Bergayut pada Tujuan yang Lebih Mulia

Foto: simplypsychology.org

Terakota.id-Saya ingin membuka tulisan ini dengan dua kisah nyata. Yang pertama adalah kisah Victor Frankl (1905-1997), seorang neurolog dan psikiater. Victor Frankl adalah seorang warga negara Austria berdarah Yahudi yang memiliki pengetahuan yang mendalam di bidang keahliannya serta kedudukan yang penting dalam perkembangan psikiatri di Eropa dan dunia. Namun, karena berdarah Yahudi, dia dan keluarganya dimasukkan ke kamp konsentrasi oleh tantara Nazi.

Ayahnya meninggal dunia di sana pada usia 81 tahun karena kelaparan dan pneumonia. Demikian pula istrinya yang baru dinikahinya sembilan bulan sebelum mereka ‘diangkut’ dan dijebloskan ke kamp kosentrasi. Kurang-lebih tiga tahun yang gelap dan dingin dijalaninya di empat kamp laknat tersebut. Namun, pada akhirnya dia mampu bertahan hidup. Dan, dia mengakui bahwa kemampuannya bertahan itu bukan semata-mata karena masalah takdir atau nasib baik. Apakah itu yang membuatnya sanggup bertahan di hadapan penderitaan yang amat pekat?

Kisah yang kedua adalah kisah penaklukan ibukota kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium, Konstantinopel, oleh kerajaan Turki Utsmani di bawah Sultan Mehmed II atau yang juga dikenal dengan nama Al-Fatih. Konstantinopel terletak di perbatasan antara Asia dan Eropa serta dibelah oleh Selat Bosphorus. Secara geopolitik dan ekonomi, letak yang sedemikian strategis menjadikan Konstantinopel sangat penting bagi perdagangan dan kegiatan-kegiatan lain. Konstantinopel merupakan kota yang dibangun secara sangat cermat dengan memerhatikan faktor keamanan dan pertahanan. Penyerbuan-penyerbuan sebelumnya dari para penguasa Islam belum berhasil menjatuhkannya.

Namun, pada 1453, setelah pertempuran yang berlangsung cukup panjang dan melelahkan, dengan adu strategi dan taktik tingkat tinggi, kota tersebut akhirnya berhasil jatuh ke tangan Sultan Mehmed II. Selain soal strategi dan taktik perang yang cerdik luar biasa dari Sultan Mehmed II, di mana sang Sultan memerintahkan agar kapal-kapal perang mereka diangkut dengan bantuan tenaga sapi melewati semenanjung Galata pada malam hari sehingga kehadirannya di sisi dalam Selat Bosphorus mengagetkan pasukan Konstantinopel, ada faktor lain yang sangat penting dan mendayai morale atau semangat juang pasukan Utsmani. Faktor apakah itu?

Sesuatu yang Lebih Besar dan Lebih Mulia

Sebagai makhluk yang mempunyai nalar dan kemampuan untuk merenung atau berefleksi, manusia beroleh kesadaran yang mendalam tentang eksistensi mereka di muka bumi ini. Kesadaran ini terus mewarnai kehidupan dan kesejarahannya. Berbeda dengan makhluk hidup lain, yaitu hewan dan tumbuhan, manusia bertanya dan mencoba mencari jawaban atas pertanyaan: siapa aku ini, mengapa atau untuk apa aku di sini, ke mana aku menuju setelah ini, dan seterusnya.

Karena pertanyaan-pertanyaan itulah, manusia menyadari bahwa keberadaan atau eksistensinya saja tidak mampu melandasi atau memberi makna bagi hidupnya. Hanya karena manusia bernafas, makan, berkembang biak, dan bergerak tidak berarti bahwa manusia bermakna. Makna bagi manusia, atau, secara luas, jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan siapa aku, mengapa atau untuk apa aku di sini, dan ke mana aku menuju, ternyata harus dicari dan diupayakan. Itulah pergulatan manusia yang coba ditelaah oleh para filsuf eksistensialis.

Victor Frankl menyadari bahwa penderitaan dan kesakitan luar biasa yang ditanggungnya di dalam kamp konsentrasi Nazi sangat berpotensi menggerogoti dan melumpuhkannya. Kehilangan demi kehilangan yang dialaminya sangat mungkin membuatnya runtuh dan tidak percaya lagi pada kemanusiaan. Dan, pada akhirnya dia hanya akan menguap begitu saja seperti asap hitam yang membumbung dari kamar gas, seperti terjadi pada berpuluh ribu orang Yahudi lain pada masa itu dan seperti yang memang diinginkan oleh Nazi. Kehidupan menghablur tanpa meninggalkan jejak, apalagi makna.

Namun, jauh dari kata menyerah dan kalah, Victor Frankl sanggup bertahan hidup dan bahkan menjadikan pengalamannya yang getir di kamp konsentrasi sebagai bahan bakar bagi keilmuannya. Dia memperkenalkan logoterapi, yang banyak orang sebut sebagai generasi ketiga dari psikoanalisis, setelah Sigmund Freud sebagai pendiri dan Alfred Adler. Logoterapi juga menjadikannya sebagai seorang psikolog eksistensialis ternama.

Seperti apakah logoterapi Victor Frankl dan bagaimana cara memandang kehidupan dan mencari makna di dalam logoterapi memungkinkan pengikutnya ‘selamat’? Secara ringkas sekali, logoterapi dapat didefinisikan sebagai cara memandang bahwa hidup ini digerakkan oleh hasrat atau keinginan kuat untuk menemukan makna (will to meaning, mengikuti pandangan filsuf eksistensialis Kierkegaard).

Dalam cara pandang logoterapi, walaupun seringkali begitu berat dan menyesakkan, hidup harus dilandasi dan dijalani dengan keyakinan bahwa makna itu ada, dan makna tidak selalu ditemukan di dalam diri sendiri, tetapi lebih sering di dalam kaitannya dengan orang-orang lain yang kita kasihi atau nilai-nilai tertentu yang kita percayai dan hayati.

Menurut logoterapi, karenanya, kita perlu memproyeksikan kesengsaraan dan penderitaan kita sekarang ini kepada sesuatu yang lebih besar, lebih agung, pendeknya lebih ‘bermakna’ di luar diri kita sendiri, sehingga kita tidak tunduk dan runtuh di bawah rezimnya. Kita perlu menemukan dan mencantolkan alasan eksistensi kita pada sebuah makna yang melampaui eksistensi kita sekarang ini. Dengan will to meaning, atau dengan kata lain dengan proyeksi pada sesuatu yang lebih agung dan lebih bernilai daripada penderitaan kita sendiri itulah, kita akan sanggup bertahan dan selamat.

Pada suatu hari, seorang dokter senior di Wina datang kepada Frankl dan mengisahkan kepedihan hatinya yang mendalam yang dirasakannya sepeninggal istrinya yang sangat dikasihinya melampaui apa pun. Dokter tersebut merasa hidupnya kini tidak lagi punya alasan, atau tidak memiliki makna. Selama beberapa saat, Victor Frankl mendengarkan kisahnya dan berpikir.

Lalu dia mengatakan, “Bagaimana kira-kira jika yang meninggal itu Anda dan istri Anda yang hidup dan ditinggalkan?” Dokter tersebut menjawab, istrinya pasti akan sama remuk hatinya seperti dirinya karena dirinya amat berarti bagi sang istri. Frankl lantas membalas, “Begitulah, dengan Anda tetap hidup, sejatinya Anda sedang menanggungkan bagi istri yang sangat Anda kasihi itu penderitaan yang mungkin harus ditanggungnya jika Anda yang meninggal. Itulah makna kehidupan Anda sekarang.” Dokter itu menyalami tangan Frankl dan meninggalkan kantornya dengan perasaan lega.

Kita tidak dapat menanggung penderitaan tanpa pengharapan, tanpa proyeksi dan keyakinan bahwa penderitaan itu—atau, secara luas, kehidupan ini—memiliki makna, entah di mana. Dalam bahasa Biru Laut dalam novel Laut Bercerita (2017) karya Leila S. Chudori, kita bisa menanggungkan gelap karena dalam kegelapan selalu ada ruang dan harapan bagi cahaya. Yang tidak sanggup kita tanggung adalah kelam karena dalam kekelaman tidak lagi ada kemungkinan bahwa kita bisa melihat lagi matahari.

Keyakinan dan proyeksi pada sesuatu yang lebih agung, lebih besar dan karenanya juga lebih bermakna di luar diri sendiri jugalah yang mendayai Sultan Mehmed II atau Al-Fatih ketika mendapati bahwa penggempuran dan pengepungannya terhadap Konstantinopel selalu mampu digagalkan oleh pasukan Bzyantium. Dia meyakini dengan sungguh apa yang diramalkan oleh junjungan spiritualnya, Nabi Muhammad. Sang Nabi konon pernah mengatakan bahwa “suatu saat nanti, Romawi pasti akan kalah,” ketika menyaksikan bagaimana kaum Quraisy mengepung ibukota tersebut dalam Perang Khandaq.

Karena landasan keyakinan yang amat kokoh dan pemberian makna yang mendalam pada ramalan Nabi, Mehmed II memompa semangat pasukannya agar tidak menyerah. Landasan keyakinan dan makna itu pulalah yang membuatnya berpikir keras bagaimana dapat melumpuhkan pertahanan musuh. Dia tidak berhenti dan menyerah kala usahanya yang bertubi-tubi digagalkan pasukan Romawi Timur. Sultan Mehmed II melihat celah bahwa musuh harus dikagetkan dengan kehadiran pasukannya di ‘halaman belakang’ kota mereka. Itulah saat ketika dia lalu memutuskan untuk mengangkut kapal-kapal perangnya dengan sapi melintasi daratan di Semenanjung Galata. Pada akhirnya, Sultan Mehmed II berhasil menghancurkan Konstantinopel, mengubah namanya menjadi Istambul dan menggenapi ramalan Nabi Muhammad.

Makna eksistensi manusia, menurut logoterapi, dan itu bisa kita lihat dalam contoh kehidupan Victor Frankl serta Sultan Mehmed II berada di luar individu yang bersangkutan. Makna itu ditemukan di dalam suatu nilai, keyakinan, alasan, atau cita-cita yang lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada eksistensi manusia yang serba terbatas dan bisa jadi absurd.

Frankl dan Mehmed II sudah membuktikan bahwa manusia tidak akan runtuh oleh ketiadaan makna yang serta-merta tersedia baginya untuk disantapnya, tetapi mereka akan mampu bertahan dan menang ketika memiliki dan meyakini sepenuh-penuhnya proyeksi dan keyakinan akan makna itu pada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Seperti itu pulalah kiranya kita bisa memahami pengalaman dan mengapa kita beragama. Kita tidak kuat jika harus sendirian dalam kelam. Kita boleh saja berada dalam kegelapan, tetapi kita yakin di luar sana ada cahaya benderang.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini