Berebut Koloni Baru di Metaverse

Ilustrasi: cointelegraph.com

Terakota.id–Belum lama ini diberitakan bahwa Facebook siap menggelontorkan dana sebesar $10 miliar untuk mengembangkan semesta baru bernama ‘metaverse’, dalam tahun ini saja. Tidak hanya itu, mereka juga secara resmi mengubah nama perusahaan, yang sudah menjadi brand atau merek dagang mereka, dari ‘Facebook’ menjadi ‘meta’.

Berita ini cukup menggemparkan dan membuat banyak orang yang awam dalam dunia bisnis dan teknologi informasi, termasuk saya, bertanya-tanya: mengapa. Mengapa Facebook yang sudah menggurita sebagai perusahaan sosial media dengan kinerja saham yang baik begitu ingin terjun ke semesta-meta (metaverse)? Mengapa mereka sampai rela mengubah nama atau identitasnya segala? Mengapa dalam satu tahun ini saja mereka rela ‘membakar duit’ begitu banyak? Apa yang dijanjikan oleh Metaverse?

Metaverse sendiri, seperunutan saya, merupakan semesta imajinatif baru, yang merupakan irisan dari tiga bidang utama dalam industri teknologi informasi dewasa ini. Ketiga bidang itu adalah (a) blockchain (atau rantai blok, konsep dan praktik yang digunakan dalam pengembangan mata uang kripto, yaitu mata uang yang diyakini akan dipakai di masa depan karena sifatnya yang desentralistik); (b) augmented reality (realitas tertambah, yang kadang juga disebut sebagai realitas virtual); serta (c) web 3.0. Yang disebut terakhir ini merupakan generasi ketiga dari dunia maya yang memungkinkan seorang pengguna internet untuk tidak hanya berinteraksi satu sama lain lewat perantara atau medium web, tetapi juga berinteraksi secara waktu nyata atau real-time dan bahkan menjadi ‘pemilik’ dari internet itu, tanpa campur-tangan atau mediasi dari penyedia web. Web 3.0 juga memungkinkan tampilan avatar kita menjadi tiga dimensional, tidak hanya dua dimensional.

Metaverse terletak sangat strategis, yaitu tepat di irisan antara ketiganya, sehingga ia menjadi sesuatu yang seksi dan diprediksi, dengan berkembangnya ketiga unsur penyusunnya, akan juga berkembang dan menghasilkan keuntungan besar.

Seperti sudah disinggung, Metaverse memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi secara waktu nyata, dengan bantuan avatar (yang bisa dipilih dan didandani sesuka hati pengguna atau pemilik) di ruang virtual, berjumpa dengan orang-orang yang ingin dijumpainya untuk bekerja, bermain, bersosialisasi dan seterusnya. Dengan bantuan kacamata virtual, mereka masuk ke dunia bayangan yang tampak sangat nyata dan hidup.

Mereka bahkan dapat berbisnis di sana, membeli rumah virtual, membeli lukisan virtual, menjual buku atau tulisan, melakukan berbagai aktivitas ekonomi selayaknya di dunia nyata. Mata uang yang digunakan adalah mata uang kripto, sehingga tidak ada yang dapat memata-matai apa pun transaksinya atau bank sentral yang mengaturnya. Mereka juga bisa berjanji untuk bertemu dengan kerabat dan teman-teman mereka di bar virtual, ruang makan virtual, menonton pertandingan olahraga bersama, minum-minum, dan semacamnya.

Pendeknya, metaverse adalah dunia baru yang sedang berkembang dan dibangun. Siapa yang lebih dulu dapat masuk ke sana, mengklaim dan menguasai sebanyak mungkin dan seluas mungkin bidang di sana akan, pada waktunya, menuai profit dengan cara menjual bidang tersebut (yang secara teknis biasa disebut nft) kepada pengguna lain. Ini mirip dengan bangsa-bangsa Eropa pasca-Renaissance yang berlomba-lomba menjelajah bola bumi untuk menemukan daratan-daratan baru. Mereka menemukan koloni baru di luar Eropa, menguasainya (jika perlu dengan kekerasan dan membasmi penduduk asli di sana), mengeksploitasi sumber-sumber daya alam dan manusia di sana, dan membawa kekayaan kembali ke Eropa.

Itulah mengapa Facebook dan perusahaan-perusahaan raksasa, termasuk Microsoft, terjun dan mau menggelontorkan dana secara jor-joran ke dunia meta. Mereka ingin menjadi yang pertama masuk dan mengklaim dunia tersebut. Kalau kita nanti sudah lebih melek meta dan siap untuk masuk ke sana, kita hanya akan menjadi tenant atau penyewa belaka karena bidang-bidang yang luas ternyata sudah dimiliki oleh para pengusaha atau kaum kapitalis yang visioner ini. Lagi-lagi, kebanyakan dari kita yang mungkin sekarang menyinyiri keputusan Facebook terjun ke metaverse dan mengganti nama perusahaan hanya bisa mengais-ais sedikit remah dari kue metaverse raksasa yang bagian terbesarnya sudah disimpan di lemari es Mark Zuckerberg atau Satya Nadella atau Elon Musk.

Kita Tetap Perlu Makan, Berpakaian, dan Berteduh

Gambaran tentang masa depan yang utopis (atau distopis) yang dibawa oleh (akan) hadirnya metaverse memang di satu sisi sangat menggairahkan. Di sisi lain, itu juga menggelisahkan. Bagi kalangan investor (visioner), metaverse adalah sebuah ladang baru investasi yang memiliki risiko besar, tetapi juga sangat mungkin memiliki nilai kembalian atau return yang besar. Mereka tentu tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini. Bagi mereka, uang yang mereka belanjakan adalah investasi. Dan investasi mengandung di dalamnya kemungkinan untung atau buntung, cuan atau rugi. Tentu, mereka memiliki kalkulasi dan kepekaan bisnis masing-masing sebelum memutuskan terjun ke investasi dunia meta atau tidak.

Bagi kalangan libertarian dan kapitalis murni, metaverse adalah dunia yang ideal, seperti halnya benua Amerika bagi kaum kolonial awal yang meninggalkan Eropa untuk dapat hidup dengan merdeka dan bebas, serta untuk menjadi orang kaya dan terberkati, di tanah baru itu. Metaverse dibayangkan sebagai dunia tanpa pemerintah atau negara yang biasanya penuh dengan regulasi dan petugas pajak. Metaverse memungkinkan prinsip-prinsip pasar bebas dipraktikkan dengan segala keluasannya. Orang tidak perlu membayar pajak, tidak perlu khawatir tentang rumah yang perlu direnovasi, tentang liburan yang tertunda karena pandemi, tentang iuran RT atau RW, tentang ini dan itu, dan seterusnya dan seterusnya.

Bagi kaum humanis, metaverse adalah ancaman yang semakin nyata dari teknologi untuk kemanusiaan dan nilai-nilai yang selama ini mereka anggap luhur. Mereka yang sudah amat mengkritisi teknologi yang mereka pandang dapat mengalienasi manusia dari pekerjaan dan produk yang mereka buat, dengan akan hadirnya metaverse, semakin merasa khawatir bahwa teknologi dengan segenap kekuatannya akan menghambakan manusia di hadiratnya. Manusia akan dilihat tidak lebih sebagai salah satu unsur dari dunia baru tersebut dan bukan pusat darinya. Mereka takut bahwa kecerdasan buatan (AI, artificial intelligence) akan menjadi lebih cerdas dari pembuatnya, yaitu manusia. Peran manusia nyata lantas tergantikan oleh avatar dan realitas virtual. Itu mereka yakini sebagai kiamat manusia.

Bagi kaum Marxis dan, terutama komunis, metaverse adalah bunyi gong dari kekalahan mereka setelah rangkaian kekalahan yang terus-menerus mereka derita sejak runtuhnya komunisme di Uni Soviet dan Cina. Mereka melihat cara baru kaum pemilik modal meninabobokan kaum proletar, yaitu membius mereka dengan dunia bayangan yang bisa indah dan manis.

Bagi kalangan agamawan, yang sudah terbiasa mencari pembenaran bagi setiap dogma atau ideologi yang sudah mereka yakini dengan mantap, kehadiran metaverse bisa jadi akan menjadi ancaman untuk sementara waktu, sebelum mereka menemukan cara untuk memandang pengalaman baru ini. Mereka akan mampu ‘menghadirkan’ cara melihat dan memanfaatkan metaverse ‘dalam terang iman’. Dan simsalabim, Tuhan pun dihadirkan di dunia metaverse tersebut, entah bagaimana caranya.

Namun demikian, ada satu kaum yang selalu bisa luput dari cengkeraman realitas virtual sebagaimana disodorkan atau dijanjikan dengan powerful dan amat memikat oleh metaverse. Kaum yang saya maksudkan di sini adalah kaum yang berpijak pada realitas dan material (tanpa lalu menjadi kaum realis atau materialis).

Kaum ini mencakup mereka yang beroperasi dan bergerak di dunia nyata dan di bisnis yang tangible. Termasuk di dalamnya adalah para petani, peternak, tukang bangunan, pekerja sektor riil, dan semacamnya. Mereka ini terus bergerak terlepas dari hingar-bingar dunia yang dihadirkan oleh kemajuan teknologi transportasi dan informasi. Mereka tentu saja terpengaruh secara hebat dan bisa jadi juga turut terpinggirkan oleh kemajuan yang membuat banyak kalangan khawatir.

Meskipun begitu, sampai sekarang belum ditemukan teknologi yang benar-benar membuat manusia tidak lagi membutuhkan makanan seperti yang kita ketahui sekarang ini. Belum ada mesin cetak 3D yang dapat membuat nasi goreng seenak dan senyata nasi goreng di warung tenda di pinggir jalan. Kalau hari sedang hujan, kita juga masih butuh berteduh di bawah atap rumah yang dibangun oleh para tukang bangunan karena kalau kita hanya ‘lari’ ke dunia virtual, kita akan tetap kuyup.

Tentang betapa pentingnya sektor riil dapat kita buktikan dari betapa dunia sekarang ini, di masa pandemi, menghadapi lonjakan harga pangan yang tidak main-main. Pada masa prapandemi ketika orang amat optimistik dengan kemajuan teknologi, mereka agak abai pada isu ketersediaan pangan. Namun ketika ‘dunia runtuh’ dan orang tidak dapat mengandalkan sekadar ‘industri pengalaman’ dan ‘dunia konten’, mereka tahu bahwa mereka perlu kembali ke tanah.

Kita perlu makanan yang nyata dan mengenyangkan, kita butuh kehangatan pakaian, kita butuh rumah dan orang-orang nyata yang mendiaminya bersama kita yang dapat kita sebut keluarga. Sejauh-jauhnya dan seindah-indahnya dunia virtual, tampaknya pengalaman nyata dan empirik tetap perlu bagi manusia seperti kita, setidak-tidaknya entah sampai berapa tahun ke depan.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini