Burung Rangkong Penyebar Bibit Kehidupan

Burung kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris) di atas pepohonan Cagar Alam Pulau Sempu. (Foto : PROFAUNA).

Terakota.id–Pulau Sempu menjadi surga bagi burung rangkong atau juga dikenal burung enggang. Burung dengan ciri paruh besar berwarna kuning gading dan bersayap hitam ini bakal menarik perhatian siapapun yang melihatnya. Burung berwarna eksotik ini dijumpai tim monitoring bersama antara Resort Konservasi Wilayah 21 Cagar Alam Pulau Sempu bersama PROFAUNA.

Monitoring rangkong dilangsungkan pada 19-20 Januari 2019. Selama dua hari menjumpai tiga jenis burung rangkong di pulau yang terletak di Pantai Sendang Biru. Yakni kangkareng perut putih (Anthracoceros albirotris), rangkong badak (Bucheros rinoceros) dan julang emas (Rhyticetos undulatus).

Ketiga jenis burung keluarga rangkong ini, hanya Kangkareng Perut Putih yang berhasil didokumentasikan. Tim menjumpai sebanyak 12 ekor kangkareng perut putih, dua ekor julang emas, dan seekor rangkong badak yang tengah terbang. Perjumpaan terbanyak terjadi di Blok Telaga Dawa sampai Blok Telaga Sat.

“Sepanjang jalur banyak ditemukan pohon Gebang dan Beringin.  Buahnya menjadi makanan favorit burung Rangkong,” kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Nandang Prihadi.

Selain burung Rangkong, tim berjumpa berbagai satwa penghuni cagar alam. Meliputi burung elang ular bido, cucak hijau, dan lutung Jawa. Tim sekaligus berpatroli rutin mengawasi blok Telaga Lele, Telaga Dawa, dan Telaga Sat.

Survei PROFAUNA Indonesia menunjukkan perjumpaan Rangkong menurun sampai 60 persen. Dibandingkan monitoring yang dilakukan pada periode yang sama 10 tahun terakhir. Populasi rangkong menurun akibat deforestasi dan degradasi hutan lindung Malang Selatan.

Tim PROFAUNA memonitoring berbagai hutan di enam kecamatan di Kabupaten Malang bagian selatan. Mengumpulkan informasi burung yang berstatus dilindungi ini. Meliputi Ampeldaging, Sumbermanjing Wetan, Donomulyo, Bantur, Tirtoyudo dan Gedangan. Survei juga dilakukan di kawasan yang beralih fungsi dari hutan rimba berubah menjadi perkebunan atau ladang.

Burung kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris) salah satu penghuni Cagar Alam Pulau Sempu. (Foto : BBKSDA Jawa Timur).

“Survei menjangkau 28 desa yang tersebar di enam kecamatan,” kata Ketua PROFAUNA Rosek Nursahid. Monitoring fokus mendata tiga jenis burung rangkong meliputi kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris), julang emas (Aeros undulatus) dan rangkong badak (Buceros rhinoceros).

Pada 1996-1997 selama sebulan bisa menjumpai rerata 15 kali kelompok burung rangkong di Malang Selatan. Setiap kelompok terdiri dari 12 ekor. Namun kini tim hanya menjumpai enam kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat ekor individu.

Sebelum pembabatan hutan secara besar-besaran pada 1998 itu populasi rangkong cukup besar. Bahkan dulu di hutan Lebakharjo, Kecamatan Ampeldaging menjumpai sekelompok berjumlah 30 ekor rangkong. “Perjumpaan kelompok besar itu hanya jadi kenangan saja. Hutan alami di Lebakharjo sudah hancur,” kata Rosek.

Kelompok burung rangkong berjumlah kecil dijumpai di beberapa wilayah meliputi hutan Sumberagung; Teluk Apusan, Kondang Merak, pantai Balekambang,  Kondang Iwak, Alas Kondang Rowo dan Gunung Gajah Mungkur. “Cagar Alam Pulau Sempu menjadi salah satu habitat utama burung rangkong,” ujarnya.

“Hutan bagian selatan Malang ini dulu dikenal sebagai habitat berbagai jenis satwa liar mulai burung rangkong, banteng, merak, elang jawa, lutung jawa dan macan tutul,” kata koordinator program Konservasi Hutan Dataran Rendah (KHDR) PROFAUNA, Erik Yuniar.

Pembabatan hutan secara illegal 1998 lalu diperkirakan merusak sekitar 41 ribu hektare. Hutan gundul akibat penjarahan. Degradasi hutan menyebab ancaman kepunahan berbagai jenis satwa langka. Termasuk burung rangkong. Padahal burung rangkong memiliki fungsi menyebarkan bibit tanaman.

Kelangsungan hidup rangkong dan satwa lain bergantung hutan sebagai habitat. Sebaliknya, hutan juga tergantung kepada burung rangkong untuk membantu menyebarkan biji pepohonan. PROFAUNA Indonesia tengah mengembangkan program Konservasi Hutan Dataran Rendah (KHDR) di Malang selatan. Dengan menggunakan pola pendekatan spesies kunci burung rangkong dan lutung jawa.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini