Bromo Semeru Tutup Selama PPKM Darurat, Silakan Atur Ulang Jadwal Kunjungan

bulan-bebas-kendaraan-bermotor-di-kaldera-tengger-demi-pulihkan-alam-dan-kearifan-lokal
Wisatawan berkuda di kawasan lautan pasir Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur 21 Juli 2018. Mereka menyewakan jasa menunggang kuda kepada wisatawan yang ingin menuju puncak gunung Bromo dengan tarif berkisar antara 100-150 ribu. Terakota.id/Aris Hidayat

Terakota.id – Wisata Gunung Bromo dan Semeru tutup sementara. Kebijakan ini berlangsung selama penerapan masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan masyarakat atau PPKM Darurat pada 3-20 Juli 2021. Wisatawan bisa menjadwal ulang kunjungan wisatanya.

Kebijakan kawasan Bromo dan Semeru ditutup sementara mengacu pada Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 15 tahun 2021 tentang PPKM Darurat di Jawa Bali. Sebab pandemi belum usai dan jumlah kasus Covid-19 meningkat tajam beberapa pekan terakhir ini.

Bagi calon pendaki Gunung Semeru dan wisata Bromo yang terlanjur sudah booking tiket secara online pada periode itu tak perlu bingung. Sebab Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menjamin tiket yang sudah dipesan pengunjung bertepatan dengan masa PPKM Darurat tak akan hangus.

“Kami sampaikan pada yang sudah booking, tiketnya tidak hangus dan dapat menjadwal ulang rencana kunjungannya,” kata Kepala Sub Bagian Data dan Humas BB TNBTS, Sarif Hidayat, Sabtu, 3 Juli 2021.

Otoritas taman nasional sedang menyiapkan mekanisme dan prosedur penjadwalan ulang kunjungan wisatawan itu. Dalam waktu dekat informasi bakal dibagikan ke publik melalui media sosial resmi mereka.

Bila memungkinkan, pengunjung yang sudah pesan tiket juga bakal dihubungi langsung terkait reschedule kunjungannya. “Nanti ada tautan yang kami bagikan melaui akun instagram kami atau WhatsApp yang bersangkutan,” ucap Sarif.

Meski begitu, dalam penjadwalan itu bukan berarti pengunjung dapat menambah jumlah hari kunjungan maupun anggota rombongan. “Jumlah hari dan anggota tetap sama seperti pendaftaran sebelumnya,” kata Sarif.

Namun, calon pengunjung sebaiknya tak terburu dalam menentukan jadwal kunjungan terbaru mereka. Ada baiknya selalu memantau situasi pandemi dan penanganannya. Sebab kondisi itu juga memengaruhi jadwal operasi tempat wisata. Selama pandemi ini sudah beberapa kali kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ditutup sementara.

Sisi Positif Pandemi ke Semeru dan Bromo

Bagi wisatawan dan pelaku industri pariwisata, tutupnya tempat wisata seperti kawasan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ditutup sementara jadi kabar buruk. Dari sisi ekologis, pandemi Covid-19 punya sisi positif untuk keberlanjutan lingkungan.

Di awal pandemi tahun lalu, Bromo dan Semeru juga tutup panjang untuk kegiatan pariwisata. Begitu dibuka lagi untuk wisata, otoritas taman nasional menerapkan pembatasan kuota pengunjung. Kebijakan itu menyebabkan tidak ada kepadatan wisatawan.

Hal itu berdampak positif pada pemulihan ekosistem di kawasan taman nasional. Beberapa jenis tanaman endemik dapat tumbuh dengan baik. Peristiwa kebakaran lahan dan hutan pun turun tajam. Fakta itu menunjukkan secara ekologi, pandemi punya sisi positif.

“Semakin sedikit yang menginjakkan kaki di taman nasional, maka banyak tanaman bisa tumbuh dengan baik,” kata kata Plt Kepala Balai Besar TNBTS, Novita Kusuma Wardani awal Juni silam.

Ia mencontohkan, rumput malelo (Brachiaria mutica) serta anggrek Habenaria tosariensis, salah satu anggrek endemik TNBTS semakin mudah dijumpai di taman nasional. Itu belum termasuk berbagai jenis tanaman endemik lainnya maupun penambahan populasi satwa.

“Resiko kebakaran di taman nasional juga berkurang tajam selama pandemi. Jadi secara ekologis, pandemi ada sisi baiknya,” ucap Novita.

Data BB TNBTS, pada 2020 lalu hanya 6 hektar luas hutan dan lahan yang terbakar. Sangat jauh dibanding tahun sebelumnya yang tercatat ada seluas 978 hektar hutan dan lahan hangus terbakar. Salah satu pemicunya karena rendahnya aktivitas manusia di taman nasional.

Selama pandemi wisatawan di Bromo dan Semeru turun tajam. Pada 2020 ada 193.733 wisatawan nusantara (wisnu) dan 2.658 wisatawan mancanegara (wisman). Padahal pada 2019 ada 699.021 wisnu dan 22.061 wisman. Lalu 2018 ada 800.130 wisnu dan 25.076 wisman.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini