ini berdasarkan total Dana Desa yang diterima Pemerintah Kabupaten  Malang 2017 sebesar Rp 264 Miliar. Dana itu disalurkan ke 378 desa di seluruh Kabupaten Malang.

Salah satu tujuan penyaluran Dana Desa (DD) untuk membangun kemandirian dan ketangguhan ekonomi desa. Sumberdaya yang dimiliki desa, dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk membangun kesejahteraan dan kemakmuran di desa. Bukan, memanggil investor untuk membangun di desa.

Sebagai Desa Wisata Pujon Kidul telah menorehkan prestasi. Pada 2016, mereka terpilih menjadi 10 Desa Wisata terbaik tingkat nasional. Homestay berbasis komunitas yang dikelola Desa Wisata ini juga menarik. Pengunjung tidak hanya dimanjakan untuk tidur atau menginap. Mereka juga bisa ikut aktivitas bertani, memerah susu, atau memasak di dapur tradisional.

Jangan khawatir, meski berada agak jauh dari pusat kota. Desa Wisata Pujon kidul ini cukup mudah aksesnya. Dari pusat Kota Batu, ikuti arah Jalan Raya Batu-Kediri sampai ketemu dengan bundaran patung sapi Coban Rondo. Dari situ, sekitar 50 meter ada jalan agak besar , ada pohon ringinnya, masuk ke kiri. Lurus saja kurang lebih 3 kilometer sampai ketemu Balai Desa Pujon Kidul dan belok kanan. Cafe Sawah ada di situ.

 

Tinggalkan Balasan