Buku Kecil yang Tumpah Ruah dengan Ambisi

@shopee

Terakota.id–Kalau saja istilah “small dog syndrome” punya asosiasi positif, saya tidak akan sungkan pakai istilah itu untuk menyebut Rumah Ilalang, sebuah buku kecil karya Stebby Julionatan. “Small dog syndrome” adalah kecenderungan anjing-anjing kecil untuk bertingkah berani, membangkang, dan menguasai.

Buku Rumah Ilalang yang mungil dan hanya terdiri dari 136 halaman ini menunjukkan ciri-ciri semacam itu. Meski tipis, buku ini menyajikan banyak hal yang sangat mungkin membuat pembacanya membayangkan satu kata: ambisius. Padahal, istilah “ambisius” dalam kaitannya dengan karya fiksi biasanya merujuk pada buku-buku yang tebal, yang menyajikan kisah-kisah berbau politik atau konspirasi, dan mengesankan bahwa si penulis telah mengerahkan segala kemampuan literernya.

Kembali ke Rumah Ilalang, biarkan dulu saya mengikat Anda dengan argumen bahwa buku ini adalah sebuah buku ambisius yang tidak terlalu kentara. Apa pasal? Biarkan saya gambarkan sebentar lagi. Setidaknya ada tiga.

Tapi sebelumnya kita lihat dulu sampulnya untuk sekadar mengecek apakah sampul ini mewakili ambisi isi bukunya:

Sedikit sinopsis tentang buku ini mungkin akan memberi gambaran tentang arah ambisi karya ini. Buku ini dibuka dengan gambaran singkat perasaan cinta Tabita kepada Gosvino dan kecelakaan yang merenggut nyawa Tabita. Gosvino adalah seorang pendeta dan Tabita adalah seorang waria, yang meskipun sekarang rajin ke gereja sebenarnya latar belakang keluarganya Muslim.

Kawan-kawan Tabita harus mengurusi jenazah dan pemakaman Tabita karena dua hal: di satu sisi keluarga Tabita sebenarnya penuh masalah dan sebagian anggota keluarga termasuk Muslim yang sangat keras menentang LGBT. Di sisi lain, warga Muslim dan Katolik sama-sama tidak bisa menerima penguburan Tabita di tempat mereka. Bukan karena dia waria, tapi lebih karena menurut mereka Tabita tidak sepenuhnya Muslim maupun Katolik.

Demikianlah cerita berlangsung, hingga akhirnya kakak Tabita yang sangat sayang ke Tabita (meskipun tinggal di tempat yang jauh), menawarkan sebuah solusi, yang meskipun terlihat bagus, ternyata berbuntut bencana yang lebih besar. Judul novela ini Rumah Ilalang karena nama lahir Tabita adalah Ilalang. Semua konflik ini berlangsung dalam rentangan 130-an halaman buku mini ini. Sudah mulai terasa kan ambisiusitasnya?

Ada setidaknya tiga hal yang membuat saya terus-terusan membayangkan kata ambisius itu selama menimbang-nimbang novel ini setelah membacanya. Yang pertama adalah kepadatan buku ini. Hanya dalam rentang 130-an halaman, kita mendapat sajian plot yang terdiri dari konflik dan perasaan cinta seorang waria kepada seorang pendeta. Tabita memiliki sejarah sendiri, yang antara lain berisi seorang bapak yang playboy dan seorang ibu yang hanya peduli dengan harta suaminya.

Sementara, Gosvino si pendeta sendiri punya latar belakang keluarga yang jauh dari kata konvensional, bukan keluarga yang kawin cerai tapi juga bukan keluarga yang standar dengan seorang ayah dan ibu. Konflik yang muncul pun juga padat, tidak hanya kematian dan penyesalan atau menggali masa lalu, tapi juga ada kelanjutan dari konflik yang disebabkan oleh kematian itu.

Bahkan, bahkan, bahkan, pada sepuluh halaman terakhir pun si penulis masih menunjukkan satu lagi lapisan konflik, yaitu ketika muncul karakter Maria yang ternyata punya dendam sendiri kepada Tabita. Kalau kita melihat strukturnya, kita akan mendapatkan satu hal yang tidak sederhana. Dia diawali dengan kematian dan kemudian ada upaya untuk menjelaskan latar belakang si tokoh yang meninggal.

Namun, bukan itu saja, setelah si karakter sudah semakin kita kenali, ternyata ada lagi kelanjutan dari kisahnya. Ternyata, kematian tadi “hanyalah” elemen di tengah plot; masih ada yang menunggu setelah kematian itu. Elemen-elemen cerita ini, ditambah beberapa lainnya yang sayang kalau diceritakan karena akan membocorkan plotnya, membuat novela ini terasa begitu padat dan singset, seperti sebungkus nasi padang diikat karet dobel

Hal kedua yang membuat buku ini tampak ambisius adalah kecenderungannya untuk tidak sungkan-sungkan menceburi isu kita saat ini: keberagamaan. Memang di awal ditunjukkan bahwa Tabita yang waria itu tertarik kepada seorang pendeta Katolik, dan yang tampak adalah seolah-olah persoalannya adalah persoalan gender dan orientasi seksual.

Namun, begitu masuk, lebih dalam, kita akan menyadari bahwa yang menjadi persoalan lebih besar justru persoalan agama. Seperti disinggung sekilas di atas, penolakan atas jenazah Tabita ternyata lebih karena status keagamaannya daripada keadaannya sebagai waria. Di satu sisi, kelompok Muslim tidak lagi memandang Tabita sebagai seorang Muslim karena dia sudah tampak menghadiri kebaktian-kebaktian di gereja Katolik.

Di sisi lain, kelompok Katolik tidak bisa menerimanya karena dia tidak pernah secara eksplisit mendaftarkan dirinya sebagai anggota jemaat. Belum lagi, yang bisa diharapkan, pandangan tentang orientasi seksual Tabita di mata para anggota keluarganya sendiri yang belakangan menjadi orang-orang yang memegang penafsiran Islam yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, sehingga Tabita tidak lagi dianggap sebagai bagian dari keluarganya.

Memang, kelompok yang ultra-konservatif dalam beragama cenderung mempersoalkan orientasi seksual dan gender seseorang dewasa ini, tapi buat masyarakat secara lebih luas, urusan tersebut bisa ditangguhkan dulu: agama adalah sesuatu yang lebih serius. Adanya waria dan homoseksulitas di sekeliling kita adalah sesuatu yang dalam skala sangat kecil sudah bisa ditemui dari dulu-dulu tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan umum. Apalagi, seperti digambarkan dalam novel, ketika tokoh waria tersebut adalah orang yang baik dan dihormati. Kewariaan tidak terlalu jadi soal, kalah di bawah bayang-bayang persoalan agama.

Hal ketiga yang sangat perlu dipertimbangkan tentang buku ini adalah fakta bahwa buku ini membawa persoalan sudut pandang ke tengah meja. Buku ini tampak sekali memandang penting sudut pandang. Atau, lebih spesifik lagi, buku ini menggali persoalan dari berbagai sudut pandang—seolah mengatakan bahwa itulah yang semestinya dilakukan dalam melihat sebuah persoalan.

Judul-judul babnya menunjukkan usaha melihat Tabita dari berbagai sudut pandang: Tabita sendiri, keluarga yang mendukung, keluarga yang tidak mendukung, kawan karib, orang tua angkat, dan bahkan musuh bebuyutan. Di tengah kecenderungan umum membicarakan fenomena LGBT yang lebih mendengarkan sudut pandang eksternal, yaitu sudut pandang non-LGBT.

Misalnya dari sudut pandang pemuka agama atau pseudo-sains, usaha novela ini untuk menyoroti Tabita dari berbagai sudut pandang ini merupakan sebuah upaya segar dalam mengimajinasikan berbagai hal yang mungkin membentuk motivasi, yang mempengaruhi langkah-langkah dan pandangan seorang waria. Dengan adanya satu lagi wilayah yang ingin digarap dalam novela yang hanya 130 halaman ini, kita sekali lagi bisa merasakan adanya keinginan besar novela ini untuk terlibat dalam perbincangan tentang pandangan-pandangan terkait gender dan seksualitas melalui permainan imajinasi.

Apakah masih harus disebutkan lagi hal-hal yang membuat novela ini seperti tumpah ruah dengan ambisi? Ketiga hal itu saja sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa banyak sekali yang ingin dicapai oleh novela ini. Di wilayah cerita secara garis besar, kita bisa melihat keinginan novela ini untuk menawarkan sebuah struktur plot yang terus memantik penasaran, bahkan di bagian akhir.

Wacana yang diangkat dalam cerita ini pun merupakan sesuatu yang sangat relevan dengan iklim social Indonesia dewasa ini, di mana keberagamaan mendapatkan porsi yang cukup besar dan sangat berpengaruh. Selain itu, cara pengungkapan lapis demi lapis cerita ini pun bukan sesuatu yang dilakukan sambil lalu, tapi sebagai sesuatu yang diperhitungkan.

Maka, tidak akan ada yang protes, saya yakin, kalua saya sebut buku yang kecil dan tipis ini sebagai buku yang ambisius, yang ingin mencapai banyak hal, meskipun itu hanya dalam jumlah halaman yang terbilang sangat minim. Rumah Ilalang seperti seekor Chihuahua lucu yang menyalak-nyalak  memaksa orang lain mendengar, membangkang dari pandangan umum.

Tapi, Rumah Ilalang ini adalah seekor anjing kecil yang menyalak-nyalak bukan tak tentu arah. Ada yang ingin disampaikannya. Dan bukan hanya itu, dia punya ambisi yang mengajak pembacanya menyelami persoalan sulit. Dan di bagian akhir, bisa jadi kita akan merasakan seperti yang kita rasakan di akhir video tentang Joy dan burung bangau ini:

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini