Malam bakupas. Arcylics and oils on canvas. 180 x 200 cm, 2020. Torang datang iris rica bawang perah santan pondang. Sate balanga, kuah hitam, acar manisan torang siram bulan basah wangi.rempah hakiki. (Foto : Syam Terrajana).
Iklan terakota

Oleh : Anang Zakaria*

Terakota.id-Dinding ruang tengah di Ruang Dalam Art House penuh oleh 85 panel berukuran 90 sentimeter persegi pada hari itu. Ada yang berisi coretan tak berarti, mirip puisi setengah jadi, ketikan tulisan tanpa makna, sketsa tak berbentuk, sampai kolase barang bekas. Inilah Syam Terrajana.

“Apa ini?” tanyaku pada Syam, sang empu panel-panel itu. Lelucon apa yang ia rencanakan dengan menghias dinding galeri seni terhormat di Yogyakarta dengan karya macam itu.

“Ini seperti buang hajat buatku,” jawabnya.

Guyon opo maneh arek iki, batinku dalam hati. Kulirik dia, tak tampak senyum di wajah. Suaranya pun terdengar mantap dan berat, pertanda ia serius dengan jawabannya. “Apa maksudmu?”

Ia bercerita karya-karya itu lahir dua minggu menjelang pameran. Dibuat di sela persiapan pembukaan, di saat raga kurang tidur tapi pikiran melayang ke mana-mana. “Pengen nyeket ya bikin sketsa, pengen nulis ya nulis, nemu potongan selotip ya tempel aja.”

Ia terus ngoceh tentang ini dan itu. Aku mendengar tapi tak menyimak. Kali ini, perhatianku sibuk pada mesin ketik yang teronggok di atas meja, di bawah panel-panel tak jelas itu.

Di sana aku menemukan sepotong kenangan menulis. Ide, gagasan, kerap terpercik begitu saja. Disimpan mules, dikeluarkan bau. Tak jelas. Maka cara terbaik untuk menulis, mulailah menulis. Seperti orang buang hajat, lepas dan lupakan. Ojo digetuni.

 Sore itu, melihat karya-karya Syam, aku menziarahi diri sendiri.

***

Syamsul Huda nama aslinya. Entah bagaimana orang lebih mengenalnya sebagai Syam Terrajana. Semisterius jalan hidupnya. Kuliah jurusan Perbandingan Agama justru jatuh hati pada teater dan sastra. Naskah drama karya Anton Chekhov dan Sophocles, misalnya, pernah ia pentaskan. Maksud hati menggeluti sastra pascakuliah, ia justru terjebak dalam dunia jurnalistik. Jangankan akrab dengan Persma pas kuliah, kenal pun tidak.

“Mungkin karma,” katanya berdalih. Baginya, itu lebih beruntung dibanding kerja di balik meja KUA.

Tapi aku tak percaya orang seperti dia percaya karma. Satu-satunya dunia gaib yang ia yakini hanya tuyul. Empat tahun lalu, ia pernah mempertontonkan padaku serombongan tuyul baris, berkeliaran di sebuah hotel bintang lima di Surakarta. Alih-alih ngeri, malah geli.

Ejaan lama. Acrylics, oils on canvas 135 x 135 cm, 2020. Kata hilang mantra mantra hilang bahasa bahasa hilang pelita. O segala musim segala gulita. (Foto : Syam Terrajana).

Belasan tahun kemudian setelah meniti karir jurnalistik, ketika hampir ditabalkan jadi begawan, Syam malah putar haluan. Ia fokus belajar menggambar sejak tiga tahun lalu. Di depan Gusmen Heriadi, Syam tak ragu menempatkan diri sebagai cantrik. “Bahasa kerennya residensi, tapi aku lebih suka dengan nyantrik,” katanya.

Dua puluhan pameran bersama di berbagai kota pernah ia lakoni. Bulan ini, ia berkesempatan menggelar pameran tunggal, bertajuk “Pada Ruang Yang Bercerita” di Ruang Dalam Art House Yogyakarta, 5-15 Maret 2021. Ada 15 karya terpajang di sana. Dari lukisan, instalasi, juga video.

Ruang, seperti kamar, punya dimensi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita lazim masuk-keluar ruang.

Ruang, seperti peran, punya eksistensi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita lazim memainkan sejumlah peran.

Dalam karyanya, Syam mengeksplorasi ruang. Ia mereproduksi subjek tertentu ke dalam lukisannya. “Gambar orang-orang dalam lukisan-lukisan itu bersumber dari foto,” katanya.

“Itu?” aku menunjuk lukisan berjudul “Malam Bakupas” berukuran 180×200 cm di depan pintu masuk.

“Itu gambar anggota keluargaku. Kuambil dari 3 foto dan kulukis ulang di sana.”

Aku menangkap ada kerinduan di sana. Subjek yang kasat mata terpisah dihimpun dalam satu ruang imaji yang sama.

Dalam konsep ruang, Syam bicara banyak persoalan. Sosial, politik, sampai budaya. Ia bicara tentang Papua, juga narasi kuasa. Sesuatu yang sekilas berbeda dan terpisah, ternyata punya relasi kuat. Di mana-mana, ke mana-mana.

“Dadi kowe iki arep dadi seniman opo wartawan?” tanyaku saat kehabisan bahan obrolan.

“Fivety-fivety,” katanya keminggris. “Yang jelas aku gak akan meninggalkan dunia jurnalis, dunia penuh energi.”

Enak men kowe, bisa keluar-masuk ruang lalu bercerita sebebas-bebasnya. Selamat Syam, kamu jadi “Binatang Jalang” yang tak henti “Meradang Menerjang”.

 

*Pegawai swasta yang hobi menulis

**Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini