Bergelap-gelap dalam Terang dan Berterang-terang dalam Gelap

Oleh : Ferdiyan Ananta*

Terakota.id–Moderenitas seolah telah menjadi ideologi baru ditengah-tengah masyarakat kita hari ini. Pola hidup manusia moderen dianggap sebagai puncak peradaban manusia. Bilamana ada satu orang atau sekelompok masyarakat tidak mengikuti pola hidup tersebut, maka seringkali mereka akan dianggap tertinggal bahkan terbelakang.

Sementara itu, di Indonesia, ada beberapa suku yang memilih berpegang teguh terhadap adat leluhurnya dan tidak campur-baur dengan masyarakat kota. Akankah kita mengatakan bahwa masyarakat tersebut merupakan masyarakat tertinggal, terbelakang dan pantas dikasihani? Barangkali kita mesti mengurai fenomena ini dengan sudut pandang yang sedikit lebih luas agar kita bisa menemukan kebijaksanaan berpikir mengenai pilihan-pilihan hidup masyarakat kita.

Umum kita pahami bahwa maderenitas adalah pola hidup yang mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Mereka dipermudah dan dimanjakan oleh fasilitas-fasilitas yang memungkinkan mereka menyelesaikan pekerjaan yang berat dengan sekali tekan tombol; mengendalikan banyak hal dengan layar datar yang tersimpan di ruang-ruang tersembunyi, dan mengantarkan manusia ke berbagai sudut dunia hanya dengan hitungan jam melalaui percepatan-percepatan dalam bidang transportasi. Semua itu harus diakui sebagai capaian-capaian luar biasa dari manusia pada abad ini.

Di sisi lain, percepatan teknologi dan informasi tersebut juga melahirkan budayanya sendiri. Hari ini kita bisa melihat bahwa masyarakat semakin hari menjadi semakin homogen. Pola hidup masyarakat moderen mengkerecut pada titik yang sama. Sehingga, mereka yang mempertahankan adat dan budaya leluhurnya dan tidak berbaur dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakat perkotaan seringkali dianggap tertinggal dan tidak mengikuti perkembangan jaman.

Namun, pada faktanya, ada beberapa suku pedalaman yang memilih untuk menjaga jarak dari semua kemudahan yang dihaslikan dari teknologi-teknologi modern tersebut. Baduy adalah salah satu dari suku-suku itu. Lantas akankah kita menyebut bahwa masyarakat Baduy adalah adalah masyarakat lain yang tertinggal dan pantas dikasihani?

Kejahatan Cara Pandang

Tidak sedikit diantara kita, ketika mengunjungi masyarakat pedalaman seperti Baduy, memposisikan diri sebagai seorang yang lebih tinggi. Melihat sekelompok masyarakat yang tidak sekolah, tidak memakai sandal, miskin, kotor, liar dan lain sebagainya, perasaan superioritas kita langsung tumbuh dan merasa bahwa mereka patut dikasihani. Bagi saya ini merupakan kejahatan cara pandang.

Karena secara tidak langsung kita beranggapan bahwa diri kita lebih baik, lebih bersih, bahagia, kaya, pintar dan seterusnya. Lalu kita berpikir untuk membantu mereka agar kehidupan mereka menjadi sebagaimana kita. Hal semacam ini menurut saya cukup berbahaya. Sebab setulus apa pun niat kita untuk membantu tanpa kajian yang dalam mengenai situasi adat dan lingkungan di lapangan, kita mungkin hanya menciptakan persoalan yang lebih buruk. Kita tentu masih ingat isu penyepatuan di Papua beberapa tahun silam.

Seorang perempuan Baduy merawat bayi di teras rumah. (Foto : Eko Sulistyanto).

Orang-orang suku pedalaman Papua mulanya tidak tak pernah ada masalah dengan kaki telanjangnya yang menembus hutan-hutan untuk mencari kehidupan dan penghidupan. Kearogansian satu pihak yang secara tidak langsung memaksa mereka menggunakan sepatu pada akhirnya memunculkan masalah baru.

Konon, setelah empat tahun mereka menggunakan sepatu, kaki mereka yang sekeras kayu berubah menjadi lembut, sementara sepatu yang mereka kenakan rusak dan sudah tidak bisa dipakai lagi. Terang saja ini menciptakan masalah baru untuk mereka. Oleh sebab itu, alangkah lebih baiknya jika kita mengkaji terlebih dahulu secara mendalam sebelum memberikan penilaian terhadap apa pun.

Beberapa pekan yang lalu saya berkesempatan mengunjungi Baduy bersama teman-teman dari beberapa kota yang berbeda. Selain ingin berlibur dan rehat dari bisingnya kendaraan kota dan media masa, tujuan kami memang ingin membuat video dokumenter mengenai cara hidup orang-orang Baduy dan segala kearifan di dalamnya.

Sebagaimana telah diketahui bersama, masyarakat Baduy merupakan satu-satunya suku pedalaman di Lebak-Banten. Mereka tinggal di perbukitan dan jauh sekali dari pusat perkotaan. Mereka terbagi menjadi dua kelompok; Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam adalah mereka yang masih kuat memegang adat dan segala aturannya, sementara Baduy Luar adalah mereka yang masih tinggal di wilayah Baduy namun telah terlepas dari aturan adat Baduy, meski hanya dalam beberapa hal kecil saja.

Secara keseluruhan Baduy Luar pun masih mengikuti adat istidat Baduy Dalam. Perjalanan kami beberapa pekan lalu dipandu oleh orang Baduy Luar. Dialah yang mengantarkan kami ke beberapa tempat dan memberikan informasi-informasi umum mengenai adat orang Baduy.

Saya yang baru pertamakali mengunjungi Baduy mengajukan banyak sekali pertanyaan mengenai budaya, filsafat hidup, hingga kesenian kepada orang-orang baduy. Terus terang saya merasa tertampar oleh berbagai kenyataan bahwa setiap tindakan, aturan, dan kepercayaan yang mereka ambil memiliki alasan kuat dan rasional.

Atau paling tidak saya ingin mengatakan bahwa apa yang mereka pikirkan dan kerjakan telah teruji sebagai cara terbaik untuk bertahan hidup selama ratusan tahun. Salah satunya ialah cara mereka memahami alam. Sebelum berkunjung ke Baduy, saya memang sering terlibat dalam kajian lingkungan dan membaca beberapa buku yang berhubungan dang isu-isu tersebut.

Dua buku yang saya selesaikan anatara lain ialah Ekofenomenologi karya Saras Dewi, dan The System Views of life karya Fritjof Capra dan Pier Luigi Luisi. Sederhananya, dua buku tersebut membahasa relasi antar manusia dan alam semesta. Baik Saras Dewi atau Fritjof Capra melemparkan wacana mengenai penolakan terhadap antroposentrisme yang meyakini bahwa manusialah pusat dari alam semesta ini sehingga mereka seolah dibenarkan mengeksploitasi alam semesta untuk kepentingan mereka pribadi.

Sebagai gantinya, dua buku itu mengungkap sebuah kenyataan bahwa ada relasi yang kuat antara manusia dan setiap biota yang hidup di alam semesta ini. Oleh sebab itu, setiap jengkal kerusakan yang dibuat oleh manusia di muka bumi ini, menebang pohon misalnya, tidak hanya akan merusak pohon itu sendiri, tapi susunan sistem alam semesta yang lain.

Pemahaman-pemahaman semacam ini sepertinya sudah selesai di kalangan masyarakat Baduy. Misalnya, ketika saya bertanya mengapa mereka tidak diperbolehkan menanam cengkeh di wilayah adat Baduy, padahal cengkeh merupakan tanaman yang banyak diburu dan menghasilkan keuntungan besar.

Masyarakat Baduy berjualan madu hutan di Jakarta. Ia berjalan kaki menuju Jakarta. (Foto : Eko Sulistyanto).

Mereka berkeyakinan bahwa jika mereka tanam cengkeh, maka Tuhan akan memberi cuaca panas melebihi apa yang mereka butuhkan sebab cengkeh-cengkeh tersebut butuh dikeringkan. Sementara, cuaca panas berlebihan juga menjadi ancaman bagi tanaman-tanaman pokok lain yang mereka butuhkan untuk sehari-hari. Saya betul-betul terkejut dengan jawaban itu.

Kontras sekali dengan orang-orang kebanyakan di kota yang menganggap diri mereka moderen, nyatanya tidak sampai dalam kebijaksanaan berpikir dan bertindak semacam itu. Sehingga kita bisa saksikan eksploitasi besar-besaran alam semesta oleh sekelompok orang tanpa mempertimbangkan dampak ekologis yang akan terjadi. Sekarang, siapa yang lebih primitive? Mereka atau kita yang menganggap diri moderen?

Perdebatan mengenai moderenitas itu sendiri sebetulnya sudah berlangsung lama dan melibatkan pemikir-pemikir terkemukan seperi Max Weber, Marcuse, Habermas dan pemikir-pemikir ilmu sosial lain. Saya sepakat dengan pandangan Habermas bahwa tolak ukur moderenitas adalah rasionalisasi. Namun, kita tidak bisa mendasarkan nalar rasional kita pada logika liberal.

Rasionalisasi kita harus berdasarkan nilai, dimana pertimbangannya tidak bisa parsial pada satu kiblat saja. Setiap daerah dan suku punya pertimbangan logisnya masing-masing. Masyarakat Baduy atau masyarakat suku pedalaman lainnya juga memiliki pertimbangan tersebut.

Segala hal yang mereka lakukan dan yakini disesuaikan dengan kebutuhan mereka bertahan hidup di lingkungan tempat mereka tinggal. Terbukti selama ratusan tahun alam mereka tetap terjaga dan kebutuhan-kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi dengan baik.

Mereka ini adalah orang-orang yang memilih bergelap-gelap dalam terang. Diantara kota-kota yang gemerlap dengan cahaya, mereka memilih untuk tidak menggunakan listrik, bergelap-gelap di tengah bukit. Namun, diantara kegelapan itu, mereka menyalakan cahaya kearifan yang terang.

Meski mereka, masyarakat Baduy khususnya, tidak bersekolah, alam dan lingkungan yang menyekolahkan mereka.  Mereka tidak memelihara binatang ternak yang teramat kotor, mereka tidak menjual tanah, tidak menebang sembarang pohon, tidak mengambil hak orang lain, dan mereka patuh terhadap pimpinannya. Mereka berterang-terang dalam gelap yang mereka pilih.

Mengakhiri esai ini, saya berharap kepada siapa pun yang bersilaturahmi dengan masyarakat pedalaman seperti Baduy, untuk tidak memposisikan diri sebagai orang yang lebih tinggi dan memaksakan paham-paham perkotaan kita terhadap mereka. Hal yang pling dihawatirkan ialah ketika mereka benar-benar berfikir dan mendefinisikan diri mereka sebagai masyarakat miskin.

Padahal kehidupan mereka sudah cukup meski hanya mengandalkan hasil-hasil bumi. Mereka belum tentu bisa bertahan jika kelak mengikuti pola hidup kita yang cenderung selalu tidak merasa cukup dan berdesakan dengan capaian-capaian yang lebih besar.

bergelap-gelap-dalam-terang-dan-berterang-terang-dalam-gelap

*Ketua Rumah Baca Damar26 Cilegon, Banten, Anggota YIB English School for Human Capital and Networking dan Alumni Al-Khairiyah Karangtengah Cilegon

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Pesan