Besut Rusmini, Pasangan Sejoli Karakter Cikal Bakal Ludruk

Meimura mementaskan ndleming Wayang Suket dengan lakon Besut-Rusmini. Gambar - Facebook Meimura (tangkapan layar video).

Terakota.idBerkaus putih polos lengan panjang, Meimura, seniman ludruk asal Surabaya duduk bersila di depan sebujur gedebok pohon pisang. Mengenakan topi warna putih berkuncir merah, menutup rambut. Sembari berkalung sebuah selendang berwarna merah di leher. Kedua tangannya memegang wayang suket, cekatan Meimura memainkan sejumlah karakter wayang yang ditancap di gedebok.

Rusmini, akeh wong gulung kuming Rus, ra ruh ndi lor ndi kidul, endi etan endi kulon. Rusmini, ewangono aku Rus (Rusmini, banyak orang bingung Rus, tak tahu arah utara selatan timur barat. Rusmini, bantu aku, Rus),”tutur Meimura dalam sebuah dialog tokoh Besut yang sedang curhat kepada istrinya.

Dengan suara ditinggikan agar menyerupai suara perempuan, Meimura memainkan tokoh wayang Rusmini.

Oalah Cak Besut, suara sampean ndudut tenan ning ati. Cak Besut, sampean Cak Besut, tak ewangi dungo, makaryo,  iki pageblug bakal sirna. Mulo Cak Besut, ayo pada cancut taliwanda, kandanono dulur enom tuwek cilik gedhe (Oalah Cak Besut, suaramu sungguh menyayat hati. Cak Besut, saya bantu doa dan bekerja, pandemi ini akan sirna. Makanya Cak Besut, marilah kita bergegas bekerjasama dengan dengan segala kemampuan, kabarkan pada saudara yang muda, tua, kecil hingga besar),” sahut Rusmini menanggapi curhat suami.

Meimura menyebut pertunjukannya sebagai ndleming ndalang Wayang Suket. Ndleming atau istilah untuk menyebut aktivitas mengigau, meracau, memberikan deskripsi ringkas tentang pertunjukan Wayang Suket yang penceritaannya spontan, terkesan seperti sedang meracau.

Meimura mementaskan ndleming Wayang Suket dengan lakon Besut-Rusmini. Gambar (Foto : Facebook/ Meimura).

“Berangkat (diawali) dari parikan kidungan, Sir Kusir mbang kombang, Perahu kintir gak di tambang, di tambang taline ilang, wong wong mudik, ketayal-tayal, “ ujar Meimura memaparkan.

Adegan ini merupaka salah satu pertunjukan yang disajikan dalam pembukaan Surabaya On Stage Festival ke-3 pada awal Juni 2021 membawakan lakon Besut dan istrinya, Rukmini. Meimura mengisahkan pemilihan lakon ini sebagai pengingat bahwa tokoh Besut merupakan tokoh utama dalam kesenian lerok yang kemudian berkembang menjadi besutan, cikal bakal kesenian ludruk.

Besut merupakan lakon utama dengan kharakter yang kompleks. Erika Damayanti dari program studi antropologi sosial Universitas Airlangga dalam penelitiannya berjudul Besutan : Kajian Etnografi Besutan sebagai Cikal Bakal Ludruk di Kabupaten Jombang menyebutkan Besut memiliki watak yang tegas, berwibawa, lucu menggemaskan, namun sedikit pemalas dan licik.

“Besut digambarkan sebagai tokoh yang secara fisik memiliki tubuh agak berisi dan tak terlalu tinggi. Pembawaaannya ndlendem, agak malas namun energik,” tulis Erika Damayanti.

Sebagai lakon utama, pemeran Besut dituntut bisa mengendalikan jalannya pementasan dengan kemampuan improvisasi di panggung yang mumpuni. Selain itu, pemeran Besut juga harus bisa ngidung, menari dan memahami irama musik gamelan.

Sementara Rusmini, satu-satunya tokoh perempuan, yang biasa dipasangkan dengan Besut. Konon, Rusmini diperankan oleh laki-laki.

“Saat itu perempuan dianggap tak ada yang berani tampil di atas panggung. Praktisnya, dulu penampilan Besutan dilakukan dari rumah-ke rumah, pemeran laki-laki dinilai lebih praktis, tak merepotkan,” tulis Erika Damayanti memaparkan.

Sebagai sosok istri, Rusmini digambarkan memiliki watak yang sabar, penurut namun ethes (lincah) dan agak pencemburu. Pada beberapa pengembangan naskah cerita pertunjukan Besutan, Rusmini dikisahkan sebagai perawan (belum menikah dengan Besut). Ada kalanya Rusmini hanya menjadi tetangga, kerabat, atau justru menjadi musuh Besut.

Sepasang sejoli ini biasa ditampilkan dengan satu tokoh lainnya yang bernama Man Gondo. Man Gondo merupakan tokoh yang berperan sebagai bahan tertawaan penonton. Dengan berbagai variasi nama yang biasa disandangnya, Mat Gondo paling sering dipanggi, Man Jamino. Dalam lakon cerita tertentu, Man Gondo digambarkan sebagai tokoh antagonis dengan mengenakan topeng yang menyimbolkan watak penjilat.

Seiring dengan berkembangnya cerita dan pementasan, kharakter dalam pertunjukan Besutan kian bertambah pula. Sebutlah salah satu tokohnya bernama Sumo Gambar, tetangga Besut. Tokoh tambahan ini disebut juga dengan istilah tokoh carangan.

Merunut Awal Lakon Sejoli Besut dan Rusmini

Seorang petani dari Jombang bernama Pak Santik membuat kesenaian teater rakyat yang mengusung ciri khas lelucon pada pertunjukkannya. Bersama kawannya, Pak Amir dan Pak Pono, ketiganya menampilkan kesenian Besutan untuk mengamen. Pak Santik memerankan tokoh Besut, Pak Pono memerankan Rusmini dengan bedandan seperti perempuan.  Desa demi desa mereka sambangi, menggelar pentas.

Pada tahun 1908, masyarakat Jombang kerap menanggap kelompok Besutan untuk mengisi acara khitan, pernikahan hingga syukuran. Berkembang pada era penjajahan Belanda, penampil menyisipkan semangat nasionalisme dalam dialognya yang penuh lelucon bernada kritik nan sarkas. Pemerintahan kolonial Belanda hingga kondisi sosial ekonomi saat itu menjadi bahan utama guyonan para penampil Besutan.

Seperti namanya sendiri yang berasal dari kata mbesut atau membersihkan yang kotor, menghaluskan, pertunjukan Besutan berisi pesan-pesan tersirat yang membuka pikiran penonton untuk mengulasnya. Erika Damayanti menyebut melalui pertunjukan ini, penampil mencoba menawarkan guyonan-guyonan sebagai pelurus kembali pikiran lungset penonton agar kembali halus.

Ilustrasi Besutan Agussoleh.com

Versi lain menyebutkan penamaan Besutan berasal dari perpendekan kata mbekto maksud, artinya membawa maksud melalui cerita, dialog, kidungan, tata rias, tarian, hingga kidungan yang dipentaskan.

Lantas seiring waktu, kesenian Besutan ini berkembang menjadi ludruk. Pasca meninggalnya Pak Santik. Pak Pono mendirikan Ludruk Sari Banjet di Jombang. Kala itu bermunculan juga kelompok ludruk lainnya di beberapa daerah di Jombang. Di antaranya terdapat Rukun Agawe Santosa, Ludruk Brata, dan Ludruk Kolekturan.

Pada masa pendudukan Jepang 1943, kelompok ludruk dimanfaatkan pemerintah Jepang sebagai media propaganda. Tercatat beberapa nama kelompok ludruk yang terlibat, di antaranya Ludruk Kasud Mantoro, Ludruk Lacman, Ludruk Sakiran Branjangan.

Pada 1950, kesenian ludruk masuk Surabaya. Kesenian Ludruk semakin berkembang pesat dengan berdirinya kelompok ludruk yang terkenal pada masanya, Kelompok Banteng Marhaen. Ludruk Marhaen, Ludruk Marhaen Muda, Ludruk Duta Masa, Ludruk Putra Bahari.

“Pada masa Orde Baru, pemerintah memanfaatkan kesenian daerah sebagai wadah komunikasi program pembangunan. Kesenian Besutan pernah diunakan sebagai media sosalisasi program Keluarga Berencana, dan Panca Usaha Tani agar kebijakan dapat diterima masyarakat pedesaan,” tulis Erika Damayanti.

Sejarah heroik ludruk Cak Durasim pemimpin kelompok Ludruk Organisatie (LO) tercatat dalam sejarah kesenian Indonesia. Seniman asal Jombang ini dikenal sebagai penampil yang kritis dan vokal terhadap pejajah. Pasemonnya yang berbunyi, “ Pagupon omahe dara, melok Nipon tambah sengsara (Pagupon rumahnya dara, ikut Jepang tambah sengsara),” lirik inilah yang membawa Cak Durasim ditangkap dan dikurung dalam jeruji besi, di bawah tahanan pemerintah Jepang.

Spirit Seniman Ludruk Menyuarakan Aspirasi

Seperti Cak Durasim, seniman ludruk yang vokal dalam bersuara, Meimura agaknya juga menjadikan kesenian ludruk sebagai media berekspresi menyuarakan aspirasinya. Melalui pementasan ndleming ndalang Wayang Suket, Meimura mengajak penonton untuk cancut taliwondo. Menyingsingkan baju, bersegera melaksanakan tugas.

Menurutnya pandemi seperti perang, harus dilawan. Sebagai seniman, ia mencoba berkontribusi melawan Covid-19 ini melalui giat seni. Dengan berpakaian tokoh Rusmini dan Besut, ia berkeliling ke puluhan pasar tradisional di Kota Surabaya untuk menyosialisasikan pentingnya menerapkan protokol kesehatan.  Sembari memberikan masker kepada para pedagang yang berjualan di lapak sementara (bedhag).

“Mencoba berpartisipasi melawan Covid. Selain menerapkan prokes, seniman juga harus berkarya sesuai wilayahnya masing-masing, bisa dikatakan cancut kaliwanda,” ujar Meimura.

Meimura memerankan karakter Rusmini membagikan masker di Pasar Kaget Jalan Pahlawan, Surabata. (Foto : Facebook/ Meimura).

Selain aksi sosial, ia juga menggerakkan giat kesenian selama pandemi sebagai pengisi waktu luang. Tak sendirian, ia menggandeng anak-anak sekitar rumahnya di daerah Gunung Anyar, Surabaya untuk aktif berkesenian di sela sekolah daring yang kian membosankan. Sanggar Anak Merdeka Indonesia (SAMIN )  besutanya sejak tiga tahun lalu, mulai Maret 2021 kemarin telah resmi disahkan.

Diikuti 23 hingga 50 anak di sekitar tempat tinggalnya, Meimura mengajak anak-anak mengenal kesenian ludruk dan teater. Dengan pendekatan belajar sambil bermain, ia memulai dengan mengenalkan tembang, geguritan, teknik vokal, teknik keseimbangan,hingga teknik berimajinasi.

Acara terbarunya, Gelaran Surabaya On Stage Festival ke-3 yang dibuka 31 Mei – 1 Juni 2021 kemarin, turut menampilkan anak-anak dari Sanggar SAMIN, mulai dari pembacaan geguritan, nembang, hingga mendalang.

Surabaya On Stage Festival ke-3  rencananya akan berlangsung sepanjang Juni hingga puncaknya pada 17 Agustus 2021.  Acara ini menjadi rangkaian pementasan para seniman yang memiliki karya dan berkeinginan tampil namun terkendala minimnya ruang berkesenian.  Sanggar SAMIN bersedia mengambil peran sebagai penyedia ruang, panggung dan sarana-prasarana pentas.

“Sementara, saya tahan dulu yang dari luar pulau, sebab syarat memasuki daerah yang susah dan memberatkan seniman seperti Tes Swab” pungkas Meimura.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini