Berusaha memahami Fotografi Kritis

berusaha-memahami-fotografi-kritis
Pada suatu Foto, manusia membekukan sejarahnya. (Foto : Radityo Widiatmojo).

Oleh : Radityo Widiatmojo*

Terakota.idPada suatu ketika, ada rekan yang meminjam buku favoritku, yaitu Pada Suatu Foto karya Reymold Sumayku. Pada suatu saat, beliau bertanya kepada saya, “Apa fotografi kritis itu?

Pada suatu saat yang lain, beliau mengirim sebuah link yang berisi diskusi serius antara dua kudu yang menyangkutkan narasi fotografi kritis, Saya pun membacanya di suatu lorong. Saya lantas berkeinginan memahami terminologi frasa, yang menurut saya, baru di kalangan fotografi bahkan “medeni” wong.

Tulisan ini tidak dalam posisi hendak menjawab pertanyaan sulit tersebut, namun hanya mencoba mendekatinya saja. Ada beberapa bagian, yang mirip kue lapis, yang perlu dipahami terlebih dahulu sebelum masuk ke fotografi kritis.

Fotografi teknis

Kemampuan mekanis kamera dalam memproduksi suatu imaji dwi matra, secara singkat merupakan sinkronisasi antara Diafragma, Speed dan ISO. Tiga hal ini sering disebut sebagai pilar utama fotografi. Pada sinkronisasi tersebut terdapat konsep F-Stop, sebuah permainan utak atik angka yang merupakan satuan ukur intensitas cahaya. F-stop dan tiga pilar ini merupakan aspek fundamental dalam fotografi.

Namun fotografi digital memangkas pemahaman ini dengan fitur-fitur canggih. Otomatisasi ini mempercepat proses produksi foto, yang sering kali berujung pada kedangkalan pemahaman tentang F-Stop. Sekaliber fotografer wedding di suatu kota, dengan pengalaman 10 tahun pun tidak lolos test tentang F-Stop pada Uji Kompetensi Fotografi yang diadakan BeKraf.

Di era fotografi analog, pernah saya dengar istilah “light meter 0” atau metering normal pada suatu kondisi pemotretan agar menghasilkan hasil yang natural. Konsep ini pernah menjadi perdebatan cukup serius ketika saya masih mahasiswa. Ada yang pro ada yang kontra. Hal itu adalah sebuah pertanda, baik adanya. Subjek yang didebatkan memiliki nilai yang berbeda, dan nilai yang berbeda tersebut diyakini oleh para pengikutnya.

Dan keyakinan teknis fotografi pada suatu titik membuat fotografer berkiblat, memaksa fotografer menghadap, terhadap suatu keyakinan hasil yang akan didapat. Penggunaan alat bantu pencahayaan pun sempat menjadi perdebatan hangat nan menyengat. Sampai-sampai seorang kawan menuliskan status “semoga saat aku nanti tua, tidak menjadi orang yang bebal dan keras hati walau sehebat apapun pencapaianku kelak.. Aamiin..”. Saya sependapat dengan anda Kawan.

Setidaknya sampai saat ini fotografi teknis masih menjadi perbincangan yang populer di mata penggemar fotografi anyaran. Bagi yang kawakan, teknis fotografi bukan hanya sebagai barang mainan dan juga menjadi ciri khas, personal branding serta keyakinan.

Fotografi Bisnis

Bagi pabrikan fotografi, masyarakat Indonesia merupakan konsumen yang dinamis, dan itu baik secara bisnis. Perihal identitas, kadang hanya perlu simbol dot merah di kamera saat dokumentasi makan soto. Atau saat liputan wedding, anda hanya perlu bekal lensa dengan ring berwarna merah untuk membuat klien terpesona, walau kadang ring merah diakali dengan karet merah. Lensa pun sama dengan nasi bungkus. Piss.

Berangkat dari aspek teknis, pelatihan fotografi teknis menjadi ladang bisnis. Praktik memotret model selalu ada setiap tahunnya. Hunting model istilahnya. Langgeng perhelatannya. Belajar adalah alasan mendasarnya. Perputaran uang pada moda bisnis ini memang berakar pada fotografi teknis.

Pasarnya ada, dan melimpah pula. Mulai dari anak-anak, pelajar sampai orang yang sudah berusia. Memang demikian adanya. Fotografi teknis menawarkan sesuatu yang magis, daya pikatnya adalah menghasilkan foto yang manis karena terkadang tidak perlu memandang aspek etis, yang penting mampu menghasilkan foto estetis.

Namun ada pula yang bergerak dari hati, mengembangkan fotografi di dunia edukasi. Berbagai genre mulai ramai muncul di permukaan, di berbagai ruang diskusi. Di sini, fotografi diperlakukan sebagai sebuah instrumen utama untuk menghasilkan sebuah pesan-pesan tertentu, pada genre-genre tertentu, dengan cara-cara tertentu. Ada yang gratis maupun berbayar. Masif dan menarik. Terus dan berulang. Pada titik pengulangan inilah, masyarakat yang mulai jengah dengan fotografi teknis.

Fotografi non-teknis

Isitlah non-teknis sejatinya hanya sebagai rumah dari besarnya topik yang bisa dibahas. Sandra Morierty, dalam bukunya The Handbook of Visual Communication, memetakan persinggungan fotografi dengan disiplin ilmu lain, yaitu psikologi, sosiologi, antropologi, linguistik, semiotik, media massa, kajian kritis, sejarah, kajian seni, estetika, persepsi, kognisi, literasi visual, edukasi, komunikasi, retorika, budaya visual sampai pada ilmu filsafat. Terhadap fotografi non-teknis, ada fotografer yang nyinyir, ada yang jungkir balik jungkir. Ada yang nyindir, ada yang satir. Ada yang terbuka sekali, ada yang “panganan opo sih iki?” Itu pertanda baik.

Berangkat dari pemahaman fotografi yang jauh lebih luas, maka semakin terbuka pikiran masyarakat tentang fotografi. Manfaat fotografi non-teknis tentu akan mengasah pelaku fotografi untuk keluar dari aspek teknis, berusaha menghadirkan cerita visual yang arbiter ataupun yang logis, dilandasi oleh perasaan miris, yang lantas menghasilkan pikiran-pikiran kritis. Fotografi non-teknis akan jauh lebih seru jika kita mengenal para pemikir-pemikir dengan paradigma tertentu.

Eli, salah satu peserta workshop fotografi From Shooting to Management File yang diselenggarakan Rumah Baca Aqil, tengah praktik fotografi. (Foto : Radityo Widiatmojo)

Paradigma Kritis

Ada sesuatu di balik sesuatu. Untuk melihat sesuatu dibalik sesuatu tersebut, diperlukan sebuah kerangka pikir yang utuh agar tidak terjatuh. Kerangka itulah yang disebut sebagai paradigma. Cara berpikir “Ada sesuatu di balik sesuatu” dinamakan kritis. Pemikir dengan paradigma kritis akan selalu melahirkan konsepsi yang sangat menarik untuk dipahami.

Sebut saja, Roland Barthes memiliki konsep Spectrum Spectator Operator Punctum Studium sampai pada Myth, Berger dengan konsep Seeing is Believing, Theo van Leuween dengan buku Reading Image, WJH Mitchell dengan Picture Theory, Baudrilard dengan konsep Hyper-reality, Pierre Bourdieu dengan pendalaman Symbolic Violence, Susan Sontag dengan buku On Photography, Walter Benjamin dengan esai Mechanical Reproduction, Joan Fontcuberta dengan buku Pandora’s Camera.

Pemikir Indonesia juga tidak kalah menarik, seperti Yudhi Soerjoatmodjo yang mengkaji ulang definisi Foto Jurnalistik, Seno Gumira Ajidarma dengan buku Kisah Mata yang sarat makna, Almarhum Benny Hoed yang menuliskan konsep semiotika getok tular, Oscar Motulah yang selalu memiliki efek kejut disetiap karya visual maupun karya tulisnya, Firman Ichsan dengan pemikiran realisme kritis dan budaya visual, Anton Ismail yang gencar menyadarkan kreatifitas manusia untuk keluar tumbuh liar, ataupun Agan Harahap yang membuat kita belajar untuk mempertanyakan bahkan menertawakan kehidupan barat-di-timur melalui kolase yang sempurna.

Ada pula Sukri yang selalu mengingatkan akan pentingnya membaca konsep-konsep Hermeunetika sampai semiotika di social medianya, Arkademy besutan Ben dan kawan-kawan yang menyajikan penyegaran dan wacana-wacana baru, serta Ng Swan Ti dan Edy Purnomo bersama tim Panna Institute yang gencar melakukan edukasi di bidang literasi visual di seluruh Indonesia.

Fotografi Akademis

Jurnal dan buku adalah rumah bagi pemikir dan pelaku fotografi. Di rumah inilah fotografi diberlakukan sebagai sebuah pendekatan untuk menguraikan fenomena kehidupan. Fotografi dikupas tidak dari dalam dirinya, namun dialektikanya dengan manusia. Di sini, fotografi sarat dengan pengetahuan. Tidak heran, semakin ke sini, banyak yang tertarik menulis kajian-kajian budaya visual, bukan lagi pada fotografi teknis.

Pada ekosistem ini, membaca adalah kunci. Sukri adalah contoh yang sangat baik untuk ditiru. Di kamarnya, hidup ratusan buku yang siap dibaca oleh tuannya. Siap membuka cakrawala sang pembacanya.

Ekosistem fotografi akademis memang sudah terbangun, baik secara daring ataupun luring. Acara diskusi tentang fotografi non teknis dengan paradigma kritis sering dilontarkan. Ada yang berkala, ada pula yang seadanya. Pun demikian dengan tulisan. Jurnal-jurnal ilmiah sudah banyak yang mengakomodir tulisan-tulisan kritis tentang fotografi.

Penerbit buku, baik arus utama ataupun independent juga sudah banyak mengakomodir wacana-wacana kritis terkait fotografi. Selain di buku dan jurnal, tulisan-tulisan tentang fotografi non teknis dengan paradigma kritis sudah bisa dinikmati di website, blog, dan social medianya pelaku-pelaku fotografi Indonesia. Semakin banyak kritikus, penulis, kurator, editor yang menulis semakin baik pula perbincangan fotografi di Indonesia. Semakin suatu kajian fotografi didebat, semakin sadar pula masyarakat akan kebiasaan berdiskusi dengan sehat.

Fotografi Kritis

Terus apa yang menjadikan fotografi itu kritis? Kameranya? Fotografernya? Subjeknya? Jamannya? Fotonya? Pamerannya? Bukufotonya? Apanya?” Teman saya ngotot mengajukan pertanyaan. Bagi saya ini pertanyaan yang never-ending. Namun sebelumnya, pertanyakan dulu fotografinya, bukan kritisnya. Apa itu Fotografi? Apa yang ada dibalik fotografi? Nilai-nilai apa yang bersemayam di dalamnya? Bagaimana anda memaknai fotografi dalam hidup anda?

Lalu pertanyakan, apakah fotografi perlu kritis? “Ada”kah fotografi kritis itu? Atau fotografer yang manis hendak meng-Ada dengan melemparkan frasa fotografi kritis? Atau mungkin fotografi sudah kritis sejak kelahirannya?

Mungkin. Ya, mungkin.

Kepada teman yang tadi bertanya, saya berucap “sepurane sam, ayas ngungib…

Malang, 30 Juni 2020

* Pengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini