Buruan, Tiket Pementasan Teater IDEoT Ludes

Pementasan drama mini kata berjudul BENDERA RUBUH. Pementasan dilangsungkan 2014. (Foto ; Koleksi pribadi).

Terakota.id—Tiket pementasan dua drama mini kata produksi Teater IDEoT diserbu calon penonnton. Mereka mendaftar secara daring maupun luring, sehingga tiket ludes dipesan. Khusus pementasan gala premier 10 November 2020 dan pementasan 11 November 2020 telah habis dipesan. “Pementasan 12 Novemver tersisa 12 kursi,” kata pimpinan Teater IDEoT, Moehammad Sinwan kepada Terakota, Ahad 8 November 2020.

Semalam, katanya, para calon penonton langsung mendaftar. Sehingga praktis kursi penonton terpesan, mengingat kursi yang tersedia terbatas. Setiap hari pementasan, menyediakan kuota 75 kursi. Sesuai protokol kesehatan, para penonton harus menjaga jarak antar kursi penonton. Selain itu, para penonton wajib mengenakan masker dan cuci tangan.

“Buruan, sebelum kehabisan. Meski gratis, tetap harus bawa tiket,” katanya. Drama mini kata, Ndek Ndek Sur dan Bendera Rubuh. Kedua naskah drama ini sering dipentaskan IDEot di berbagai kesempatan. Kali ini, kedua naskah yang ditulis Moehammad Sinwan alias Lek Boss ini kembali dipentaskan.

“Masih tetap relevan, mengusung pesan nasionalisme. Bertepatan dengan peringatan hari sumpah pemuda dan hari pahlawan,” katanya. Kedua drama yang berdurasi sekitar 40 menit ini bakal memiliki pesan moral dan sarat kritik sosial.

Ndek Ndek Sur mengisahkan sekelompok anak yang merundung atau mem-bully seorang anak yang lebih lemah diantara yang lain. Mereka tengah mengikuti sayembara, mencari sebuah peti. Tak disangka, si anak yang biasa dirundung justru yang menemukan peti tersebut.

Namun, teman-temannya merebut peti yang ditemukan tersebut. Lantas mereka membuka peti, yang ternyata isinya berupa makanan. Mereka lantas memakan makanan tersebut, sedangkan anak yang dirundung hanya bisa melihat mereka memakan dengan lahap. Ternyata makanan tersebut membawa petaka, makanan tersebut meracun. Sehingga semua mati keracunan, kecuali anak yang sering dirundung.

“Pesan moralnya jangan tamak dan serakah,” katanya. Ia juga mengingatkan agar tak merudung sesama. Semua manusia, katanya, memiliki karakter dan kelebihan tersendiri. Naskah drama ini ditulis 2000 bareng Wukir Suryadi. Saat itu, Wukir juga bertindak sebagai sutradara teater tersebut. Kini, Wukir dikenal sebagai komposer yang membuat instrumen berbahan bambu yang diberi nama  bambuwukir.

Sedangkan drama Bendera Rubuh merupakan naskah drama yang ditulis Sinwan pada 2013. Saat itu, awanya dipentaskan di sebuah pementasan karangtaruna di Sukun, Kota Malang. Saat itu, ada anggota Teater IDEoT yang bermukin di Sukun berprestasi dalam seni teater Jawa Timur. Lantas, masyarakat setempat menagih janji untuk pentas di depan publik Sukun.

“Ditulis secara tak sengaja,” kata Sinwan. Mengisahkan bendera berjatuhan, namun dibiarkan saja. Tak ada yang peduli. Mereka justru mengibarkan bendera primordial. Sementara seorang nenek tua berdiri membawa tongkat dengan bendera lusuh. Lantas sang nenek jatuh, namun tongkat dan bendera tetap tegak berdiri.

“Pesannya jauhkan primordialialisme. Bersama-sama dan bergotong royong untuk tujuan yang sama,” ujarnya. Drama ini cocok, katanya, apalagi dipentaskan di gedung wakil rakyat. Sekaligus kritik bagi anggota dewan untuk melepaskan baju partai dan kelompok dan bersama-sama mewakili rakyat.

 

 

 

 

 

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini