Bharatayuda Pilpres


Oleh: Riyanto*

Terakota.id Waktu kecil, di desa, saya sering melihat pertunjukan wayang. Ini dalam kisah Mahabarata. Rangkaian cerita perang besar Bharatayuda. Perang saudara yang menghabiskan sebagian trah Hastinapura.

Rupanya, apa yang terjadi di dalam Mahabarata, kemungkinan besar akan terjadi pada pilpres kali ini, antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo. Cerita yang tidak dapat dihindari. Karena sudah ada dalam tulisan Dewata.

“Cucuku Duryudono, untuk menghindari perang saudara, serahkan sedikit wilayah Hastinapura yang diinginkan adikmu Puntadewa,” demikian Eyang Salyopati menghardik Duryudono.

“Inggih (iya, red.) Eyang. Tapi, kalau sebagian wilayah Hastina saya serahkan pada adikku, Puntadewa, kekuasaan saya semakin sempit, kurang berwibawa,” jawab Duryudono.

Untuk kerukunan cucu cucu, Salyopati menyerahkan negara Wirata kepada Duryudono. Lalu, Prabu Duryudono sepakat, berikutnya akan menyerahkan kota kota kecil, Waronowoto, Panggombaan, Hupayawiya, kepada Pandawa. Dengan begitu, Berarti perang dunia ke empat wayang Purwa dapat dihindari.

Hingga kepergian Eyang Salyopati, tulisan dewata tentang perang Bharatayuda, sedikit demi sedikit mulai terhapus. Tapi, tiba tiba Hastinapura sumuk kembali.
“Anak Prabu ngger. Tidak ada cerita, orang dengan ikhlas menyerahkan kekuasaan. Itu hanya “taktik” untuk menghancurkan anak prabu secara perlahan,” Resi Durno dengan semangat mempengaruhi keputusan Duryudono.

“Inggih, pendapat kakang Durno, benar!” Patih Julik Sengkuni menimpali.

Kedua orang tersebut berhasil mengipasi Prabu Duryudono yang sebelumnya telah rela dan legowo. Keputusannya untuk membagi wilayah pun ditarik kembali. Pasewakan Agung kembali membara, prabu Duryudono merah mukanya.

Singkat cerita, perang Bharatayuda pecah. Korban di kedua belah pihak berjatuhan. Termasuk Gatutkaca. Ketika dia melayang dan bersembunyi di antara mega mega, sebuah panah Kuntajayadanu melesat.

“Arwah” Kokobendono tanggap.Ia meraih Kuntajayandanu lalu ditancapkan tepat di pusar Gatutkaca. Saatnya sudah datang, hukum nandur ngunduh (menanam menuai).

“Gatutkaca, dulu aku mati dari tangnmu. Kini waktu telah mendatangi. Mari kita bersama menghadap Gusti”, arwah Kolobendono, menggandeng Gatutkaca yang masih bersimpah darah. Mereka berdua, kemenakan dan pamannya, sudah sampai pada jalan hidupnya.

Percayalah, Pilpres juga menganut hukum ini.Bahwa nasib orang tidak bisa lepas dari hukum menanam menuai: Membayar atau sedang menuai apa yang dulu pernah ditebar dan disemai. Siapa menanam angin, dia akan memanen badai.

Di pinggir Kurusetra, Durno juga menangisi Haswotomo, anaknya yang di kabarkan baru saja gugur di medan laga. Sambil mengendap, Trestojumno, dari belakang, mengayunkan pedang, creess, putus leher Resi Durno. Kelengahan Durno diakibatkan informasi yang salah. Aswotomo adalah nama gajah yang mati masuk jurang peperangan, bukan Haswotomo anaknya.

Dalam setiap peperangan, berita simpang siur sering mengacaukan.

Jeritan panjang. Bersamaan dengan itu Bima menyobek dua kaki Sengkuni. Darah muncrat. Daging berhamburan. Sebenarnya seluruh tubuh Sengkuni rata dengan usapan “lenga tolo”. Artinya, Sengkuni kuat menahan ketajaman seluruh jenis senjata tajam. Namun, Bima faham rahasia kesaktian Sengkuni. Bahwa di antara kakinya ada yang belum tersentuh minyak sakti.

Dalam peperangan, dibutuhkan penasehat yang hebat. Tim yang kuat, cermat mentafsir kekuatan dan kelemahan. Kepergian dua tokoh yang terakhir, Resi Durno dan Patih Sengkuni, padang Kurusetra seperti lengang. Tokoh tokoh senior satu demi satu meninggalkan Duryudono. Petarung-petarung pilih tanding memilih mundur teratur.

Akhir cerita, Kurusetra sudah hancur luluh. Pandawa dikatakan menang.

Tapi, ada pertanyaan besar, “di mana Prabu Duryudono?”

Cahaya Bagaskara semburat merah di ujung bumi. Di antara rimbunan rumput rumput, air telaga beriak, muncul bayangan besar. Pelan pelan naik ke daratan, meraih pedang panjang seraya berteriak, “serangngng … serrangg.”

Tiba tiba Bima dengan “Gada Rujakpolo” mendekati Duryudono.Eling lan waspodo.Kilatan Rujakpolo hampir menghantam kaki Duryudono. Sang Prabu loncat dari tempat tidur, sambil teriak, “ambil Hastinapura !!! Ternyata, Duryodono tengah bermimpi.

Kresna faham akan peristiwa itu, tentang siapa yang akan menyerahkan Hastinapura: Apakah Jokowi ataukah Prabowo. Mimpi Duryudono, menyadarkan kita untuk segera berfikir jernih. Bahwa hidup itu mengikuti hukum menanam menuai atau nandur ngunduh. Karenanya, dibutuhkan sensitif memilah milah informasi.

Yakinlah, semua kekuatan pasti ada kekurangannya. Segala yang makhluk adalah fana. Semoga negara berkat rahmat Allah ini tidak ternodai.Semakin hari, semoga akan semakin “ayem tentrem, karto raharjo, gemah ripah loh jinawi.” Amin.

*Dosen Universitas Brawijaya Malang dan direktur UBTV.

Penulis (Sumber: Dok. Pribadi)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini