Bumi Hangus

Oleh : *Kristanto Budiprabowo

Terakota.id-Beberapa hari yang lalu saya mendapat kesempatan langka, melihat proses renovasi dan restorasi sebuah gedung heritage yang memiliki keindahan dan kekayaan sejarah. Hingga melihat detail dan bagian bagian bangunan yang ada. Melihat dengan mata kepala sendiri, bagian pintu dan jendela kuno tampak kekar dibuang begitu saja di antara onggokan sampah.  Potensi ruang bawah tanah (Dianggap menakutkan dan berhantu) dicor dijadikan lantai menghasilkan satu kamar tambahan. Keindahan ornamental lantai kuno (yang tak ternilai harganya) digancu, dihancurkan berkeping-keping dijadikan urukan di halaman.

Tentu amat sulit prosesnya untuk sekedar bertanya atau menyampaikan keluh kesah kesedihan mendalam yang saya alami. Selain rumitnya birokrasi dan kurang kuatnya perangkat hukum terhadap bangunan cagar budaya, orang awam tidaklah mudah mendapatkan akses melihat, menikmati, dan apalagi terlibat dalam menentukan nasib bangunan cagar budaya.

Ada Satpam yang selalu mengawasi siapapun yang keluar masuk area. Ada para pekerja yang tampak kebingungan sendiri dengan apa yang sudah mereka lakukan. Ada para developer pemborong pengerjaan renovasi yang menjalankan pekerjaan mereka berdasar blue-print dan perintah dari pemilik modal dan penguasa bangunan. Lantas dari situ, jalur birokrasi akan berakhir di jalinan ruwet perkantoran integrasi antar departemen, di sanalah para pemimpin kota berada; Wali Kota, anggota DPRD, dan entah siapa lagi yang mampu terlibat hingga bisa berada dalam pusaran pengambilan keputusan.

Yang pasti, satu bangunan cagar budaya telah dan sedang dikuliti keasliannya dan bahkan dikanibal daging keindahannya. Disisakan tulang-tulang kokohnya siap untuk dipoles dengan sentuhan modern seturut selera pasar sebagai wisma atau hotel yang berorientasi semata bagi profit-keuntungan finansial belaka. Dan saya menjadi teringat betapa kota ini dulu pernah dibumihanguskan.

Tinggalkan Balasan