Bhaktatirtha, Kebhaktian Petakan Eko-Sosio-Kultural Sub DAS Brantas

Oleh : M. Dwi Cahyono*

Terakota.id–Kelestarian air (banyu, toya, tirtha) merupakan ‘tanggung jawab bersama”. Baik perorangan ataupun kelompok, baik pemerintah ataupun masyarakat terlebih lagi untuk air sungai, yang bagai ‘benang air”, menjadi perajut (penjejaring) bagi banyak desa bahkan sejumlah daerah di lintasan alirannya. Sungai oleh karenanya musti dipahami sebagai sebuah ‘entitas ekologis’, yang disungsung oleh lintas warga (sosio), lintas daerah (area) dan boleh jadi lintas masa.

Sungai bukan sekedar air mengalir, tidak semata unsur fisis-alamiah, namun juga merupakan gantungan kelangsungan hidup dan ajang padamana dinamika sosio-budaya berlangsung. Bukan lantaran dianggap ‘tak bertuan’, bukan karena berwujud cekungan tanah yang diposisikan di bagian belakang areal permukiman, maka segala kekotoran (sampah, limbah, atau hal-hal tak berguna lainnya) dicurahkan kepadanya. Sungai semestinya disikapi dan diperlakui sebagai benda berharga, yang bukan saja penting untuk dieksplorasi air dan material dari dalamnya bagi beragam keperluan, namun tidak kalah perlunya untuk dilestarikan dan dikelola secara arif,

Ruas aliran pada Sub-DAS Hulu Brantas di Kota Malang

Malang Raya adalah kawasan luas yang terdiri atas tiga daerah (Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu), yang pada bentang geografisnya yang berbukit-bukit itu diiris-iris oleh banyak sungai. Salah sebuah yang utama adalah Bangawan Brantas, yakni sungai purba terpanjang kedua (± 340 km) di Jawa Timur. Pada Kawasan Malangraya, aliran Brantas berada di sub-DAS Hulu, dengan mata air (tuk) berada di lereng dua gunung tinggi, yaitu : (a) pada daerah Sumber Brantas (tepatnya di Dusun Jurang Kwali) di lereng sisi timur Gunung Biru (anak Gunung Anjasmoro), dengan aliran bisa disebut ‘Brantas Wedok); dan (b) pada lereng sisi selatan Gunung Welirang (nama kuno “Ardi Kumukus’) , dengan nama aliran ‘Kali Lanang’ – atau bisa juga disebut dengan ‘Brantas Lanang’.

Kedua pangkal aliran Brantas itu bertemu di Desa Torongrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu, yang ‘diamankan’ oleh Arca Ganesya dalam fungsinya sebagai ‘vigneswara (penghalau bahaya)’. Unsur sebutan ‘maskulin (lanang) dan feminine (wedok)’ pada ruas pangkal aliran sungai juga digunakan pada Bangawan Solo, Lekso, dsb. Pertemuan keduanya (Brantas Lanang dan Wedok), yang secara simbolik bermakna ‘kesuburan (vertility)’ membentuk batang alir utama Bangawan Brantas.

Nama ‘Brantas’ atau sebutan yang lebih kuno darinya, yakni ‘Wurantas”, berarti: menjang-terjang. Dinamai demikian karena sungai yang mengalir pada kawasan tengah wilayah Jawa Timur yang bergunung-gunung ini mengalami beberapa kali perubahan arah (pembelokan) alirannya lantaran menerjang dan membentur lereng gunung, bukit maupun pegunungan.

Ruas pangkal aliranya yang mengarah utara-selatan berbelok ke timur lantaran membentur lereng Gunung Kawi di Kota Batu. Selanjutnya, ruas aliran barat-timur dari Kota Batu hingga Kota Malang mengalami pembelokkan ke arah selatan lantaran membentur lereng Gunung Buring (nama kuno ‘Gunung Malang’) di Kota Malang. Ruas aliran utara-selatan dari Kota Malang hingga Kepanjen ini mengalami pembelokkan kembali menuju ke arah barat karena membentur lerang Pegunungan Kapur (Kendeng) Selatan di Malang Selatan.

Selanjutnya, ruas aliaran timur-barat dari Kepanjen hingga Tulungagung sekali lagi mengalami pembelokkan tajam ke arah utara sebab membentur lereng Gunung Wilis di daerah Tulungagung. Aliran panjangnya dengan arah selatan-utara dimulai dari Tulungagung hingga titik perpecahannya — menjadi Kali Mas dan Porong — di Kabupaten Mojokerto.

Aliran Bantas berakhir pada muaranya di ‘Jalur Simpang’ Selat Madura pada wilayah Kota Surabaya dan Pasuran. Aliran panjang Bangawan Brantas, yang dimitoskan terbentuk dari ‘air kendi yang dikucurkan dari langit (toyeng kundi saking langit) oleh Pu Baradah untuk membuat ‘garis demarkasi wilayah keraaan Kadiri (Panjalu) dan Jenggala’ ini, menyerupai naga panjang yang melingkari Gunung Kawi dan Kelud (nama kuno ‘Kampud’) di bagian tengah wilayah Jawa Timur.

Sub-DAS Hulu Brantas melintas wilayah Kota Batu, Kota Malang, Kabupaten Malang dan bagian timur Kabupaten Blitar. Dalam wilayah Kota Malang, aliran Brantas membelah tengah kota. Mula-mula mengalir barat-timur dari Kampus UMM hingga sekitar RSUD Saiful Anwar. Lalu berbelok sedikit ke selatan hingga areal Pasar Burung. Lantas berbelok lagi ke timur hingga di sebelah timur Kampung Warna-warni dan Kampung Tridi.

Kampung warna warni menjadi obyek wisata. Pengunjung berfoto dengan latar perkampungan di bantaran sungai Brantas. (Terakota/Eko Widianto)

Kemudian berbelok tajam ke arah selatan, lantaran membentur lereng barat Gunung Buring, hingga ke daerah Kepanjen. Pada wilayah Kota Malang, Bangawan Brantas memperoleh pasokan air yang besar dari Kali Amprong dan Bango. Tempuran (pertemuan) tiga sungai ini berada di sekitar Kutobedah, yang konon merupakan ibukota kerajaan (kadatwan) Singhasari pada paroh yang pertama.

Aliran Brantas menjadi ‘pembatas dan pemisah’ antar tempat di wilayah Kota Malang, sehingga jembatan menjadi ‘solusi kinci’ untuk merelasikan antar tempat yang dipisahkan oleh alirannya. Jalan-jalan kota dan gang-gang kampung pun dibuat hampir bersejajar dengan aliran Brantas, dan di tempat-tempat tertentu pada alirannya dilintaskan jembatan, baik jembatan permanen maupun jembatan darurat yang berupa jembatan gantung.

Dampak Aliran Brantas bagi Dinamika Eko-Sosio-Kultura Kota Malang

Ruas aliran yang lebar serta bertebing dalam dari Bangawan Bantas, yang melintasi bagian tengah Kota Malang, tentu memiliki pengaruh ekologis signifikan bagi pertumbuhan- perkembangan kota yang berada di dataran tinggi (plateau) Malang ini. Beberapa kerajaan pernah berkadatwan di Kota Malang. Kadatwan kerajaan Mataram era awal pemerintahan pu Sindok adalah ‘Tamwlang’, yang beralasan untuk dilokasikan di Tembalangan teretak pada seberang utara DAS Brantas.

Kadatwan Tumapel periode pertama, yang oleh Pararaton dinamai ‘Kutaraja’, sangat mungkin berlokasi di Kutonedah pada sekitar tempuran Bangawan Brantas dengan sungai Amprong dan Bango. Pusat watak Kanuruhan pada era pemerintahan Balitung (medio abad IX) hingga Majapahit (abad XV Masehi) berada di Dinoyo-Telogomas, yang berada di seberang selatan aliran Brantas.

Begitu pula, pusat Kaboepaten (Regent) Malang di sekitar Alon-alon Kothak dan pusat Kotapraja (Gemeente) Malang di areal Alon-Alon Bunder juga berada di seberang utara dan selatan aliran Braantas. Oleh karena itu, cukup alasan untuk menyatakan bahwa areal sepanjang aliran Bantas di Kota Malang konom merupakan ajang bagi dinamika peradaban di Kota Malang dalam lintas masa.

Bagi Malang Raya, tak terkecuali Kota Malang, Brantas merupakan ‘sungai bersejarah’. Jejak-jekak areal permukiman kono, sejak zaman Prasejarah, Masa Hindu-Buddha, Masa Perkembangan Islam hinngga Masa Kolonial banyak kedapatan di kanan-kiri aliran Brantas. Air sungai dan banyak mata air di tebing aliran Brantas menjadi pemasok kebutuhan warga akan air. Tidak sedikit mulut-mulut saluran air bawah tanah (arung), baik yang berfungsi untuk mengalirkan air bersih maupun sebagai drainase didapati di tebing kanan-kini aliran Brantas.

Siris-situs bersejarah yang berupa reruntuhan candi, patirthan maupun punden desa/kampung banyak pula terdapat di sekitar alirannya. Hal ini bisa dijadikan petunjuk bahwa plihan areal bermukim pada masa lampau menggunakan ‘kalkulasi ekologis’, dimana keberadaan sungai menjadi salah satu pertimbangan penting untuk melokasikan permukimannya.

Hingga kini pun sepanjang aliran Brantas di Kota Malang menjadi areal permukiman. Malahan, areal permukiman cenderung merangsek ke arah bantaran sungai yang kemiringan tanahnya cukup terjal, bahkan sampi di bibir sungai. Konon, meski terdapat areal permukiman di sepanjang aliran Brantas, namun berada pada ‘jarak aman’ dari aliran sungai Brantas, yang merupakan sungai jenis campuran, yakni sungai yang pasokan airnya dari sumber-sumber air dan air hujan.

Permukiman di Buk Gluduk Kota Malang. Sepanjang Sungai Brantas berdiri perumahan kumuh. (Terakota/Eko Widianto)

Jarak aman itu menjadi perharian, sebab sebagai sungai orografis di dataran tinggi, pada musim penghujan debit airnya bisa meningkat tajam, bahkan beberapa kali pernah dilanda banjir bandang. Perkembangan demografis di Kota Malang yang meningkat dari waktu kewaktu, yang disertai dengan kemahalan harga tanah, menjadikan tenpat-tempat rawan di bantaran Brantas dijejali dengan area permukiman yang beresiko.

Bahkan, sekolah dan kampus (UMM, Unisma dan Polinema), aparteman (Everiday dan dua lainnya yang tengah dibangun), hotel, pabrik, tempat wisata, maupun fasiltas publik tidak terelakkan satu persatu bermuculan di DAS Brantas. Demikianlah, bantaran Bantas seolah menjadi areal aglomerasi (pemusatan) dari berbagai keperluan. Tak terkecuali keperluan yang berhubungan dengan pembuangan, seperti pembuangan sampah, limbah dan hal-hal tak berguna lainnya.

Bhaktatritha, Suatu Ikhtiar Ekologis

Kata Jawa Kuna ‘bhakti’ yang diserap dari bahasa Sanskreta secara harafiah berarti: kebaktia, pengikatan diri, kepercayaan, pernyataan hormat, pemujaan, kecintaan kepada yang lebih tua, kesetiaan. Istilah lain yang terkait dengannya adalah ‘bhakta’, yang secara harafiah berarti: berbakti kepada, memuja, penyembah, rahib (Zoetmulder, 1995:98). Bhakta atau pe-bhakta dengan demikian menunjuk kepada seseorang, kelompok orang (komunitas), pihak ataupun institusi yang melakukan kebaktian.

Apabila kebaktian itu ditujukan kepada air (tirtha), maka sebutannya adalah ‘BHAKTATIRTHA’. Kebaktian terhadap air, termasuk di dalamnya kepada sungai, perlu untuk dilakukan, karena sungai tidak hanya memiliki potensi untuk didayagunakan, namun juga dilumuri oleh permasalahan, baik masalah yang berasal dari proses akamiah maupun permasalahan yang ditimbulkan oleh manusia.

Menyadari akan potensi, permasalahan dan peluang bagi pemanfaatan dan pengembangan areal sepanjang aliran Bantas di Kota Malang, kami – para pebhakta, yakni orang-orang yang berbakti, yang dalam konteks ini adalah berbhati untuk air – memandang perlu untuk melakukan pemetaan (maping) terhadap ruas tertentu dari sub-DAS Hulu Brantas di wilayah Kota Malang.

Tahap permulaan difokuskan pada ruas aliran Bantas dari kampus UMM — yang terletak di perbatasan Kabupaten dan Kota Malang — hingga Jembatan Jalan Soekarno-Hatta, yang meliputi lima kelurahan, yaitu: (1) Landongsari, (2) Tlogomas, (3) Dinoyo, (4) Tunggulwulung, dan (5) Ketawang Gede.Selain ruas ini, setidaknya ada tiga ruas lain pada sub-DAS Hulu Brantas di Kota Malang, yaitu ruas antara Jembatan Sukarno-Hatta hingga Claket, ruas antara Claket hingga Jodipan, dan ruas antara Jodipan hingga Gadang.

Ketiga ruas lainnya itu ke dapan dapat kami tangani sebagai kelanjutan dari kegiatan ini, namun terbuka pula untuk ditangani oleh pebhakta lain. Lebih luas lagi, yaitu ruas aliran Brantas di wilayah Kota Batu dan Kabupaten Malang dapat ditangani oleh para pebhakta di daerah bersangkutan.

Cakupan bidang tetelaah adalah ‘eko-sosio-kultura’, yakni aspek: (a) ekologi, yaitu lingkungan fisis-alamiah yang berupa air, tanah, flora dan fauna yang ada di dalam aliran Brantas maupun di bantarannya; (b) kultura, jejak dan fenomena budaya lintas masa yang berlangsung di bataran aliran Brantas; serta (c) sosio, yakni ragam kegiatan sosial dan permukian pada sepanjang aliran Brantas beserta dampak (positif atau negatif) yang ditimbulkannya.

Data dikumpulkan lewat susur sungai, baik dari dalam aliran menggunakan perahu karet maupun jalan kaki di kanan-kiri aliran terteliti. Selain eksplorasi data dilakukan dengan pengamatan menggunakan metode survei on the spot, dilaksanakan pula interview dan penelaahan terhadap laporan riset terdahulu dan tulisan-tulisan yang pernah dibuat mengenai Brantas. Pencacah data terbukan untuk dilibati oleh para pebakta (vuluntair) yang berminat, dengan terlebih dahulu dilakukan pelatihan terhadapnya.

Kutho Bedah, kini menjadi permukiman kumuh. Rumah penduduk berderet di sepanjang sungai Brantas. Sampah mengalir di sepanjang sungai. (Terakota/Eko Widianto)

Data terkumpul dijadikan bahan untuk melakukan pemetaan (maping), yang meliputi: (a) peta hidrologi aliran Brantas, (b) peta ragam pontesi Bantas, (c) peta permaslahan, dan (d) peta peluang bagi pemanfaataannya). Berdasarkan data dan pemetaannya itu, kemudian dilakukan analis untuk mendapatkan solusi tepat-guna atas permasalahannya, rekomendasi bagi pelestariannya, maupun formulasi pemanfaatan bijak sesuai dengan kondisi dan karakternya serta peluang yang tersedia. Semua ini dituangkan kedalam laporan tetulis, yang diseryai dengan dokumentasi fotografis dan videografis serta kartografis. Draf laporan diseminarkan ke publik untuk meningkatkan keakuratan dan kedalaman analisis.

Demikianlah, semoga ikhtiar ekologis yang pada hari ini (Sabtu-Kliwon, 5 Mei 2018 pukul 15.00 – 16.00 WIB) di-lauching di Kampung Eko-Kutura Karuman bakal berjalan lancar dan membuahkan hasil yang memfaedahkan untuk beragam keperluan. Keberhasilan bukan hanya tercermin pada produk akhir, namun pengalaman dan penambahan pengetahuan serta ketrampilan dalam preses, yakni pelatihan untuk mencacah data hingga selusur sungai pada tahap eksplorasi data pada pasca Lebaran (Idul Fitri, Juni 2018) kelak adalah pula suatu kemanfaatan.

Tak kalah pentingnya untuk diupayakan adalah terbentiknya jaringan antar komunitas atau perorangan, khusunya mereka yang berada di garda depan, yakni warga RT dan RW yang berada di lintasan aliran Brantas, sebab pelestarian dan pendayaguaan bijak sungai tak dapat dicacah-cacah per areal administratif. Dalam bentuk apapun, dan sekecil apapun, marilah kita berkontribusi bagi kelestarian dan kebermaknaan sungai.

Terkait itu, mohon kesediaan para pe-bhakta (siapa pun ia) untuk turut serta secara bersama-sama melakukan pendataan dan pemetaan eko-sosio-kultura terhadap sub-DAS Hulu Brantas di Kota Malang. Jika bukan oleh kita, lantas berharap kepada siapa lagi. Sembah nuwun, mugi maedahi.

Sangkaliang, PATEMBAYAN CITRALEKHA, 5 Mei 2018

Dwi Cahyono

*Arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini