Berwisata Keluarga di Waduk Lahor

Pemandangan alam, air terhampar luas dan pepohonan memayungi tepian waduk Lahor, Karangkates, Sumberpucung, Kabupaten Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Deru mesin memecah keheningan kawasan waduk Lahor, Karangkates, Sumberpucung, Kabupaten Malang. Suara mesin berasal dari perahu nelayan yang siap mengantar pengunjung keliling waduk. Untuk sekadar menikmati pemandangan alam di sekitar waduk, atau merasakan sensasi menumpang perahu bermesin tempel.

Cukup membayar Rp 10 ribu untuk dewasa dan Rp 5 ribu bagi penumpang anak-anak. Demi keselamatan, para penumpang wajib mengenakan jaket pelampung. Perahu melaju, setelah penumpang duduk di deretan bangku berjajar atau di buritan bersebelahan dengan pengemudi perahu.

Pengunjung menikmati menumpang perahu keliling waduk Lahor. (Terakota/Eko Widianto).

Perahu penumpang ini biasa digunakan masyarakat setempat untuk menyeberang waduk. Pemilik perahu merupakan penduduk setempat yang puluhan tahun menggantungkan hidup di waduk Lahor. Bahkan, mereka mendesain dan membuat perahu sendiri.

“Keamanan dan keselamatan lebih utama. Penumpang wajib memakai pelampung,” kata manajer pariwisata Perum Jasa Tirta 1, Bayu Pramadya K. Sakti. Pemandangan waduk air terhampar di depan mata, hijau bak permadani. Tepian waduk tumbuh aneka pepohonan, rindang.

Sensani menumpang perahu berkeliling waduk bakal terus diingat. Maklum air waduk tenang, sesekali air muncrat saat perahu memecah hamparan air di waduk yang berada di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar. Di atas perahu, kita akan melihat pemandangan di tepi waduk. Hamparan pepohonan hijau terhampar, memanjakan mata.

Sejumlah penghobi memancing, berderet di tepi waduk. Mereka memegang joran sembari menikmati sensai ikan yang memakan umpan. Aneka jenis ikan sungai yang mendiami waduk mulai ikan nila, patin, dan mujahir. Jika beruntung juga bakal mendapat ikan bandeng. “Ikan bandeng juga banyak,” katanya.

Populasi ikan bandeng yang biasa mendiami perairan payau terus bertambah. Lantaran masyarakat sepanjang sungai Brantas membudidayakan ikan bandeng dengan metode jaring sekat. Sebagian anakan ikan bandeng lepas dan memenuhi sungai Brantas hingga masuk ke waduk Lahor.

Waduk Lahor berfungsi sebagai penampung air untuk pembangkit listrik di PLTA Sutami. (Terakota/Eko Widianto).

Puas berkeliling menumpang perahu, pengunjung bisa menikmati aneka kudapan, minuman khas dan aneka olahan ikan di Resto Kampoeng Air. Untuk menikmati olahan ikan air tawar, tinggal memilih apakah duduk bersimpuh lesehan di gazebo atau duduk di meja kursi yang tersebar di taman tepi waduk.

Duduk di meja dan kursi taman, pengunjung bisa menikmati panorama alam berupa hamparan air memenuhi waduk dan pepohonan yang rindang. Taman juga tersedia aneka permainan anak, seperti jungkitan, dan ayunan. Ramah anak dan keluarga.

Usai menyantap makan siang di Resto Kampoeng Air, pengunjung bisa berjalan keliling waduk. Aneka jenis pepohonan ada di sini. Mulai pohon trembesi, mahoni, jati, palem, flamboyan, sengon, dan nangka. Pepohonan rimbun, dedaunan bak payung raksasa menaungi pengunjung sehingga suasana waduk menjadi rindang, dan teduh.

“Dilarang menebang pohon,” katanya. Semilir angin berembus, membuat pengunjung semakin kerasan berlama-lama duduk di bawah pepohonan. Pengunjung bisa membentangkan tikar untuk duduk lesehan.

Salah seorang penunjung duduk di kursi taman Resto Kampoeng Air sembari pemandangan alam di waduk Lahor. (Terakota/Eko Widianto).

Pepohonan ini menjadi habitat aneka burung. Hasil pengamatan ada burung sepah (Pericrocotus flammeus), bubut Jawa (Centropus nigrorufus), dan cucak ijo ((Pericrocotus flammeus). Selain menikmati pemandangan alam, pengunjung yang hobi pengamatan burung juga bisa menjelajahi kawasan waduk.

Sayang taman kurang terurus, aneka permainan rusak terbengkalai. Sangkar dan rumah satwa juga tak terurus. Demi kenyamanan pengunjung, pengelola tengah menyiapkan konsep dan pengembangan kawasan wisata tersebut. “Akan terus ditata dan dikembangkan,” kata Bayu.

Di sini, para pemburu senja bisa menikmati matahari terbenam. Saban sore, banyak anak muda yang berjajar di jalan yang membelah waduk penghubung Malang-Blitar. Mereka sengaja berhenti untuk menikmati senja di sore hari.

Aneka jenis pepohonan berdiri di tepi waduk Lahor. Susana menjadi teduh dan adem. (Terakota/Eko Widianto).

Meliputi pengembangkan taman bermain, rumah pohon dan ruang pertemuan. Pengunjung bisa menikmati wisata waduk mulai pukul 08.00 sampai 16.00. Setiap pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp 7 ribu. Pada akhir pekan jumlah pengunjung sekitar 500 sampai 1000 orang.

Rita warga Pakisaji datang sekeluarga. Mereka sengaja menghabiskan akhir pekan di waduk Lahor.  Kedua anaknya tampak menikmati dengan bermain di tepian waduk. Ia baru pertama kali datang ke waduk Lahor. “Menarik, sejuk dan asri. Cocok untuk wisata keluarga dan terjangkau,” katanya.

Pulang bingung membawa oleh-oleh? Tinggal menyeberang ke sisi utara waduk, ada pasar ikan yang menjajakan aneka jenis ikan air tawar. Atau menumpang perahu menyeberang langsung ke pasar ikan. Ada ikan mujahir, nila, dan patin. Pembeli bisa menawar harga ikan, serta membawa pulang ikan dibersihkan dari sisik dan kotoran.

Waduk Lahor merupakan waduk yang terhubung dengan waduk Karangkates di sisi selatan. Waduk yang dibangun 1977 ini berfungsi untuk penyedia air sebagai pembangkit listrik di PLTA Sutami. Waduk efektif menampung air sebanyak 29 ribu meter kubik. Serta penyedia air irigasi seluas 1.100 hektare. Sekaligus berfungsi sebagai pengendali banjir dan sedimen.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini