Bumi Hangus

Pendeta Kristanto Budi Prabowo (Dok. Pribadi)

Banyak orang tentu dapat dengan mudah memahami pelaksanaan Bumi Hangus yang terjadi dalam sebuah peperangan. Namun seringkali agak sulit untuk melihat bahwa sesungguhnya tindakan seperti itu adalah refleksi dari mentalitas keseharian, atau sebut saja menjadi penyebab dari bangunan kesadaran sosial tentang sesuatu yang hendak ditinggalkan karena tahu akan dimiliki dan dinikmati oleh orang lain.

Orang mudah memaklumi bahwa kalau apa yang sebelumnya adalah “milik” ku hendak dijadikan “milik” orang lain, maka sebaiknya dirusak dan dihancurkan dulu saja agar orang lain itu tersakiti dan terkecewakan atau setidaknya menjadi amat kesulitan untuk memulihkannya.

Bumi hangus berasal dari kesadaran diri sebagai manusia yang menempatkan hak-hak diri pastilah dan haruslah lebih tinggi posisinya dari hak-hak orang lain. Bisa jadi, ini adalah strategi balas-dendam pasif yang halus sehingga pihak ketiga yang tidak secara langsung terlibat segera menaruh simpati pada tindakan itu.

Saya memberi istilah mentalitas Bumi Hangus pada banyak contoh perilaku personal dan sosial yang dalam prakteknya bisa kita tengarai menggunakan strategi militer seperti itu terjadi secara terang-terangan dan yang pada umumnya lantas dimaklumi khalayak.

Misalnya saja, sebuah kelompok pecinta alam yang berjerihpayah menemukan satu titik paling liar yang belum disentuh manusia, atau satu rombongan wisatawan yang telah berjerih payah menempuh jarak untuk menemukan spot wisata indah, atau bahkan siapa saja ketika melihat kebersihan, ketertiban, kenyamanan, keheningan, ketentraman, keharmonisan, keindahan, kesopanan, dan lain sebagainya lantas dengan spontan berpikir … “ah kita sudah disini, sudah merasakannya, sudah tahu, sudah menikmatinya … sekarang mari kita hancurkan, kita rusak, kita buat menjadi begitu buruk, agar orang dibelakang kita, para penerus kita, para generasi baru, tak bisa lagi menikmati apa yang pernah kita nikmati”.

Atau dengan bentuk kalimat lain yang mudah dimaklumi bahkan oleh orang yang tidak tahu menahu yang sedang terjadi:

Kalau tidak bisa saya miliki, tidak akan saya biarkan siapapun memilikinya.

Kalau perlu mentalitas Bumi Hangus itu harus dilestarikan lewat segala macam kisah ngeri menakutkan, agar dengan begitu, orang makin mudah memaklumi kejahatan dan dengan begitu memberi peluang lebih luas bagi yang lain untuk melanjutkannya menjadi semakin besar dan efektif dalam mempraktekannya. Mentalitas Bumi Hangus adalah tanda-tanda awal betapa dunia ini sedang berpesta kemenangan di atas puing-puing keputusasaan. Sebuah mentalitas yang menyeret seluruh peradaban kemanusiaan pada kehancuran bersama, kekecewaan dan kesedihan bersama.

Ini di di wilayah kewenanganku, sesukaku sajalah aku mau apa saja.

Lihatlah pada para pembuang sampah di kali dan lahan-lahan kosong lengkap dengan kontras keinginannya untuk tetap dianggap memiliki pola hidup bersih dan terpenuhi haknya untuk selalu mendapat jatah air bersih. Lihatlah para penebang pohon hutan hujan tropis yang memasang iklan agar Bumi Lestari dijadikan gaya hidup tiap orang. Lihatlah para pemelihara dengan anggapan pecinta binatang yang berani menyisihkan jutaan namun tak pernah sekalipun menyisakan sedikit saja sesuatu untuk binatang liar disekitarnya.

Lihatlah para developer kawasan dan bangunan yang lebih merasa untung untuk menghancurkan pemandangan dan apapun sisa-sisa peninggalan kuno yang ada disitu sembari mengumbar iklan sebagai satu-satu perusahaan yang memberikan kepuasan pelanggan dengan menghadirkan keindahan. Lihatlah sikap orang tua yang heroik dengan semangat membesarkan anak-anak mereka sesuai keinginan orang tua, lihatlah sikap para guru yang penuh frustasi memberikan ilmu kepada para muridnya tanpa mau mengenal potensi terbaik masing-masing anak didiknya, lihatlah sikap senior pada yuniornya, sikap bos pada bawahannya, dan seterusnya.

Dan ahai, lantas, lihatlah para generasi muda bersikap terhadap segala produksi budaya material kearifan lokalnya dan keindahan alami disekitarnya. Mentalitas Bumi Hangus tidak hanya terjadi dalam suasana perang saja. Mentalitas itu menjadi keseharian kita.

Apakah kita perlu menunggu hingga dibuat konvesi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang bagaimana mencintai keindahan agar setidaknya kita bisa mengenali gejala mentalitas bumi hangus, mencegah terjadinya, dan mengurangi praktek-prakteknya yang terlanjur dimaklumi? Atau memang seperti itulah karakter dan semangat peradaban kita terhadap segala kekayaan yang kita miliki? Mentalitas Bumi Hangus tiap hari diajarkan kepada kita di jalan, di sekolah, dan mungkin di rumah. Semoga kita bertahan.

*Presidium Gusdurian Jawa Timur

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini