Bukanlah Natal Jika Tanpa Tetangga

Oleh: Kristanto Budiprabowo*

Terakota.id–Harus diakui bahwa ini adalah kumpulan pengalaman, jadi bukan sebuah tipikal kampung tertentu. Bukan juga berada dalam urutan waktu dan tempat yang sama. Namun, harus diakui inilah narasi Natal yang diajarkan oleh pengalaman kepadaku. Sebuah narasi yang makin hari makin aku sadari sebagai bagian dari konstruk diriku dalam merasa, berpikir, dan memaknai apa yang oleh banyak orang disebut dengan Natal.

Sebagai sebuah kumpulan pengalaman, yang sekarang sudah berjarak waktu agak panjang, tentu juga harus diakui bahwa di sana-sini akan ada banyak usaha untuk menghidupkan ingatan dalam interpretasi yang baru dan dari jarak konteks yang berbeda. Namun, tidak perlu cemas. Aku masih sangat optimis bahwa percikan pengalaman ini masih bisa dijumpai di kampung-kampung dimana ketulusan dan keikhlasan masih menjadi nilai penting dalam relasi kemasyarakatannya.

Jika natal tiba, bagi seorang anak kampung, proses peristiwa yang bisa dihubungkan dengan masa Natal cukup panjang. Mula-mula ditandai dengan akhir semester sekolah di akhir tahun yang berarti liburan. Kemudian diwarnai dengan kehadiran musim hujan yang sedang berada dalam kondisi terderasnya. Kalau musim panas cukup panjang, maka buah-buahan dan bunga-bunga sedang musimnya.

Mangga dan rambutan adalah yang paling dekat dengannya sehingga paling mudah dijumpai. Masa tanam dan masa panen padi sudah lewat jadi tidak ada terlalu banyak aktivitas di ladang atau sawah yang berarti. Selain hal-hal ini, beberapa rangkuman pengalaman berikut semoga dapat memberi inspirasi baru bahwa di kampung natalan lebih dapat terasa makna kontekstualnya dan menawarkan narasi kultural bagi kehidupan Kristen di kampung.

Masa Persiapan

Ketika Ibu saya sudah memilih ayam-ayam mana yang bisa dipersiapkan sebagai hidangan Natal dan Bapak sudah membawa pulang beberapa macam kain, cat tembok dan kapur untuk pagar, dan kadang dengan sekarung kecil petasan, pada saat itulah penanda penting bahwa Natal telah tiba. Maka anak-anak juga mulai menjadi kreatif membuat mercon bumbung (bebunyian petasan yang terbuat dari bambu dan diisi dengan amunisi minyak tanah), mencari pucuk-pucuk pohon cemara yang tumbuh dekat hutan yang kira-kira siap dijadikan pohon natal, dan lebih banyak beraktifitas dijalanan kampung bersama kawan-kawan untuk bernyanyi-bermain bersama menghabiskan liburan dan kalau beruntung diajak untuk latihan menari atau drama.

Rumah adalah pusat utama tempat dimana natal akan terjadi. Para tetangga dan sanak saudara jauh dekat akan datang berkunjung menyampaikan ucapan selamat dan bergembira bersama, maka rumahlah yang terlebih dahulu dan yang terutama perlu dipersiapkan dengan baik. Pagar tanaman hidup segera perlu dirapikan, rumput dipotong, dahan-dahan kering diturunkan dari cabang-cabang pohon, dan tembok pagar dicat dengan kapur. Untuk mempercantik rumah, di pagar depan dibuatkan gapura dari janur, kadang hanya janur yang dimelengkungkan menjadi seperti gapura saja. Penanda penting bahwa rumah tersebut sedang mempersiapkan diri menyongsong peristiwa yang membahagiakan.

Baca juga :  Ancaman Globalisasi, mulai Pergeseran sampai Kepunahan Bahasa Daerah

Ibu segera juga mengajak kami ke penjahit baju di kampung sebelah dan kami dengan gembira memilih gaya pakain sesuai selera terkini yang ditawarkan sang penjahit kepada kami. Setelahnya, kami diajak mampir ke tukang cukur di bawah pohon besar. Kami semua potong rambut dengan gaya terbaru juga. Umumnya yang laki-laki adalah potong gundul dengan jambul.

Itu terjadi sebelum Bapak tahu bahwa membeli alat cukur bisa menghemat biaya cukur rambut pada anak-anaknya yang rambutnya kadang tumbuh lebih rajin daripada sayuran di halaman. Dengan penampilan baru, kami merasakan kebanggaan untuk makin rajin bermain di kampung dan membunyikan mercon bumbung bersama kawan-kawan. Karena siapapun yang melihat kami, mereka akan menyatakan bahwa kami sudah siap menyambut hari besar (riyayan).

Ritual Natal Kampung

Ritual Natal kampung yang paling penting adalah mempersiapkan ater-ater (hantaran makanan lengkap kepada tetangga terdekat). Untuk itu, jika beruntung aku mendapat tugas untuk membawa beberapa ekor ayam ke rumah pak Kyai kampung agar sebelum beliau membantu menyembelihkan doa dapat diucapkan. Dengan gembira pak Kyai akan menyambut dan mengatakan bahwa kami sudah siap untuk natalan. Itulah kenapa pak Kyai kampunglah yang akan mendapat ater-ater – biasanya dengan menu yang sangat istimewa – pertama kali.

Di hari ater-ater dilakukan, kami berpakaian rapi dan akan menjadi penghantar makanan yang dipersiapkan ibu dibantu oleh beberapa ibu-ibu tetangga paling dekat. Urutannya jelas dan sangat dihafal oleh Bapak. Mulai dari Pak Kyai, sesepuh kampung, perangkat desa yang ada dikampung dan semua orang di dalam satu Rukun Tetangga (RT). Kadang, kalau rezeki Bapak lumayan melimpah, kami harus ater-ater agak jauh kepada guru sekolah dan sahabat keluarga yang tinggal di luar desa.

Sesudah atau bersamaan dengan masa ater-ater yang bisa berlangsung selama tiga hari itu, kami menyempatkan diri juga untuk sungkem mohon doa restu pada sesepuh kampung. Kami perlu menyampaikan bahwa masa Natal telah tiba dan kami sekeluarga akan merayakannya. Termasuk kemana kami akan mengikuti kebaktian Natal dan hari apa yang terbaik agar kami bisa dikunjungi oleh segenap tetangga. Saat inilah anak-anak selalu gembira karena mendapat uang saku untuk jajan atau hadiah istimewa lainnya seperti topi, mainan anak, atau kalau beruntung buku tulis dan pulpen. Hari sungkem biasanya ditutup dengan pergi ke kuburan untuk nyekar (tabur bunga) dan membersihkan area kubur para nenek moyang.

Baca juga :  Pasutri Penebar Pesan Damai

Menuju Betlehem

Kelahiran Yesus yang diperingati ini terjadi di dusun kecil bernama Betlehem, begitu menurut Kitab Suci. Maka menuju tempat kebaktian, diiringi dengan hujan deras dan tanah yang becek adalah bagian penting untuk merasakan bahwa kelahiran bayi Yesus tidaklah dalam suasana yang enak. Itulah kenapa, membawa lilin dan lampu sorot penting, karena jika tidak hati-hati di jalan kita bisa terpelosok ke selokan.

Dengan baju terbaru, penampilan terbaik, di sore yang diguyur hujan dan jalanan yang becek, tempat kebaktian dan perayaan natal serasa menjadi tempat paling menyenangkan di bumi. Kadang perayaan dan kebaktian natal dilakukan di halaman rumah seorang keluarga Kristen di desa, kadang di Balai Desa, dan pernah sekali diadakan di rumah kami di bawah tenda-tenda yang di pasang di halaman. Maka hari kebaktian dan perayaan dalam ingatan kami adalah hari menuju Betlehem.

Pohon Natal adalah pusat perhatian semua anak-anak. Kadang ada hadiah-hadiah kecil di taruh di bawahnya yang diperkirakan cukup untuk setiap anak yang akan datang menonton acara natal kampung itu. Ada persembahan tari malaikat dari remaja-remaja kampung, ada sambutan Pak Kepala Desa, para sesepuh biasanya juga hadir, ada yang duduk bersama orang-orang tua di depan, ada yang berdiri atau duduk-duduk di luar area perayaan.

Kehadiran pendeta ke kampung adalah kesempatan langka yang menjadi penting. Tak jarang aku sampaikan ke kawan-kawanku bahwa itulah pendeta yang membabtis aku dengan tanpa tahu apa artinya, sama persis dengan ketidak pahaman kawan-kawanku. Bagi kami perhatian utama adalah pohon Natal itu, karena di sanalah hadiah akan kami dapatkan, sekalipun kami tahu bahwa kadang isinya hanyalah permen dan buku tulis.

Baca juga :  Mewarnai Toleransi Sejak Dini

Betlehem adalah penanda bahwa akan ada banyak kerepotan dan sekaligus kebahagiaan. Akan ada banyak perjumpaan sekaligus persaudaraan. Tak banyak yang bisa dimengerti. Aku sendiri menyaksikan bahwa tidak semua orang Kristen yang hadir memberi perhatian penuh pada apa yang dikotbahkan pendeta. Yang paling serius dan menegangkan dari ritual natal kampung adalah ketika saatnya lilin di pohon natal dinyalakan. Biasanya diiringi dengan lagu yang berjudul “Malam Kudus” yang harus dihapal karena lampu-lampu akan dipadamkan.

Satu persatu tamu undangan penting biasanya diberi kesempatan untuk menyalakannya. Mulai dari pak Kepala Desa, Pendeta, Sesepuh Desa, ketua Ibu-Ibu, ketua Pemuda Desa, dan perwakilan anak-anak diberi kesempatan bergantian. Anak yang terpilih menjadi penyala lilin adalah anak yang paling bahagia. Penyalaan lilin ini mudah dimengerti sebagai gambaran bahwa setiap orang memancarkan cahaya dan jika di kumpulkan akan sangat cukup untuk memberi terang kepada siapa saja.

Setelah selesai penyalaan lilin yang diakhiri dengan doa syukur, lampu kembali dinyalakan. Disinilah ketegangan dimulai. Pada sat acara ramah tamah dimulai, kadang diisi dengan nyanyian di panggung sementara para tamu undangan menuju tempat makan bersama, mulailah hiasan salju pada pohon natal yang terbuat dari kapas itu terbakar. Kadang bisa langsung habis, namun kadang bisa menjadi besar dan membuat panik para pemuda yang biasanya sigap segera memadamkannya.

Anak-anak saling memperlihatkan hadiah yang didapat, sekalipun sayangnya seringkali hadiahnya sama saja nilainya. Yang terpenting adalah, semua anak berhak mendapatkan hadiah. Semua anak perlu mendapatkan penghargaan karena hari itu adalah peristiwa kelahiran seorang anak yang paling berharga.

Natal di kampung, di masa kecilku, pernah aku dijadikan gembala dalam dramanya. Pernah menarikan tari prajurit, karena itulah yang sedang aku pelajari di kelompok tari kampung, pernah aku mendapat kesempatan istimewa membacakan ayat Alkitab. Namun keseluruhan proses peristiwa hariannyalah yang membangun narasi natal pada diriku jauh lebih kuat dari narasi natal yang ada di novel, film, atau buku-buku teologi kristen.

Dalam narasi itu, tidak ada natalan yang bermakna tanpa orang-orang terdekatku di kampung. Bukanlah Natal jika tanpa tetangga. Malam Natal diakhiri dengan sukacita besar, karena esok hari, para tetangga akan datang kerumah dan bersukacita bersama kami.

Kristanto Budiprabowo (Dok. Pribadi)

* Pembakti Sonjo Kampung, Presidium Gusdurian Jatim

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini