Bermain dan Belajar di Candi Badut

Dakon awalnya merupakan sebuah ritual para petani untuk menghitung masa tanam disesuaikan dengan hujan. Sehingga ada peninggalan berupa watu dakon atau batu congklak sebagai media astronomi untuk menghitung pranata mangsa, Congklak, merupakan permainan khas anak petani. Tersebar di daerah agraris. Di kedua ujung congklak, ada lumbung.  Saat bermain, anak-anak harus berhati-hati dan memperhatikan lumbungnya.

Terakota.id–Ratusan anak-anak, mulai usia Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama memenuhi pelataran Candi Badut , Desa Karangwidoro, Kabupaten Malang. Mereka menyebar di sekeliling candi. Berkumpul dalam beberapa kelompok. Mereka fokus belajar belajar menari, membuat kerajinan, bermain permainan tradisional, membaca buku cerita anak-anak dan menggambar.

Sepuluh anak duduk meriung mengelilingi Samsul Subari alias Mbah Karjo. Masing-masing memegang selembar daun pisang, dibelah menjadi beberapa bagian. Dengan terampil dan telaten Mbah Karjo mengajarkan anak-anak usia 10 tahunan ini menganyam dengan daun pisang.

“Kalau sudah panjang, bisa dipakai gelang, bandana dan sabuk,” kata seniman yang dikenal dengan kreasi wayang suket. Kali ini dia melatih anak-anak membuat kerajinan berupa anyaman dan permaianan dari alam. Mulai membuat kalung dari sebatang daun singkong. Membuat kuda-kudaan dari pelepah daun pisang.

“Membuat wayang suket mereka belum bisa. Sementara permainan ini,” kata Mbah Karjo sembari mengajarkan anak-anak berkreasi dengan aneka daun. Sementara di samping Mbah Karjo, anak-anak  dilatih menari. Mereka mengenakan sampur atau selendang tari, mereka belajar menggerakkan anggota tubuh untuk belajar dasar menari.

Ada yang terlihat malu-malu, namun ada yang aktif mengikuti instruktur. Sebagian tertarik dengan tari kipas.  Sementara, sebagian lainnya memilih membaca aneka buku cerita anak-anak. Sebuah perpustakaan keliling membawa aneka buku bacaan anak-anak. Anak-anak terlihat menikmati seharian di Candi Badut.

Ceria, anak-anak belajar menari di pelataran Candi Badut. (Terakota/Eko Widianto).

Kegiatan itu merupakan rangkaian dari ‘Ajar Pusaka Budaya’ spesial anak-anak. Melibatkan berbagai komunitas, pegiat sejarah, literasi, seni, dan budaya di Malang. “Memperingati hari anak se dunia sekaligus mengenalkan pendidikan sejarah dan kesenian tradisi sejak dini,” kata pegiat Jelajah Jejak Malang, Restu Respati penggagas acara.

Banyak komunitas yang berpastisipasi dalam ajar pusaka budaya ini. Mereka terlibat aktif, memberikan dukungan dan berpartisipasi secara sukarela. Para seniman dan budayawan turun langsung mengenalkan kesenian dan tradisi anak-anak.

Baca juga :  Nyekar ke Makam Sang Maestro

Bermain di Pelataran Candi

Seperti Mbah Yongki Irawan seorang seniman sepuh yang kini mengenalkan permaianan anak Nyi Putut. Sebuah permainan anak, yang selama ini dianggap seperti jailangkung. Berupa sebuah boneka mengenakan topeng, mahkota, berkebaya dan kain jarit. Dalam permaianan ini, lima orang memegang boneka Nyi Putut bersama-sama. Mereka diminta memejamkan mata, tangan mengikuti gerakan para pemainnya.

“Bukan mistis, tak ada klenik dalam permaianan ini,” kata Mbah Yongki. Permaianan ini, katanya, merupakan bagian dari kekuatan pikiran. Tak ada kaitannya dengan mistis atau tahayul. Para pemain terlihat terkesima dan kaget boneka Nyi Putut bisa bergerak sesuai pikiran para pemainnya.

Anak-anak bermain Nyi Putut. (Terakota/Eko Widianto).

Tak ketinggalan, juga ada permaianan congklak dan kelereng. Anak-anak dari kampung edukasi Ngijo, Karangploso, memainkan permaianan tradisional yang sudah jarang dimainkan anak-anak sebaya. Selama ini, anak-anak lebih banyak bermain games di gawai dan komputer. “Bermain dakon (congklak) bukan sekedar permainan. Tetapi adu strategi, dan permainan otak,” ujar Mbah Yongki.

Sementara bermain kelereng atau gundu, merupakan permaianan ketangkasan. Anak-anak diajarkan ketangkasan, untuk mengatur atara jarak dengan teknik memukul gundu. Permainan tradisional, katanya, tak sekedar permainan tetapi ada nilai filosofi di dalamnya.

Untuk itu, dia mengajak semua pihak melestarikan kembali permaianan atau dolanan anak yang sudah mulai ditinggalkan. Agar anak tak tergantung dengan teknologi dan peralatan permaianan modern. “Kembali dilestarikan permaianan tradisional agar cerdas dan tak manja.”

Sementara arkeolog dan pengajar Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono menjelaskan jika dakon awalnya merupakan sebuah ritual para petani untuk menghitung masa tanam disesuaikan dengan hujan. Sehingga ada peninggalan berupa watu dakon atau batu congklak sebagai media astronomi. “Untuk menghitung pranata mangsa, atau musim tanam,” katanya.

Baca juga :  Pulau Sempu Sayang, Pulau Sempu Malang

Congklak, katanya, merupakan permainan khas anak petani. Tersebar di daerah agraris. Di kedua ujung congklak, ada lumbung.  Saat bermain, anak-anak harus berhati-hati dan memperhatikan lumbungnya. “Kunci petani ya kehati-hatian. Agar bisa hidup pada musim tanam berikutnya,” ujarnya.

Anak-anak bermain dan menari di pelataran Candi Badut. (Terakota/Eko Widianto).

Lestarikan dan Lindungi Candi Badut

Pendongeng dan motivator anak, Demsi Daniel menjelaskan jika hari anak se dunia diperingati sejak 1989 di Inggris, setelah deklarasi hak anak.  Yakni anak-anak harus mendapatkanhaknya berupa hak hidup, hak untuk dapat pendidikan, kasih sayang, tak dihakimi dan hak tumbuh kembang.

“Candi milik kita. Harus dilindungi. Harus dipelihara, dijaga, dirawat dan tidak merusak,” kata Demsi menirukan komentar anak-anak.  Demsi mengajak anak-anak berkumpul, bergandeng tangan bersama-sama bapak dan ibunya. Mereka bergandengan melingkar, mengelilingi candi.

“Ayo buktikan kita bisa melindungi candi, tak hanya sekedar berkataan,” ujarnya. M.Dwi Cahyono menjelaskan jika Candi Badut dibangun pada abad ke delapan. Didirikan pada masa pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan di bawahpemerintahan Raja Gajayana.  Candi Badut merupakan candi paling tua di Jawa Timur. Selain itu, Kerajaan Kanjuruhan merupakan kerajaan tertua di Jawa timur.

Candi Badut merupakan candi yang disucikan, berada di daerah yang dialiri sungai Metro dari dari mata air suci di lereng Gunung Kawi. Gunung yang terletak di barat candi, terbentang dari utara ke selatan. Air yang mengalir merupakan air suci bagi umat Hindu-Budha.

Candi Badut terdiri dari kaki, batur, atap dan kemuncak. Namun, atap sudah tak utuh. Kemuncak diletakkan di sisi selatan candi. Teronggok bersama bebatuan candi yang lain. Selain Candi Badut sebagai candi induk, awalnya ada tiga candi lain di tengah, selatan dan utara candi. “Namanya candi Perwara,” ujarnya.

Baca juga :  Mengingat Munir Menyalakan Kemanusiaan
Anak-anak berajar membuat anyaman dari daun pisang dan kerajinan berbahan alami. (Terakota/Eko Widianto).

Selain itu, candi ada pagar yang mengelilingi candi. Pintu masuk, katanya, dulu berada di barat. Kini, pintu berada di timur  berbatasan dengan kawasan Kelurahan Karangbesuki, Kota Malang.  Sedangkan peninggalan lingga dan yoni. Hanya tertinggal lingga, sedangkan yoni rusak, lapuk dimakan zaman.

Awalnya, kata Dwi, ada arca Dewi Durga Mahisa Suramardhini istri Dewa Siwa. Arca terletak di kanan pintu masuk. Sedangkan di kiri ada arca Maheswari, namun kedua arca telah raib.  Sementara di utara terdapat arca Agastya. Dulu, katanya, arca Agastya ditempatkan di relung atau bilik Candi Badut.

“Candi berada di Desa Badut. Karena banyak pohon badut. Seperti pohon nangka, sekarang langka,” kata Dwi memungkasi sejarah Candi Badut. Ajar pusaka budaya spesial anak ditutup dengan permaianan alat musik tradisi kolaborasi antara sapek alat musik berdawai dari dayak dengan dideridu asal Australia.

 

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here