Bisnis Kuliner, Cara Pelaku Pariwisata Beradaptasi pada Masa Pendemi

Kedai Rupa Duta menjadi tempat bertemu dan berdiskusi anak muda serta para pelaku pariwisata. (Foto: Kedai Rupa Duta).

Terakota.id—Puluhan anak muda duduk meriung berkelompok. Ada yang asyik dengan gawai masing-masing, sebagian bercengkrama dan menikmati aneka kuliner, kudapan dan minuman di Kedai Rupa Duta. Kedai yang terletak di Jalan Pekalongan Nomor 15 Kota Malang ini menjadi tempat nongkrong, berinteraksi dan berdiskusi sekaligus.

Berada di kawasan yang dekat dengan sejumlah perguruan tinggi, kedai menjadi tempat asyik para mahasiswa berkumpul. Kedai dikelola para pelaku wisata Jawa Timur yang tergabung dalam East Java Ecotourism Forum (EJEF). Beranggotakan 250 kelompok pengelola pariwisata, yang terpukul selama Pandemi Covid-19.

Sehingga, EJEF menginisiasi mendirikan Rumah Pangan Duta Ekowisata (Rupa Duta) untuk menampung dan mendistribusikan bahan pangan, olahan dan kerajinan produksi pelaku ekowisata di Jatim. Lantas berkembang dengan membuka Kedai Rupa Duta merupakan salah satu usaha yang dirintis sejak 22 Desember 2020.

“Model kerjasama secara adil dan setara,” kata Manajer Rupa Duta, Tri Sulihanto Putra.  Konsepnya, kedai menjadi ruang diskusi dan bertemu para pelaku pariwisata dan jejaringnya. Serta menjadi etalase produk yang dihasilkan anggota EJEF, sebagai bagian adaptasi terhadap dampak ekonomi pasca Covid-19.

Pengunjung bisa mendapati beragam varian kopi, martabak, kentang, risoles dan tahu walik. Harganya terjangkau mulai Rp5.000 sampai Rp12.000. Selain itu, juga menawarkan aneka minuman herbal, sirup jahe, dan sambal. Serta aneka oleh-oleh dan makanan olahan.

Aneka kudapan dan kuliner tersaji, ditawarkan untuk para pengunjung. (Foto: Kedai Rupa Duta).

Ada beragam produk olahan sehat dan ramah lingkungan, antara lain, terasi udang Bu Yani Rp15.000, petis tuna Rp7.000, teri kering 250 gram Rp35.000, kopi Panderman Margojoyo 250 gram Rp40.000, dan kopi robusta Semeru Marjo 200 gram Rp30.000.

Juga ada, beragam jenis madu ukuran 200 mililiter Rp35.000-Rp45.000, 500 gram Rp75.000-Rp90.000. Juga aneka produk minuman olahan, jeruk, mint, stowberi, lemon kering Rp25.000-Rp30.000. Selain menawarkan produk di kedai, mereka juga terbantu dengan jasa pesan antar makanan atau food delivery.

Penjualan aneka jenis makanan dan minuman terdongkrak naik. Penjualan secara daring melalui jasa pesan antar makanan menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan penjualan. Sejak awal berdiri, Kedai Rupa Duta menyadari jika pasar daring cukup besar dan bisa dikerjakan secara maksimal.

UMKM Go Digital

Staf khusus Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Fiki Satari mendata sebanyak 64 juta pelaku UMKM di Indonesia. Data pelaku UMKM lengkap, katanya, mulai nama, alamat, lokasi dan jenis usaha. Sekitar 90 persen usaha ultra mikro, beruapa pelaku usaha makanan yang berjualan di pinggir jalan. Pelaku UMKM banyak di sektor informal, karena sektor kecil menengah kurang menyerap tenaga kerja.

“Dibutuhkan lokomotif yang kuat untuk menarik gerbong besar ini,” katanya. Kementerian, katanya, mengintervensi agar usaha kecil semakin kuat dan naik kelas menjadi usaha menengah. Sedangkan usaha menengah menjadi besar. Sementara usaha mikro membantu jadi vendor untuk memasok usaha kecil dan menengah.

Kemenkop dan UKM juga meluncurkan pasar digital, sebanyak 8 juta UMKM telah memasarkan produk secara daring. Atau sekitar 13 persen dari total pelaku UMKM. Targetnya tahun ini bisa melampaui 10 juta UMKM yang bermigrasi ke digital.

“Bagaimana masuk digital, bisa bertahan, kuat dan menang dalam kompetisi. Ini jadi tantangan di platform niaga elektronik,” ujarnya. UMKM yang terdaftar, diberi bantuan dan diberi beragam pelatihan. Termasuk pelatihan desain grafis, produksi, pemasaran, dan pembiayaan. Termasuk memasuki pasar digital.

Kedai Rupa Duta juga melayani pembelian melalui sistem aplikasi yang dikirim menggunakan jasa antar makanan. (Foto: Kedai Rupa Duta).

Sementara Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Malang Azka Subhan mendorong pelaku UMKM bermigrasi secara digital. Tujuannya sebagai sarana penjualan dan kekuatan baru perekonomian daerah. “Era pandemi Covid-19 kami mendorong UMKM go digital,” katanya.

Di era digital, katanya, pelaku UMKM harus menunjukkan kreativitas, digitalisasi, dan sinergi. Kreativitas untuk meningkatkan nilai tambah produk, digitalisasi dengan terintegrasi dengan ekonomi keuangan digital melalui infrastruktur sistem pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman dan andal.

Bank Indonesia Perwakilan mencatat perekonomian Malang dan sekitarnya menunjukkan tren membaik selama masa pandemi. Sepanjang 2020 pertumbuhan ekonomi di sempat minus 2 persen, bahkan Kota Batu minus 6 persen. Sedangkan pada 2021 diproyeksikan perekonomian Kota Malang tumbuh kisaran 3,7-4,7 persen, Kabupaten Malang 3,6-4,6 persen, dan Kota Batu 4,1-5,1 persen.

Tumbuh Bersama

Selama masa pandemi, pemesanan makanan melalui platform GoFood semakin banyak tinggi. Vice President Corporate Affairs Gojek Food Ecosystem Rosel Lavina menyebutkan transaksi pesan-antar makanan daring melalui GoFood meningkat 20 persen. Ia menyebutkan sekitar 94 persen UMKM yang bergabung di ekosistem GoFood saat pandemi Covid-19 berskala mikro atau rumah tangga.

“Sebesar 43 persen UMKM merupakan pengusaha pemula yang belum memiliki kapasitas terampil sebagai pelaku usaha,” katanya. Bahkan sekitar 20 persen masih berstatus karyawan, atau usaha rintisan sebagai penghasilan tambahan saat pandemi.

Layanan pesan antar makanan daring Indonesia tumbuh 11,5 persen setiap tahun. Penjualan makanan berkontribusi sebesar 27,85 persen dari total penjualan e-commerce pada 2018. Diperkirakan terus meningkat setiap tahun, terutama saat pandemi, implementasi berbagai kebijakan pembatasan sosial membuat konsumen lebih nyaman menggunakan jasa pesan antar makanan.

GoFood mencatat sebanyak 1 juta mitra usaha kuliner, sebesar 99 persen berskala UMKM. Tercatat 250 ribu mitra usaha baru bergabung di GoFood pada 2020, dan 43 persennya adalah pengusaha pemula. Pendapatan rata-rata bulanan mitra usaha yang baru bergabung ke GoFood pada kuartal dua pada 2020 meningkat hingga 7 kali lipat.

Sementara selama masa pandemi, Gojek menggelontor Rp 1 triliun untuk inisiatif mendukung mitra UMKM dan mitra driver. Tujuannya untuk membantu mitra bertahan, tumbuh, dan bangkit bersama menghadapi pandemi. Berbagai inisiatif dukungan tersebut terbukti memberikan dampak positif bagi mitra driver dan mitra UMKM.

Hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyebutkan 4 dari 5 UMKM percaya GoFood mendorong pertumbuhan usaha. CEO Gojek, Kevin Aluwi  menjelaskan Gojek memberikan dampak positif untuk pertumbuhan dan pemulihan ekonomi nasional.

“Kami memberi subsidi promo bagi mitra UMKM yang bertujuan mendorong daya beli konsumen, juga memberi efek bola salju,” katanya.

Gojek  juga memperkuat Komunitas Partner GoFood (KOMPAG) dengan beragam materi edukasi baru. Inisiatif ini, membuktikan GoFood terus tumbuh sebagai layanan pesan-antar makanan dengan 1 juta mitra UMKM di seluruh Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini