Bu Tejo, Satu Cermin Banyak Gambar

Ilustrasi : ravacanafilms.com

Terakota.idBu Tejo  – pemeran utama dalam film pendek Tilik — itu cermin. Karenanya, ia bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Ia juga bisa mencerminkan banyak hal. Semua tergantung cara pandang masing-masing. Namanya juga cermin, sangat tergantung sudut pandang masing-masing orang, bukan?

Coba sekali-kali Anda bercermin dengan rebahan. Satu menit kemudian bercermin dengan duduk. Dengan atribut, raut muka yang sama apa yang Anda hasilkan? Beda bukan? Bagaimana dengan orang lain yang bercermin dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas sementara mengharapkan sebuah gambar kayak bintang sinteron Lee Min Ho?. Nah, itulah cermin.

Analogi sederhana lainnya begini. Ambil kacamata hitam. Lihat sekitar. Lalu kemudian ambil kacamata bening, lihat juga sekitar. Kemudian pinjam kacamata plus milik orang tua, jangan lupa lihat sekitar. Apa komentar Anda? Hasilnya bagaimana? Sama? Tentu tidak. Nah itulah bingkai. Bingkai kacamata yang ikut memengaruhi sudut pandang seorang memutuskan sesuatu dan menyampaikan sesuatu yang lain atas apa yang dilihatnya.

Nah, masih berdebat soal film Tilik? Tidak usah sewot. Ia hanya film. Tidak usah menuduh-nuduh  film itu mendorong munculnya ghibah, menyuburkan contoh hoaks, tidak mencerminkan semangat feminisme, menyudutkan warga desa, atau menelanjangi secara negatif ibu-ibu pengajian yang sedang bergunjing. Tidak usah terlalu njlimet begitu.

Film Tilik yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo (lulusan Ilmu Komunikasi Univesitas Muhammadiyah Yogyakarta) itu hanya cermin. Ia tak jauh berbeda dengan media. Tak jauh berbeda pula dengan film-film yang lain. Film dan juga media itu cermin masyarakat. Ia mencoba mencerminkan setiap kejadian di masyarakat. Tentu tak akan bisa mewakili semua yang ada di masyarakat, bukan? Namanya juga hanya cermin.

Ia bisa mewakili sebuah kelompok tertentu, menentang kelompok lain tetapi ia bisa dikatakan mewakili sebuah fakta di masyarakat. Kalau kita sudah punya sudut pandang begini akan mudah untuk mendiskusikan sebuah “cermin” bernama Tilik yang ditulis oleh Bagus Sumartono dan diproduseri oleh Elena-Rosmeisara tersebut.

Potret Hidup

Kita diskusikan film dengan pemeran Bu Tejo, Yu Ning, Yu Sam, Yu Tri, Yu Nah, Ibu Berjilbab Kuning, Gotrek dan lain-lain secara enteng-entengan saja. Anggap saja film yang diperankan Siti Fauziah (bu Tejo ) itu untuk hiburan. Mengapa hiburan? Ya namanya juga film. Tapi nanti dulu. Film Tilik memang hiburan tetapi ia hiburan cerdas yang mengorek banyak hal yang terjadi di sekitar kehidupan manusia. Maka, iaa bukan lagi sekadar cermin pergaulan orang-orang desa, tetapi ia bisa dicerminkan banyak hal dalam skala yang lebih luas yakni negara.

Memang diakui bahwa film Tilik menggambarkan pergaulan ibu-ibu pengajian yang berkumpul. Berkumpul dengan suatu tujuan. Kalau tidak ada ikatan emosional mana mungkin mereka peduli mengengok orang sakit (bu Lurah)? Perkara ada bumbu-bumbu gosip itu hal wajar. Ia juga terjadi pada semua kelompok orang yang sedang bersama-sama dalam waktu agak lama.. Tidak percaya? Ya silakan pergi dengan beberapa teman. Pasti akan ada gosip. Hanya gosipnya tergantung kepentingan, latar belakang dan peristiwa yang melekat pada keoompok itu.

Rombongan dosen tentu tak akan menggosip Dian (keponakan yu Ning) sebagaimana bu Tejo . Gosip tentu seputar kampus, dosen lain dan mahasiswa. Apakah gosip di kalangan dosen ini lebih ilmiah dan berbobot? Ya tidak juga. Gosip teteplah gosip. Ia ada di setiap perkumpulan orang. Hanya tema gosipnya beda, tujuannya juga tak sama serta bobot gosipnya juga tak sama. Gosip sangat tergantung pada bahan dasar yang dipunyai masing-masing individu. Bu Tejo  dan kawan-kawan dalam truk itu tak mungkin nggosip soal mahasiswa rebahan saat Pandemi. Jadi, bahan dasar gosip tergantung dari pada yang dialami masing-masing orang yang terlibat.

Cermin Indonesia

Sekali lagi, Tilik itu sebuah cermin. Tentu tak bisa menyimpulkan bahwa perempuan Jawa jika berkumpul seperti yang tergambar dalam film — yang disponsori Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu – hanya soal nggosip atau ghibah. Itu hanya salah satu cermin dari sekian fakta-fakta yang ada di sekitar kehidupan desa.

Sebuah cermin hanya mengungkapkan sebagian kecil dari peristiwa yang ada di depan cermin. Fakta lain tentu masih banyak. Manusia saja sebuah cermin yang tidak bisa mewakili semua peristiwa yang diceritakan. Manusia melihat peristiwa, lalu masuk ke memori di kepalanya (dibingkai), lalu diungkapkan. Ia hanya mewakili sebagian saja kan?

Namun demikian Tilik menyadarkan, bahwa realitas sekitar kita, hampir mirip sebagaimana yang diceritakan dalam film pendek produksi Ravacana Films tersebut. Misalnya, orang yang berwatak seperti bu Tejo  juga banyak di sekitar kita. Bu Tejo  hanya mewakili sekian banyak orang.  Jadi berterimakasihlah pada bu Tejo  yang mewakili perasaan banyak orang. Tak terkecuali film Tilik.

Saya ambil contoh kecilnya. Ada orang yang senang memberi “amplop” ke orang lain sebagaimana  bu Tejo  memberikannya pada Gotrek (sopir truk). Lalu diselipi pembicaraan bahwa sudah saatnya jabatan Lurah diganti. Sebagai suami pengusaha, bu Tejo tentu tidak lepas dari koneksi dan jaringan usahanya. Bu Tejo  juga berkepentingan soal itu.

Bisa jadi dalam lingkup luas banyak dilakukan para pengusaha yang punya koneksi ke kekuasaan. Tak sedikit pengusaha sukses yang punya koneksi kekuasaan. Setelah berkuasa, dengan uang yang dimiliki, ia ingin merengkuh kekuasaan politik. Gambaran keinginan bu Tejo  yang berharap pada Gotrek (dengan memberi amplop) dan kawan lain dalam truk untuk mendukung keinginan bu Tejo, mencerminkan realitas politik di sekitar kita.

Berapa banyak para pengusaha yang akhirnya menjadi penguasa di sejumlah daerah? Bisa juga bu Tejo  mendukung calon Lurah (bukan suaminya) yang berpotensi tetapi tak punya dana. Nanti yang menguasai aset tetap bu Tejo  karena dia “sponsor” utama dalam peilihan Lurah mendatang. Ini hanya cerita sekilas dari secuil adegan. Semua gambaran film tentu tak akan mungkin bisa diceritakan dalam tulisan singkat ini. Sama seperti sebuah cermin yang tak akan mungkin menggambarkan seluruh kejadian di sekitar cermin itu. Tetapi ia mewakili dengan sudut pandangnya masing-masing.

Tilik juga gambaran masyarakat “tengah-tengah”, antara rural dan urban. Ibu-ibu dalam film Tilik, dilihat dari atribut fisiknya orang desa, memakai atribut layaknya orang desa, berperilaku juga seperti umumnya orang desa, tetapi dalam penguasaan informasi mereka menuju ke kota. Bukan berarti mereka sama seperti orang-orang kota tetapi hanya menuju.

Apa cerminannya? Mereka juga bisa mengakses informasi seperti masyarakat kota dengan melalui internet. Internet tentu hal baru, khas masyarakat kota. Karena hal baru tentu cenderung dipercaya sepenuhnya. Mereka masyarakat desa yang sedang kena banjir informasi. Jadi kadang tak bisa membedakan mana informasi yang benar mana yang salah. Pokoknya, sebagaimana manusia umumnya, sesuatu yang baru diyakini dan dianggap punya kebenaran.

Gambaran itu bisa melukiskan masyarakat di Indonesia. Kita bangsa yang “setengah-setengah”. Maju juga tidak, terbelakang juga tidak. Kita menuju ke negara maju, bukan negara maju itu sendiri. Berbagai informasi deras mengalir, iming-iming utang luar negeri, ketergantungan pada “asing” tidak berkurang. Sehingga, ini membuat berbagai informasi saling silang dan tumpang tindih jadi satu.  Ruwet bukan?

Kalau kita mau mengamati Indonesia lihatlah film Tilik itu saja. Ada banyak kepentingan yang bermain di dalamnya. Apapun yang dilakukan oleh orang-orang dalam truk, bu Tejo  tetap menjadi bintang. Bintang karena dia bersuami orang kaya, punya akses informasi banyak dan “banyak omong”.

Di sekitar kita, orang-orang seperti itu juga akan menjadi magnet. Bukankah “banyak omong” itu mencerminkan banyaknya buzzer dalam kancah kehidupan di sekitar kita? Buzzer itu ya dibayar untuk kepentingan tertentu. Bu Tejo  juga “dibayar”  untuk kepentingan suaminya menjadi Lurah.

Film Tilik adalah satu cermin dari banyak gambar. Dari padanya kita bisa melihat realitas sosial dan dari padanya kita bisa belajar banyak hal. Pun dari padanya pula kita bisa melihat peta Indonesia.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini