Besok Kiamat, Tuan!

cerpen-besok-kiamat-tuan

Terakota.id–“Apa yang akan kau lakukan bila kau tahu malam ini adalah malam terakhir di dunia?”

Pertanyaan ini bukan datang dari saya, melainkan dari dialog pembuka sebuah cerpen berjudul Last Night of the World, atau Malam Sebelum Kiamat versi Indonesianya , dan ditulis oleh Ray Bradbury—penulis berkebangsaan Amerika.

Tokoh laki-laki dalam cerpen mengajukan pertanyaan itu kepada istrinya. Dan pertanyaan itu serupa ajakan yang menuntun pembaca untuk mencari jawaban hingga titik paling akhir. Dari sini kita menjadi tahu, bahwa pertanyaan yang menohok bisa juga digunakan sebagai pembuka cerita yang akan menawan perhatian pembaca. Begitulah. Para penulis bagus selalu mengesankan sejak kalimat pertama.

Cerita yang bagus serupa secangkir Arabica yang nikmat; ia selalu membuat kita ketagihan untuk menyesapnya ulang—meski kita telah merasakannya berulang kali sebelumnya. Saya lupa sudah berapa kali membaca ulang cerpen Putri Tidur dan Pesawat Terbang-nya Gabriel Garcia Marquez. Mungkin puluhan, atau bahkan belasan. Dan setiap kali berjumpa lagi dengan kalimat-kalimatnya yang mengagumkan, saya seperti digandeng untuk melihat keindahan terhampar di depan mata, dan itu menimbulkan rasa bahagia.

cerpen-besok-kiamat-tuan
Putri Tidur. Ilustrasi : Disney

Kalimat-kalimatnya itu misalnya: “Setelah terbebas dari pengaruh sampanye yang berlebih, aku melihat diriku sendiri di cermin: tampak buruk dan hina. Aku terkejut melihat betapa mengerikannya kerusakan yang ditimbulkan karena cinta”; atau kalimat, “Dia bangun sendiri ketika lampu pendaratan mulai menyala, dan dia tampak cantik dan segar seolah habis tidur di taman mawar,” atau kalimat, “Pada saat itulah aku tersadar bahwa, seperti pasangan yang sudah lama menikah, orang-orang yang duduk bersebelahan di pesawat tidak saling mengucap selamat pagi waktu mereka bangun tidur.”

Ditimbang dari sudut manapun, kalimat-kalimat itu terasa kuat. Karena kita tahu, bahwa setiap maestro, tentu juga Marquez, tidak akan serampangan menyusun kalimat, menggunakan kata, dan bahkan meletakkan tanda baca— koma misalnya.

“Koma tampak seperti sebuah tanda baca sederhana, tapi aku memanfaatkannya untuk maksud-maksud pernapasan. Pembaca jangan sampai terbangun (dari hipnotisnya),” tutur Marquez dalam satu wawancara.

Selama ini saya hanya bisa menikmati tanpa pernah memikirkan bagaimana kalimat-kalimat luar biasa para pengarang terbangun, dan betapa berdarah-darahnya proses menemukan kata yang tepat. Kita mungkin hanya geleng-geleng kepala mendapati Marquez, seorang Maestro yang diganjar Nobel, “bertarung” selama 3 bulan hanya untuk menemukan satu kata sifat yang pas. Itu terjadi ketika ia sedang mengerjakan Sang Jendral dalam Labirinnya.

“Lalu aku menemukannya—“aulico,” artinya “berkaitan dengan mahligai atau istana”—dan (meski begitu) aku bahkan tidak pernah menggunakannya,” tutur Marquez di buku kumpulan wawancaranya berjudul Gabriel Garcia Marquez: Wawancara Tereakhir dan Percakapan-percakapan Lainnya (2015).

Karenanya, membaca ulang bacaan bermutu, yang dikarang dengan begitu seriusnya, ialah sesuatu yang lumrah. Bahkan, ada juga orang-orang yang rela menulis ulang dengan pena sebuah novel—terdiri dari ratusan halaman, karena menjumpai mutiara di dalamnya; dan tentu saja itu juga sesuatu yang lumrah. Jadi tak ada yang aneh.

Justru sangat aneh ketika kita melihat kalangan atau gerombolan yang separuh hidupnya dihabiskan untuk berlatih membunuh dan bertempur, dan lebih dekat dengan senjata dibandingkan dengan buku-buku, tiba-tiba merazia buku—seringkali, tanpa melongok isinya. Dan lebih aneh lagi, banyak orang: mungkin jumlahnya setara uban di rambut senja almarhum Pak Harto, mempercayakan masa depan bangsa ini pada mereka.

Kita memang selalu tertawan oleh apa yang kita cintai. Orang-orang yang bersuka cita menyalin ratusan halaman sebuah novel, sangat mungkin adalah orang-orang yang mencintai pengetahuan dan cerita. Seorang pemuda rela berhenti merokok demi memenuhi permintaan perempuan yang dicintainya. Dan jangan lupa, ada juga orang-orang yang mencintai kekuasaan, lalu mereka serupa mobil tempur yang tak punya hati atau perasaan: menabrak dan menggilas siapa saja yang mengganggu dan menelanjangi kekuasaannya. Untuk model orang macam begini, hari ini, bangsa kita punya stok sangat banyak—sebanyak janji-janji Tuan Presiden yang tidak ditepati. Saya yakin, Anda bisa mengeceknya.

Ketika sebagian besar umat manusia, belakangan ini, tiba-tiba merasa dekat dengan kematian: hingga membuat mereka rela mendekam puluhan hari tanpa kepastian di dalam rumah, hingga membuat mereka rela memakai masker dan rajin cuci tangan— saya membaca ulang cerpen Malam Sebelum Kiamat. Dan tiba-tiba pertanyaan pembuka cerpen Bradbury terasa amat spiritual.

Ia menggiring saya untuk membacanya dengan kacamata iman dan perangai orang yang saleh. Jika tidak ada korona dan tidak membaca ulang cerpen itu, mungkin saya tidak mengingat pesan Imam Ghazali.

Ia pernah bertanya kepada santri-santrinya: “Apa yang paling dekat dengan kita dalam kehidupan ini?” Mereka pun menjawab; “orang tua, wahai Guru”, “teman, yaa Syaikh”, dan “kerabat, wahai Imam”. Dan semua jawaban itu keliru, kata Sang Imam. Yang paling dekat menurut Imam Ghazali ialah: mati. Sebab, setiap yang bernyawa pasti bakal mati, dan setiap kematian adalah kiamat kecil.

Melalui dialog itu, Sang Imam tampak sedang mengajak murid-muridnya untuk melakoni hidup dengan kesungguhan, dan tidak menyediakan waktu untuk berbuat kerusakan dan kesengsaraan terhadap orang lain. Cukuplah kematian sebagai nasehat melakoni hidup yang waspada dan bijaksana, begitu kira-kira pesan yang sering saya dengar.

Saya pikir, dengan cara yang berbeda, Bradbury juga hendak mengatakan hal yang kurang lebih sama. Sebagian besar cerpen ini terdiri dari obrolan antara suami istri tentang kiamat yang akan berlangsung esok hari, tepatnya dimulai sejak pergantian hari. Pikiran tentang kiamat itu muncul dari mimpi sang suami. Ia seperti mendengar bisikan yang mengatakan bahwa kiamat akan berlangsung mulai esok hari.

Mula-mula sang suami tampak khawatir dan kaget. Lalu, obrolan di ruang keluarga membawanya pada ketenangan, dan menanggapi kiamat secara logis. Melihat apa yang diperbuat umat manusia di muka bumi, maka menurutnya, kehancuran bumi adalah sesuatu yang logis dan niscaya. Itu pasti terjadi, dan tidak mungkin bisa mengelak darinya. Karena itu, keduanya lantas menghabiskan waktu yang tersisa hanya beberapa jam dengan rutinitas seperti biasa; mencuci piring, menidurkan anak-anak mereka, mematikan lampu, berangkat tidur, dan lain sebagainya.

Bradbury menggunakan teknik understatement dalam cerita ini. Understatement adalah kalimat atau ujaran untuk menyampaikan hal-hal besar atau genting atau tidak biasa dengan cara biasa-biasa saja. Bradbury tidak menanggapi kiamat dengan histeris, reaktif, atau hiperbolis. Karakter di dalam ceritanya, menyongsong kiamat sebagaimana menunggu fajar pagi merekah.

Hinga titik paling akhir, pembaca tidak diberi tahu apakah kiamat jadi datang atau tidak. Bradbury sengaja memendam banyak informasi di dalam cerita. Dalam cerita ini, ia serupa Hemingway—menulis dengan prinsip gunung es. Bardbury menabur kesamaran hampir di keseluruhan cerpen. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa cerpen ini berkaitan dengan dimulainya perang dingin, karena pertama kali terbit tahun 1951; ada juga yang mengatakan bahwa cerita ini berhubungan dengan bom atom atau bom nuklir. Bahkan, ada yang menafsirkan bahwa sebenarnya kiamat di dalam cerita hanyalah kiasan bagi hubungan suami istri yang terancam bubar.

Lalu, mana yang lebih tepat berdasarkan kesamaran cerita Bradbury? Meniru gaya seorang presiden, saya akan menjawab: Yo ndak tau..kok tanya saya!

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini