Kawasan Budug Asu. (Foto: https://www.facebook.com/BudugAsu.id).
Iklan terakota

Terakota.ID–Minggu lalu saya berkesempatan hiking anak, kawan lama saya Emil Wahyudianto, dan anak-anak Emil. Kawan saya ini punya pengalaman hiking dan mendaki lebih banyak dari saya, tapi ini pertama kalinya dia mengajak anaknya naik gunung. Sementara saya sendiri sudah cukup sering jelajah hutan bersama anak. Selama perjalanan ini, ada banyak komentar dan pertanyaan dari anak-anak. Bisa dibilang, anak-anak ini siap belajar banyak hal saat berjalan lintas alam itu. Sayangnya, banyak dari pertanyaan itu yang tidak bisa saya jawab dengan baik.

Baru ketika berada di rumah, dalam kondisi kaki pegal-pegal, saya ada kesempatan googling dan mencari informasi yang kurang lebih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa saya jawab di lokasi. Dan sebenarnya jawabannya juga sebagian sudah dibahas sekilas di pelajaran sekolah. Di situlah saya mulai sadar bahwa hiking adalah sebuah kesempatan yang bagus buat belajar. Istilah zaman sekarangnya: kesempatan bagus buat merdeka belajar.

Hiking dan bermain di alam tentunya jangan sampai jadi sekadar kesempatan untuk cari spot-spot yang instagrammable untuk dishare jadi “kisah healing” dengan captionwork hard play harder” atau “vitamin C, seeing yang ijo-ijo.” Banyak yang bisa diperoleh dari aktivitas hiking ini, bahkan mungkin untuk mereview pelajaran mulai dari pelajaran Penjaskes, IPA, IPS, dan bahkan Sejarah.

Sebelum terlalu jauh, perlu kita tegaskan satu informasi awal yang bisa bisa menyebabkan salah kaprah. “Budug Asu” berarti “bukit anjing” dalam bahasa Indonesia. Tapi, yang dimaksud anjing di sini bukanlah anjing yang seperti yang banyak kita lihat di Instagram itu. “Asu” di sini merujuk kepada spesies asli yang dikenal sebagai “Ajag jawa” yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai “dhole,” sebuah spesies yang lebih dekat dengan rubah daripada dengan serigala atau anjing pada umumnya.

Nah, tanpa bermaksud terlalu menggurui kawan-kawan pembaca yang mungkin punya anak atau murid di sanggar bermain dan belajar yang bisa diajak hiking, perkenankan saya sharing sedikit pengalaman hiking di Budug Asu via Kebun Teh Wonosari ini beserta sejumlah potensi belajar yang ada di sana.

Sejarah Teh dan Perkebunan Teh

Ketika mendaki ke Budug Asu via Kebun Teh Wonosari itu, yang pertama kali kami kunjungi tentu saja Kebun Teh Wonosari itu sendiri. Keluarga saya dan keluarga Emil bertemu di sini. Di sini juga kami memarkir kendaraan kami. Di sini juga kita akan bisa memulai pelajaran, tepatnya pelajaran sejarah.

Menurut sebuah artikel di Republika, ternyata kebun teh ini tidak selalu kebun teh sejak zaman dahulu. Dari beberapa bangunan yang ada di sana, akan tampaklah bahwa Kebun Teh Wonosari ini dibuka sebagai Kebun Teh pada tahun 1910. Itu adalah tahun pertama kalinya perusahaan Belanda yang mengelola perkebunan ini menanam teh. Kebun Teh Wonosari ini adalah kebun teh pertama yang ada di Jawa Timur. Sebelumnya, sejak abad ke-19, perkebunan ini menanam kopi dan kina.

Kepada anak-anak, kita bisa menjelaskan bagaimana kebun teh ini sebenarnya adalah peninggalan dari masa kolonial, ketika wilayah nusantara dikuasai Kerajaan Belanda dan lahannya dikuasai untuk menanam komoditas yang laku di pasar dunia, tentunya dengan keuntungan terbesar diambil oleh pemerintah kolonial. Kelak, pada masa pendudukan Jepang, perkebunan ini menanam makanan pokok seperti singkong dan kentang, selain teh.

Saat ini, kebun teh ini dikelola oleh PTPN XII, yang memproduksi produk teh bernama Teh Rolas itu.

Mengenali Kopi

Setelah melewati wilayah Kebun Teh dan Pabrik Pengolahan Teh, kita perlu terus melewati tepian Kebun Teh. Di tepi kebun teh itu, kita akan melihat jalan dengan petunjuk kecil menuju Budug Asu. Di situ kita akan mulai berjalan keluar dari kawasan kebun teh, menuju hutan industri yang tentu saja dikelola oleh perhutani.

Di sana, kita akan memasuki kawasan hutan pinus yang di bawahnya terdapat tanaman kopi. Di sini kita bisa ajak anak-anak mengenali langsung seperti apa sih tanaman yang jadi minuman kegemaran orang tua mereka itu. Bila kita datang pada saat yang tepat, kita bisa tunjukkan ke anak-anak tanaman kopi yang sudah matang dan siap dipanen. Anggap saja ini persiapan untuk mengapresiasi sesuatu yang mungkin akan mereka gemari di masa depan.

Pinus dan Gondorukem

Selain itu, tentu yang tidak kalah pentingnya adalah di sana kita bisa bertemu dengan pohon pinus yang pasti ada guratan-guratan sadapan. Ketika hiking bersama anak-anak kemarin, saya sempat mendapat pertanyaan perihal manfaat sadapan pinus. Sepertinya saya sendiri tidak bisa menjawab dengan jelas kegunaan sadapan pinus itu. Belakangan, setelah pulang, saya baru mendapat informasi bahwa sadapan pinus itu merupakan bahan utama pembuatan gondorukem, bongkahan-bongkahan padat berwarna kuning yang kelak digunakan sebagai bahan dalam perekat warna tinta dan cat.

Gondorukem, getah damar, atau gum resin (Foto: Pixabay).

Oh ya, jangan lupa juga menjelaskan kepada anak-anak bahwa pohon pinus ini adalah bahan utama dari perabot-perabot kekinian di banyak ruang tamu atau di kafe-kafe yang katanya terbuat dari kayu “jati belanda” itu. Kayu yang disebut jati belanda itu memang memiliki motif serat yang sangat menonjol seperti kayu jati. Tapi, karena dia biasanya bekas barang-barang palet kiriman dari luar negeri, maka dia disebut kayu “jati belanda.” Kan memang aslinya kayu jati itu khas Asia (khususnya asia tenggara dan asia selatan).

Kaliandra: Pemain Naturalisasi

Ketika berjalan di hutan pinus dan kopi itu, kami juga melihat tanaman-tanaman perdu yang daunnya mirip dengan petai, dan buahnya juga berpolong seperti petai, tetapi ada bunga-bunga cantiknya berwarna putih. Inilah tanaman kaliandra, yang sangat lazim dan dianggap menjadi bagian tak terpisahkan dari gunung Penanggungan maupun Arjuno-Welirang. Saking banyaknya, mungkin banyak yang mengira bahwa tanaman itu adalah asli dari wilayah ini. Padahal, seperti pemain bola, tanaman ini dinaturalisasi dari Amerika Selatan.

Kaliandra, tanaman serbaguna yang dinaturalisasi dari Guatemala. (Foto: Wawan),

Tidak semua orang sadar bahwa apa yang ada di sekeliling kita ini tidak bisa benar-benar dilepaskan dari sejarah. Yang di sekeliling kita itu juga mencakup kaliandra. Bagi mereka yang tinggalnya jauh dari hutan, kaliandra ini dihubung-hubungkan dengan Resort Kaliandra yang cukup populer di kabupaten Pasuruan yang dulu dipakai syuting film Tenggelamnya Kapal van der Wijk. Tapi kaliandra sejatinya adalah tanaman yang tak bisa dilepaskan dari kolonialisme.

Perlu ditegaskan di sini bahwa kaliandra bukanlah tanaman asli nusantara. Menurut artikel karya Suliasih ini, Kaliandra yang sekarang ada di mana-mana di Indonesia ini didatangkan dari Guatemala pada tahun 1936, kurang lebih di dekade terakhir kolonialisme  Belanda di nusantara. Tanaman ini disebutkan memiliki banyak manfaat, mulai dari mencegah erosi, menjadi pakan ternak bergizi, kayu bakar, hingga obat-obatan.

Saya sendiri belum pernah melakukan penelusuran arsip-arsip perkebunan terkait kaliandra ini, tapi mungkin saja tanaman ini dipilih untuk ditanam di hutan-hutan di Jawa setelah kayu-kayu asli di hutan-hutan ini ditebang sebagai upaya mempertahankan lahannya. Mungkin nanti ada kawan-kawan jurusan sejarah atau pertanian atau perhutanan yang bisa memastikan soal ini. Yang pasti, saat ini kita bisa banyak menemukan di YouTube berbagai pembahasan tentang kaliandra yang mengaitkannya dengan manfaatnya sebagai pakan kambing yang penuh gizi.

Hutan Industri dan Hutan Rimba

Setelah berjalan sekitar 1,5 jam dari kebun teh, kami tiba di kaki bukit Budug Asu. Daerah ini mudah dikenali karena ada warung-warung dan tiket masuk ke sana. Setiap orang ditarik biaya Rp20.000. Di sini, kita akan bisa memilih dua jalur yang ada, yaitu jalur menanjak dan jalur yang relatif landai. Untuk pertimbangan keamanan, bila Anda hiking bersama anak-anak, jalur yang landai.

Jalur yang menanjak memang cepat. Kita bisa mencapai puncak dalam waktu 20-30 menit tapi dengan kecuraman lebih dari 60 derajat di beberapa bagian, sampai harus menggunakan tali-tali yang sudah dipersiapkan oleh pengelola (biaya tiket yang kita bayarkan di situ tersalurkan dengan baik, minimal dalam fasilitas mendaki di jalur terjal ini).

Kami kemarin memilih jalur menanjak karena bisa dibilang kami bukan benar-benar pemula. Emil, seperti saya sampaikan, adalah pendaki yang berpengalaman. Dia tahu cara-cara menjaga keamanan dan menjaga anak-anaknya. Sementara anak saya sendiri sudah cukup besar dan cukup sering mendaki di berbagai medan.

Nah, bila Anda hiking bersama keluarga atau membawa banyak anak kecil, kami merekomendasikan jalur landai karena lebih aman. Memang sih waktu tempuhnya sedikit lebih panjang. Pada dasarnya jalur ini memutari bukti dan mendaki ke puncaknya sedikit demi sedikit. Mungkin kita baru akan mencapai puncak dalam waktu 45-60 menit dari kaki bukit.

Tapi jangan kuatir, jalur ini menawarkan keuntungannya yang tersendiri. Dengan memilih jalur landai ini, kita bisa memasuki hutan yang lebih asli, yang belum diolah jadi hutan industri yang ditanami pinus, mahoni, atau kayu jati. Kita akan bisa menemukan tanaman-tanaman yang memiliki akar gantung seperti beringin dan lain sebagainya.

Di kawasan yang lebih tertutup ini, kita juga bisa melihat pohon yang lebih beragam, mulai pandan raksasa yang berduri hingga pakis-pakis yang lebih besar.  Di sinilah kita bisa kenalkan kepada anak-anak tentang hutan yang bukan industri, yang tanamannya adalah tanaman endemik yang sebagian besarnya tumbuh alami di kawasan tersebut.

Kami kemarin mengambil jalur ini dalam perjalanan pulang. Hati-hati, mendekati puncak kita akan melewati jalur yang cukup licin. Di wilayah yang cenderung kurang mendapat matahari ini, lumut terlihat tumbuh di jalan setapak mendekati puncak.

 

Mengenal Bentang Alam dan Bermain Aman

Akhirnya, setelah semua tanjakan terlewati, kita akan sampai di puncak Budug Asu. Dari situ, akan terlihat puncak-puncak gunung atau bukit dari yang dekat hingga yang jauh. Yang paling dekat tentu saja puncak gunung Arjuno. Seperti saya bilang, Budug Asu adalah salah satu bukit di lereng gunung Arjuno. Kalau kita melihat ke sebelah timur, akan terlihat dataran tinggi tengger dan gunung Semeru yang paling besar. Di antara itu, kita bisa juga melihat bukit yang ada di kawasan Malang Raya, seperti gunung Wedon (tampak seperti piramida sempurna dari jauh) di kawasan Lawang yang pernah menjadi salah satu persinggahan Hayam Wuruk ketika berburu di kawasan ini (sebagaimana disebutkan dalam kita Negarakertagama).

Ketika kita sudah berada di puncak bukit ini, ada satu hal yang tak kalah pentingnya: mengenalkan kepada anak-anak pentingnya memperhatikan rambu-rambu dalam mendaki gunung. Ada beberapa bagian di kawasan puncak ini yang cukup curam. Bila tidak berhati-hati, kita bisa jatuh dan celaka. Tapi, asalkan kita mengikuti rambu-rambu yang ada di sana ketika bersenang-senang, anak-anak bisa aman dan mendapatkan kenikmatan bermain-main di tempat yang tidak biasa.

Tapi, ada satu hal yang sedikit saya sesalkan ketika hiking ke Budug Asu ini bersama anak saya dan anak-anak kawan saya: banyak dari informasi yang saya tuliskan di sini waktu itu belum saya ketahui. Alhasil, pengalaman belajar kami tidak semaksimal seperti yang saya ceritakan di tulisan ini. Harapan saya, para pembaca sekalian yang berencana mengajak anak-anak atau anggota kelompok bermain bisa mendapat manfaat paling ideal dari hiking di tempat yang indah tapi berharga ini.

Bagaimana misalnya kalau Anda ingin hiking ke tempat lain? Apa saja yang bisa dipelajari saat hiking di tempat tersebut? Tentu ada banyak hal berbeda yang bisa dipelajari. Untuk mengetahui poin-poin yang bisa diambil ini, kita bisa mencari tahu sejarah tempat tersebut (banyak lho tempat hiking yang di puncaknya terdapat punden atau makam orang-orang yang dihormati), vegetasi yang ada di sana, baik yang endemik maupun yang dinaturalisasi dari tempat lain, fauna yang khas di daerah tersebut, atau topografi alamnya. Idealnya sih memang kalau fakta-fakta ini sudah ditemukan sebelum berangkat lintas alam. Dengan begitu, ada target 4-5 hal yang bisa dipelajari anak-anak sambil jalan-jalan.

Semoga pengalaman hiking dari Budug Asu ini bisa memantik minat untuk berlintas alam bersama anak-anak dan mendapatkan satu dua hal yang bisa diketahui anak-anak. Ya, pendeknya, kita bisa menerapkan Merdeka Belajar di Budug Asu ini. Kalau ingin jalur detail hiking saya ini, silakan lihat di sini. Selamat menjelajah, bermain, belajar, dan mencintai alam.

Budug Asu: Pendakian via Kebun Teh Wonosari, Lawang

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini