Borobudur Pusat Musik Dunia

Terakota.idBagaimana konstruksi identitas budaya berproses dan bertransformasi dalam proyek seperti Sound of Borobudur? Bagaimana penelitian tentang “sound-scape” masa kini, bisa dirujuk ke masa lalu? Silakan hadir dalam Seminar dan Lokakarya “Borobudur” Pusat Musik Dunia secara daring mulai 7-9 April 2021.

Informasi resmi bisa klik di website Sound of Borobudur.  Acara ini gratis, namun peserta dibatasi 300 orang via zoom. Borobudur  diakui menjadi situs warisan dunia oleh UNESCO pada  1991. Candi terbesar di dunia dengan 1460 relief dan  504 stupa, berdiri pada abad ke-9 pada masa kerajaan Mataram dari Dinasti Syailendra.

Candi ini sempat hilang ditelan hutan. Ditemukan kembali pada 1814 oleh Gubernur Letnan india Belanda S.T.Raffles. Penemuan candi ini mencengangkan dunia, membuka mata Eropa tentang “keberadaban peradaban tingkat tinggi yang  dicapai di Asia Tenggara Kuno”. (Miksic, 2012, hal 18).

Mengapa candi Budha yang termegah di dunia justru ditemukan di Jawa? Tak pernah usai digali adalah cakupan relief candi. Bukan hanya mencakup berbagai siklus kehidupan manusia, jenis tingkah laku dan tipe manusia, tetapi juga flora fauna, kehidupan sosial politik, dan kesenian.

Candi ini merupakan sumber pengetahuan yang belum tuntas diungkap. Termasuk tentang lingkungan hidup dan aspek kultural yang sedemikian kaya pada masa lalu. Sifat kosmopolitan yang sudah dicerminkan bangunan arkeologis dari abad ke-9 ini. Semua ini mengerucut pada posisinya sebagai pusat peradaban dunia.

Borobudur sebagai Pusat Musik Dunia

​Sekelompok musisi awalnya meriset dan mewujudkan alat musik yang terpahat di relief. Seperangkat dawai dan alat gerabah yang sudah punah telah melalui rekacipta, instrumen musik abad ke-8 itu dipertemukan dengan berbagai alat yang dikumpulkan dari 34 propinsi di Indonesia.

Mereka membuat komposisi, aransemen, dan berkumpul untuk membunyikan relief itu dalam interpretasi kekinian. Merekam belasan komposisi dan melakukan perekaman gambar. Relief itu sudah berbunyi. Sound of Borobudur berkumandang. Trie Utami, Dewa Budjana didukung Purwa Caraka sebagai Eksekutif Produser menghasilkan musikal menjadi arus besar.

Sound of Borobudur adalah perjalanan panjang yang melampaui berbagai tahapan. Sebuah Lokomotif yang berjalan, membawa segenap gerbong di belakangnya, menembus ruang, waktu dan peristiwa.

Candi Borobudur. (Foto : http://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Manfaat multidimensi  diwujudkan dengan gerakan untuk merekatkan persaudaraan lintas suku/bangsa untuk menemukan  ati diri bangsa. Melalui Indonesian Cultural Summit.  Dilanjutkanmengaktualisasikan kejayaan peradaban Asia masa  lalu di masa kini dan masa depan melalui Asia Cultural Summit.

Menghadirkan kembali semangat Bandung dengan membagikan kekayaan musik lintas budaya ke tataran Asia Afrika. Diharapkan gerakan Sound of Borobudur dapat berujung pada World Summit encakupi berbagai benua dengan moto: “Dengan Musik Merawat Dunia”.

Diharapkan masyarakat  sekitar candi memiliki potensi ekonomi berantai ketika Indonesia menjadi Pusat Musik Dunia. Juga menjadi Pusat Tradisi Dunia.

Kajian mengenai Borobudur

​Untuk membangun landasan ilmiah dari gerakan Sound of Borobudur yang berjangka panjang digelar seminar dan lokakarya untuk menghasilkan jurnal ilmiah mengenai konstelasi alat musik dan kehidupan musik di masa lampau. Puncak peradaban di Asia tersujud dalam bentuk kesenian musik seperti terpahat di Borobudur.

Seminar tiga hari  akan menampilkan pembicara yang ahli di bidangnya. Pemahaman dan latar belakang keilmuan yang beragam dan saling melengkapi. Seminar dan lokakarya Borobudur Pusat Musik Dunia merupakan langkah pertama sosialisasi Sound of Borobudur kepada masyarakat luas.

​Menghadirkan lima pakar dari bidang cultural studies, sejarah, arkeologi, antropologi dan etnomusikologi. Dari aspek cultural studies diharapkan dapat mengkaji relevansi kekinian dari konsep Borobudur sebagai pusat musik dunia. Bagaimana konsep Borobudur sebagai Pusat Musik Dunia.

Dari pendekatan sejarah diharapkan menunjukkan pengetahuan terkini entang posisi Borobudur sebagai pusat peradaban dunia. Pendekatan sejarah  dan mengungkap persilangan antara aspek ekonomi-politik-budaya yang terefleksikan dalam keberadaan Candi dan reliefnya.

Pendekatan antropologi diharapkan  merekonstruksi asyarakat, budaya serta nilai-nilai yang hidup di zaman yang terefleksikan dalam relief Candi Borobudur.  Sementara Penelitian arkeologi antropologi, mengidentifikasi gaya busana hidup masyarakat.

Pendekatan etnomusikologi menjadi landasan penting untuk memetakan tipologi alat-alat kesenian yang terwujud dalam relief candi. Serta asal-usulnya dari berbagai wilayah dunia. Pendekatan enomusikologi membayangkan sound-scape pada masa lalu dan kemungkinan perwujudannya  masa kini di era global.

Silakan  mendaftarkan diri

Form Pendaftaran : https://bit.ly/3weXWbJ
Link Akun Sosmed : https://linktr.ee/soundofborobudur

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini