Budaya Masjid dan Pasar di Televisi

budaya-masjid-dan-pasar-di-televisi
Anak-anak menonton acara televisi. (Foto : soulofjakarta.com),

Oleh : Sugeng Winarno*

Terakota.id–Bulan Ramadan telah menjadi ajang pertemuan antara budaya masjid dan budaya pasar. Lihat saja televisi. Beragam acara yang bernuansa masjid seperti ceramah agama, talkshow bertema islam, kajian kitab dan hadist, lomba da’i, dan majelis taklim setiap hari muncul di televisi. Pada saat yang sama, di televisi juga muncul budaya pasar lewat berbagai program hiburan yang sarat dengan iklan yang mengajak orang berbelanja layaknya di pasar.

Menurut Kuntowijoyo, ada dua budaya yakni budaya masjid dan budaya pasar. Budaya masjid menggambarkan religiusitas dan jauh dari sifat foya-foya, sementara budaya pasar adalah budaya yang penuh dengan tipudaya dan lebih mementingkan materi. Televisi telah membawa menuju pada budaya pasar. Komersialisasi media telah merepresentaskan agama dalam ruang profan dan hedonis.

Di televisi, beragam acara keagamaan yang idealnya merepresentasikan budaya masjid justru bercampur dengan budaya pasar. Di beberapa acara yang menghadirkan ustad dan ustazah tak jarang sarat dengan muatan yang bermakna jualan. Melalui baju, kopiah, kerudung, dan beragam model kostum dan aksesoris yang dikenakan sang tokoh adalah produk iklan.

Tak jarang sang pengisi acara menjadi pihak yang turut memromosikan produk. Mereka menjadi endorser brand tertentu. Harapannya jamaah yang sedang menyaksikan acara tersebut terpikat, yang akhirnya turut membeli apa saja yang dikenakan dan disampaikan sang pengisi acara televisi. Dalam situasi ini, acara religi di televisi jadi sarana melajunya budaya pasar.

Logika Televisi

Acara televisi selama Ramadan dari tahun ke tahun hampir serupa. Acara selalu berulang dengan kemasan yang sama. Tak semua acara di kemas dengan isi yang sejalan dengan nilai-nilai Ramadan. Televisi seperti sekedar memanfaatkan momentum Ramadan ini untuk mendulang banyak iklan.  Ya, inilah logika televisi, karena dia adalah entitas bisnis, maka logika yang dipakai adalah bagaimana mendapat keuntungan sebanyak banyaknya.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan logika yang dimainkan televisi ini. Karena televisi (terutama televisi swasta) adalah sebuah industri padat modal yang butuh biaya besar dalam operasionalnya. Iklan adalah sumber pendapatan utama stasiun televisi. Maka logika mendapatkan iklan sebanyak mungkin dari setiap acara yang dibuat menjadi sebuah harga mati bagi pengelola televisi.

Perilaku televisi saat Ramadan ini sah-sah saja sebagai lembaga profit. Namun hendaknya tak ada yang jadi korban dalam praktik ini. Masyarakat luas, para penonton televisi idealnya menjadi perhatian utama. Televisi tak bijak kalau hanya merayu dan memberi iming-iming penonton agar menonton acara, namun kemanfaatan dari acara itu justru berdampak buruk bagi pemirsa.

Logika yang idealnya dibangun oleh televisi adalah menempatkan penonton sebagai khalayak yang harus diberdayakan, diberi pendidikan dan pencerahan, agar televisi juga menjalankan fungsi sebagai media yang mencerdaskan umat. Namun beberapa stasiun televisi selama Ramadan ini terlihat lebih memilih menjadikan Ramadan sebagai komoditas yang digunakan untuk merayu penonton agar konsumtif.

Logika televisi tak bisa lepas dari sudut pandang kapitalis. Televisi menjadikan segala sesuatu sebagai materi yang layak jual, termasuk agama. Disinilah proses komodifikasi terjadi. Komodifikasi berarti merubah agama menjadi barang dagangan yang dapat dijual, membawanya ke cara transaksi dagang layaknya di pasar.

Acara agama selama Ramadan dapat dilihat sebagai sebuah bentuk industri dakwah kreatif. Muncul tren baju koko dan model hijab atau busana muslim para ustazah berkat hipnotis televisi. Tak jarang para muslim menggunakan produk-produk islami karena beranggapan bahwa hal tersebut sebagai bentuk perwujudan keimanan, padahal sejatinya itu adalah perpanjangan tangan kaum kapitalis.

Komodifikasi Agama

Agama dan hal-hal yang terkait dengan agama, seperti Ramadan saat ini telah menjadi sebuah komoditas. Seperti layaknya komoditas barang atau jasa, maka sebuah komoditas pasti mempunyai nilai jual yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan. Disinilah Ramadan telah dipandang sebagai komoditas dan media (televisi) telah melakukan komodifikasi atas agama.

Lihat saja acara-acara pengajian dalam kemasan majelis taklim. Acara dikemas dengan unsur hiburan yang lebih menonjol. Majelis taklim itu dikemas jadi “Taklimtainment”. Sebuah majelis taklim yang disajikan dengan balutan hiburan (entertainment) yang kental. Tak jarang justru muatan hiburannya yang lebih kentara ketimbang esensi dakwahnya. Esensi taklim sebagai sarana pengajaran agama Islam telah terdistorsi karena unsur hiburan yang lebih mengemuka.

Tak jarang beberapa ustad atau ustazah yang muncul sekaligus menjadi bintang iklan produk tertentu. Bahkan tak jarang busana dan beragam aksesoris yang dikenakan para penceramah itu di endorse merk tertentu.  Dalam penampilan sang penceramah dan pengisi acara lain itu bernilai promosi pada produk tertentu. Disinilah letak persoalan yang bisa bernilai negatif bagi pemirsa.

Budaya konsumerisme justru muncul dari acara-acara yang bersifat keagamaan. Terjadi situasi yang bertolak belakang (paradok) antara konten pesan-pesan dakwah keagamaan yang dituturkan para penceramah dengan pesan-pesan lain yang melekat dalam diri dan perilaku sang da’i. Di satu sisi para penceramah menganjurkan hidup sederhana dan tak bermewah-mewah, sementara pada kesempatan yang sama seperti dia menganjurkan agar masyarakat memberi produk-produk iklan yang lagi tayang.

Inilah tantangan dakwah di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang super canggih saat ini. Format dakwah di media yang ideal harus terus dicari. Jangan sampai terjadi seperti apa kata pepatah Jawa kuno yang mengatakan “Sesuk in akhire jaman, tuntunan dadi tontonan, lan tontonan dadi tuntunan”.

Mendatangi majelis taklim ke tempat-tempat ibadah memang positip. Menyaksikan acara majelis taklim lewat layar kaca juga bernilai baik. Namun untuk mencerna pesan dakwah di media perlu kedewasaan, sikap kritis dan waspada agar terhindar dari muatan negatif yang mungkin menyertai dalam acara tersebut.

Semua pemirsa televisi hendaknya dapat memilih dan memilah mana pesan-pesan dakwah yang senada dengan nilai positif bulan puasa, dan mana pula yang harus di cerca. Maka jangan telan mentah-mentah budaya masjid yang telah bercampur dengan budaya pasar yang muncul di layar kaca. Mari terus kritis dan sehat bermedia.

*) Penulis adalah Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

3 KOMENTAR

  1. […] Terakota.id–-Dalam sebuah surat tertanggal 31 Maret 1966, yang dikirimkan kepada Goenawan Muhamad yang baru tiba di Eropa, kritikus sastra H.B. Jassin menceritakan bagaimana penyair Taufik Ismail terlibat aktif dalam berbagai demonstrasi mahasiswa dan turut “berjuang dengan puisi”. Jassin melanjutkan tulisan dalam suratnya bahwa kumpulan sajak Taufik Ismail yang berjudul “Tirani” yang distensil tercipta dari situasi demonsrasi itu. […]

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini