Berguru pada Kegagalan Penyair ‘Nakal’

Amuk tragedi Mei ’98 ia suarakan melalui puisinya “Mei.” Puisi itu merujuk pada kebrutalan penjarahan, pemerkosaan, pembakaran, kekerasan, bahkan pembunuhan yang dialamatkan kepada etnis tertentu. “Mei” juga merujuk pada seorang perempuan yang menjadi korban.

Terakota.id–Lampu temaram, panggung studio UBTV dibalut kain hitam. Lampu menyorot ke atas panggung. Di atas panggung, dua sastrawan tengah duduk bersanding. Sastrawan asal Malang, Yusri Fajar dan sastrawan yang terkenal karena puisinya, Joko Pinurbo atau Jokpin.

“Puisi Jokpin berkait dengan kejenakaan, kenakalan, dan parodi. Itu semua juga bagian dari protes. Selain itu, Mas Jokpin ini juga dikenal sebagai penyair yang banyak mengekspresikan soal tubuh. Puisi Celana, Tahi Lalat, misalnya. Mas Jokpin dalam puisinya juga bicara kebhinekaan,” kata Yusri Fajar, moderator bincang sastra pada malam puncak “Festival Bulan Bahasa 2017” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan UKM Mata Pena Universitas Brawijaya (UB).

Penyair “mbeling” sering digunakan untuk menyebut Jokpin. Sebagai penyair ia punya ciri khas yang membuat publik mudah mengingatnya. Puisi-puisinya  jenaka. Meski sederhana tapi mengena. Unsur kenakalan dalam bait-bait yang ia tulis menghibur sekaligus mengajak berfikir.

Penonton dibuat terdiam ketika Jokpin berkata ingin membagi langkah-langkah dalam menulis puisi. Bukan tips-tips menulis seperti yang dibayangkan. Jokpin ternyata membacakan puisinya berjudul “Langkah-langkah Menulis Puisi.”

Katanya, “Langkah pertama:/ Duduklah/ Langkah kedua:/ Duduklah dengan tenang/ Langkah ketiga:/ Duduklah dengan tenang di atas batu/Langkah keempat:/ Duduklah dengan tenang di atas batu yang kelak akan menjadi batu nisanmu/ Langkah kelima:/ Duduklah dengan tenang di atas batu yang kelak akan menjadi batu nisanmu sambil membaca/Langkah keenam:/ Duduklah dengan tenang di atas batu yang kelak akan menjadi batu nisanmu sambil membaca. Pramoedya Ananta Toer “Hidup sungguh sederhana. Yang hebat hanya tafsirannya/ Langkah ketujuh dan seterusnya:/Abrakadabra//.”

Sontak seluruh hadirin tertawa. Jokpin meneruskan, bahwa menulis puisi itu yang sulit adalah langkah satu sampai enam. Butuh perenungan, membaca, kontemplasi, bahkan juga riset. Dan itu butuh kesabaran. Kalau tinggal menuliskan itu mudah, “Abrakadabra.”

Berkaitan dengan tama acara, “Perspektif Bhineka dalam Sastra,” Jokpin menyebut bahasa sebagai perekat keberagaman. Bahasa Indonesia, menurut Jokpin, merupakan puncak pencapaian peradaban. Ia patut dibanggakan. Masyarakat Indonesia harus terus mengeksplorasi Bahasa Indonesia.

Jokpin mencontohkan melalui puisinya, “Kamus Kecil.” Ia membacakan beberapa baitnya. Dari sana ia menunjukkan bahwa bahasa Indonesia patut dibanggakan. ” Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu, walau kadang rumit dan membingungkan./ Ia mengajari saya cara mengarang ilmu sehingga saya tahu/… ,”ungkap Jokpin di awal puisinya.

Melalui “Kamus Kecil” Jokpin menunjukkan bahwa satu kata punya kaitan dengan kata lain. Misalnya, ibu dengan iba, kening dengan kenang, Tuhan dengan hantu, “…/Bahwa ingin berawal dari angan;/Bahwa Ibu tak pernah kehilangan iba;/Bahwa segala yang baik akan berbiak;/Bahwa orang ramah tidak mudah marah; …//.”

Agama menurut Jokpin adalah “celana” yang lain. Ia atribut, identitas manusia yang berbeda-beda. Karenanya, konflik agama sebenarnya bukan konflik antar agama. Melainkan politisasi agama. Agama dan religiusitas adalah dua hal yang berbeda. Soal keberagaman, Jokpin mengaku banyak belajar dari Gus Dur.

Amuk tragedi Mei ’98 ia suarakan melalui puisinya “Mei.” Puisi itu merujuk pada kebrutalan penjarahan, pemerkosaan, pembakaran, kekerasan, bahkan pembunuhan yang dialamatkan kepada etnis tertentu. “Mei” juga merujuk pada sesosok perempuan yang menjadi korban.

Puisi-puisi Jokpin yang menawarkan kejenakaan itu bukan tanpa visi yang jelas. Ia melihat hidup ini banyak konyolnya daripada seriusnya. Selain itu, Jokpin juga berusaha memberi tawaran lain atas estetika yang diwariskan Chairil Anwar. Nuansa pesimis, kelam, kelabu, terwariskan turun temurun. Karenanya, ia menawarkan, “sikap hidup optimis, dirayakan dengan bahagia, terlepas kurang lebihnya. Begitulah hidup.”

Dibalik kejenakaan, puisi Jokpin mengandung kedalaman makna. Puisinya “Telepon Genggam” misalnya. Dengan puisi itu, Jokpin hendak mengatakan ”semakin canggih teknologi komunikasi kita, kalau mau jujur, juga mempertajam kesepian dan kesunyian kita. Ia melahirkan bentuk kesepian-kesepian baru. Rindu-rindu baru.”

Puisinya yang lain, “Celana,” mengandaikan atribut yang melekat pada manusia. Ia artifisial namun sering menjadi alasan kekaguman manusia. Menurut Jokpin, semua manusia punya celana masing-masing. Menunjukkan identitas masing-masing.

Karenanya, Jokpin mengatakan bahwa yang spiritual lah yang menjadi pengikat ragam identitas artifisial itu. Religiusitas juga ia tunjukkan dalam puisinya yang lain. Ada puisinya “Sarung” yang identik dengan religiusitas santri. Lalu, “Kamar Mandi” yang menjadi tempat manusia memerlukan ritual mandi untuk pembersihan diri.

Merasa Gagal 20 Tahun, Lalu Muncul Menggoda

Siapa sangka, dibalik nama besarnya kini, Jokpin pernah merasa gagal. Ia bisa dikatakan cukup telat sebagai seorang penyair. Ia baru menerbitkan buku puisi ketika usianya sudah 37 tahun. Padahal, menurutnya ia telah menulis puisi sejak SMA.

Tiga buku puisinya ditolak. Ia merasa apa yang telah dilakukan selama dua puluh tahun sebelumnya sebagai kegagalan. Alih-alih putus asa dan berganti profesi. Jokpin memberi kesempatan sekali lagi bagi dirinya. Ia mengevaluasi puisi-puisi yang 20 tahun terakhir telah ia tulis.

Benar, bagi Jokpin puisinya tak menawarkan apa-apa. Ia hanya bicara curhat-curhatan, romantis-romantisan, khas Chairil Anwar dan Amir Hamzah. Lalu ia sadar, menulis puisi tidak bisa mengandalkan ilham.

Setelah 20 tahun merasa gagal, ia lalu menemukan metode menulis puisi. Bukan getaran hati. Jokpin lalu mulai meneliti kosa-kata yang selama ini digunakan penyair Indonesia. Ternyata banyak yang belum mereka tulis. Hal-hal sederhana; celana, sarung, kamar mandi, tahi lalat.

Bertolak dari kata-kata sederhana, lalu Jokpin menemukan premis atau visi yang berkaitan dengan kata tersebut. Menemukan premis atau visi ini lah yang menurut Jokpin butuh kesabaran, keuletan, dan kerja keras. Misalnya untuk “Celana” Jokpin menemukan premisnya di Alkitab. Lalu, humor, kejenakaan, ia gunakan sebagai ciri khasnya.

“Dibalik puisi-puisi saya yang terkesan lucu, ada kegagalan saya, sikap penyair, pembacaan  penyair, dan eksplorasi yang panjang dari seorang penyair,” ujar penyair penggila kopi ini.

Tinggalkan Balasan