Bhakti Sang Garuda terhadap Pertiwi

Oleh: M. Dwi Cahyono*

Terakota.id–Ada kalimat sapata (bahasa Jawa Baru “sepoto”, yang berarti; umpatan, tuah, atau kutuk) yang mengandung perumpamaan bagi perilaku negatif anak kepada orang tua. Dalam kalimat itu diingatkan dengan tegas:  “ojok kurang ajar karo wong tuwo, kuwalat kowe, dadi jambu mente”.

Kekurangajaran anak terhadap orang tua adalah kesalahan besar. Lantaran perilaku tak berbudi itu, mska anak tersebut mendapat ganjaran sangsi (kuwalat),, yakni diposisikan terbalik (dijantur, kepala a di bawah dan.kaki di atas), sepert buah jambu mente.(jambu monyet).

Sebaliknya, suatu tindakkan dikatakan terpuji apabila anak menaruh hormat, berbhakti, menghargai, mematuhi orang tua (ayah dan ibu, utamanya ibu). Anak yang demikian masuk kategori “anak subhudi” (su = baik, subudhi atau subudi bertati: baik budi, berperilaku terpuji).

Anak subudhi adalah pengharapan dari semua orang tua. Tak ada siapapun orang tua yang mau anaknya menjadi anak yang durhaka (isilah Jawa Kuna “drohaka”) terhdap dirinya.

Sang Garuda, Anak Subudhi

Sebuah mobil minibus menabrak Candi Kidal. Mengakibatkan pagar jebol dan struktur candi rusak. (Foto : istimewa).

Gambaran lama mengenai “anak subudi” ada pada diri Sang Garuda (nama.sebutannya sebagai tokoh peran adalah “Gaudeya”.). Walau anatominya bukan manusia sepenuhnya, melainkan berwujud manusia setengah hewan (antropomorfis), yaitu manusia setengah burung, namun budi pekertinya tidak kalah, bahkan melebihi, perilaku manusia.

Terhadap ibunya, yakni Winata, sang Garuda memperlihatkan bhaktinya yang total .Sebagai anak, Garuda berlaku bhakti terhadap.bundanya dengan berusaha mati-matian untuk membebaskan ibunya dari perbudakan Kadru lantaran kalah bertaruh (berjudi).

Sesui perjanjian, siapa yang salah dalam menebak warna kuda Uchaiswara yang menyembul dari dalam adfukkan samudra susu. (ksirarwana), maka dipodisikan sebagai budak. Yang bersangkutan baru bisa dimerdekakan dari perbudakan bila mampu melakukan penebusan.

Adapun tebusannya adalah barang utama yang keluar dari adukan ksirarwana, yakni tirtha amreta (air kehidupan, air keabadian).

Untuk itulah Garuda musti bertarung melawan Dewa Wisnu yang mengemban tugas mernjags Amreta agar tidak beralih tangan ke pihak lain. Dalam pertempuran dahsyat itu Dewa Wisnu nyaris kalah oleh Gatuda.

Untuk “menyelamatkan dari rasa malu”, dimana dewata kalah menghadapi manusia setngah binatang, maka disepakati “win-win solution”, yakni Garuda “dipinjami sermentara” tirtha Amreta untuk syarat tebus bagi perbudakan Ibunya, namun di lain pihak ia harus berkenan menjadi kendaraan.(wahana) Dewa Wisnu. Itilah sebabnya mengapa ada arca yang menggambarkan Wisnu naik Garuda.

Kunci krkuatan Garuda sehingga nyaris mernang menghadapi dewata adalah “spitit bhakti”-nya terhadap prativi (ibu). Perilaku tulus bhaktinya itu membuahkan “power yang luar biasa besarnya”.

Itulah ganjaran (reward) bagi bhakti anak kepada ibunya, sebagai anak yang subudhi. Gajaran yang juga luar biasa negatifnya dituahkan (dikutukkan).kepada anak yang tidak berbhakti kepada ibu, misalnya kurang ajar terhadap.orang tua, yang dalam kalimat perumpamaan adiatas yang bersangkutan diposisikan “dijantur”, bagai buah jambu mente.

Bhakti Ibu Setara dengan Bhakti Nagari

Begitu besarnya makna bhaakti anak kepafa ibu hingga disetarakan dengan bhakti seseprang terhadap negari (ibu pertiwi). Dalam.makna ini, bhkati Garuda terhadap ibu Winata bisa disejajarkan dengan “bhakti nagari” dari para pejuang kepada negara.

Tujuan.kedua kebhaktian itu sama, yakni membebaskan atau memerdrkakan diri dari belenggu. Sang Garuda berbhakti untuk.dapat memerdekakan ibunya (Winata) dari belenggu petbudakan Kadru Adapun.para pejuang bertbhakti terhadap negeri untik memerdekskan bangsa dan negara dari belenggu penjajahan (imperalisme-kolonialisme)

Itulah kiranya salah satu butir pertimbangan untuk memilih dan menjadikan.Sang Garuda sebagai simbol (lambang) bagi negara Republik Indonedia yang berhasil memerdekakan dirinya dari belenggu penjajahan. Maka, terhadapnya mari kita serukanan “Garuda Psncasila akulah pendukungmu ….”.. Nuwun.

Catatan:
Foto terlampir menggambarkan.Sang Garuda menggendong Bundanya (Winata) setelah berhasil merdekakannya dari perbudakan Kadru dengan tebusan titha Amreta olehnya. Panil relief ke-3 dari Cerita “Garudeya” pada kaki Candi Kidal di Tumpang Kabupaten Malang.

 

Sangkaliang, Griya Ajar CITRALEKHA
Jumat, 1Juni 2018

 

*Arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini