Berkat Tangan Tuhan

Terakota.id–Gitaris Emmanuel Herry Hertoto atau karib disapa Toto Tewel duduk di kursi sembari memeluk gitar. Sekitar 100 pasang mata menatap kagum, Toto tampil garang. Suara gitar meraung-raung, cabikan dawai gitar menghipnotis penonton yang hadir di Museum Musik Indonesia, gedung kesenian Gajayana, Jalan Nusakambangan Nomor 19 Kota Malang, Kamis  malam 10 Mei 2018.

Penonton meriung, duduk lesehan. Mata mereka tak pernah lepas, menatap keterampilan Toto Tewel memainkan gitar. Penonton beragama, usia, status sosial dan pekerjaan. Sebagian anak muda, jelas mereka tak tahu siapa Toto Tewel. Kehadiran mereka disatukan oleh musik.  Disatukan oleh kemahiran Toto memainkan alat musik petik ini.

Seolah tak berjarak, para penonton melontarkan celetukan dan menggoda Toto Tewel. Maklum, sebagian merupakan teman dekat Toto selama bermusik maupun teman sepermainan selama di Malang. Malam itu menjadi reuni bagi Toto bersama teman, termasuk dengan vokalis Elpamas, Yudi Judaz.

Mereka tampil berdua, termasuk dengan sang putri Nova Ruth. Toto Tewel juga bermain gitar duet dengan Anto Baret, teman yang mendukung produksi solo album instrumental berjudul Miberdhewen. Ajang reuni ini sekaligus memperkenalkan album dan berdialog dengan publik Malang.

Album terdiri dari tujuh lagu, Miberdhewen diambil dari bahasa Jawa artinya terbang sendiri. Toto memainkan semua instrumen dalam album itu, mulai gitar, drum, bas, dan mengaransemennya. Ketujuh lagu ini dikerjakan pada medio 2006-2007. Sebuah album solo ini lahir setelah 45 tahun Toto berkiprah di belantika musik Indonesia.

“Album solo ini saya kerjakan sendiri,” ujar Toto Tewel membuka penampilan perdana di depan publik Malang. Album ini, katanya, tak bakal hadir tanpa tangan Tuhan yang bekerja. Terlalu lama di jalanan, sehingga baru kali ini berkesempatan meluncurkan album solo perdana.

Reuni Elpamas

Toto Tewel tampil memukau saat promo album Miberdhewen di Museum Musik Indonesia. (Terakota/Eko Widianto).

Toto berusaha tampil terbaik selama pertunjukan. Dia berjanji akan terus berkarya untuk dunia musik di tanah air. Toto tampil bersama Yudi Judaz, turut mengobati para fans Elpamas. Apalagi keduanya berduet menyanyikan lagu berjudul cukuplah sudah. Diciptakan Yudi 2007 ini merupakan salah satu lagu dari 12 lagu dalam album Elpamas.

Materi lagu telah direkam, namun belum diedarkan sampai sekarang. Yudi mengaku tak tahu kenapa Log Zelebour tak mengeluarkan album yang diproduksi band yang berdiri sejak 1983. “Baru kali ini dinyanyikan di depan publik,” kata Yudi.

Ia berharap setelah lebaran, Elpamas kembali membuat karya. Termasuk mendaur ulang album yang belum pernah dikeluarkan. Sejumlah materi lagu, katanya, masih relevan dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Toto juga menyambut dengan merancang single baru saat puasa. Sehingga akan mudah menyapa penggemarnya dari panggung ke panggung. Duo Toto dan Yudi ditutup dengan lagu Pak Tua yang sempat melambungkan Elpamas.

Tampil selama dua jam, Toto menyuguhkan tiga lagu instrumentalia berjudul macam lanang dan macan wedok. Di tengah penampilan, ia memanggil sang putri, Nova Ruth.

Pengen kolaborasi dengan anakku.” Bapak dan anak ini tampil enerjik, Nova yang dikenal duo Filastine ini bernyanyi sembari memetik dawai gitar. “Rodok ndredeg (Rada gerogi),” kata Nova. “Podo (sama),” Toto menimpal.

Aksi panggung ditutup dengan duet bersama Anto Baret (Komunitas Penyanyi Jalanan/KPJ). Mereka menyuguhkan tiga lagu sekaligus. Sarat kritik dan menyentil pemerintah. Dipungkasi dengan lagu salam damai.

Malam semakin larut, Toto tampil tak berjarak. Ia intens berinteraksi dengan penonton. Sorak sorai dan berdendang bersama membawa suasana pertunjukan panggung Toto cair. Menyatu dengan para penikmat musik Kota Malang. Penonton berasal dari latar belakang dan usia yang beragam.

Keberuntungan dan Keajaiban

Album dikerjakan secara indie, melalui Pelampung Records. Wahyu Micorazon dari Pelampung Records berkomunikasi dengan Toto sejak 2010 untuk memproduksi album solo. Materi lagu, katanya, sudah siap tapi rencana buyar karena Toto dipinang Iwan Fals untuk mengerjakan tiga album. “2017 longgar, ayo kita jalan. Lahirlah album ini,” kata Wahyu yang kini juga sebagai manajer Toto.

Ia sempat was-was dan nyaris putus asa tak bisa mewujudkan album, lantaran materi lagu yang tersisa hanya berbentuk MP3. Sementara master album tak tahu ke mana. “Tiba-tiba ada yang punya format WAV di cakram padat. Semua karena tangan Tuhan,” ujarnya.

Album yang dikerjakan secara indie, penuh tantangan. Keterbatasan dana album dicetak dalam 500 keping cakram padat. Distribusi dilakukan sendiri melalui Kiospaktua yang dipromosikan di beragam media sosial.

“Distribusi sendiri. Kerja militan, dana terbatas.” Toto, katanya, optimistis respon pasar bagus. Meski album ini awalnya bakal dibeli anak muda yang suka bermain gitar. Ternyata, kata Wahyu, banyak juga orang yang bisa bermain gitar membeli cakram padat yang dijual Rp 50 ribu per keping. Penjualan dilakukan sejak 19 April 2018.

Sebagai musisi, katanya, Toto tak terbantahkan. Fans Iwan Fals yang tergabung dalam Orang Indonesia (OI) juga mengidolakan Toto tewel. Toto tak memasang target dalam penjualan album ini. “Seniman betul. Om Toto yang penting berkarya, tak memikirkan penjualan album.”

Pertunjukan di MMI malam itu menjadi penanda jika Toto tak mau berjarak dengan penonton. Toto pernah bermain di depan teras orang dengan bayaran Rp 750 ribu. “Ia suka keintiman saat pertunjukan. Sedangkan panggung besar terlalu berjarak,” kata Wahyu.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini