Berburu Naga Terbang di Sumber Air Wendit

Ancaman kelestarian capung mulai nyata di depan mata. Penampang sungai menyembit, terjadi pendangkalan. Padahal, sebelumnya perahu petani kangkung bebas melintas di sungai.

Proses metamorfosis capung atau si naga terbang. (Foto : dokumentasi IDS).

Terakota.id–Wahyu Sigit, bolak-balik ke aliran sungai Wendit, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Menenteng kamera foto, ia menyusuri sumber mata air hingga areal perwasahan di Wendit. Tapi, ia kecewa karena tak menjumpai capung jenis Nosoctita Insignis. Selama dua tahun mendata capung, hanya dijumpai dua kali. “Capung jenis ini sensitif terhadap polutan,” kata ketua Indonesia Dragonfly Society (IDS).

Capung berciri ekor panjang, berdada kecil dengan corak warna kuning bergaris hitam ini lama tak muncul di habitat perairan Wendit. Sepanjang dua tahun, IDS mencatat tiga jenis capung yang sulit ditemui. Selain Nosoctita Insignis juga Paragomphus Reinwardtii dan Anax juga dikenal sensitif.

Diduga perubahan habitat menyebabkan ketiga jenis capung sulit ditemui. Kawasan mata air berdekatan dengan areal persawahan sehingga mengancam perkembangan ketiga jenis capung.

“Ini capung endemik Jawa, semoga tak terancam punah,” katanya.

Selama dua tahun meneliti ditemukan sebanyak 31 jenis capung. Beragam capung menunjukkan habitat di sekitar aliran Wendit ini terjaga baik. Meski, kawasan yang memasok bahan baku air minum warga Kota Malang ini berdekatan dengan kawasan perkotaan, industri dan tempat wisata. 

Hasil penelitian ini disampaikan dalam kongres capung dunia di Jepang Agustus 2012. Para peserta kongres dan ahli capung dunia menyambut penuh antusias. Lantaran kawasan Indo-Malay menyimpan 60 jenis ragam capung dunia. Namun, selama ini tak memiliki data lengkap identifikasi capung di kawasan Negara tropis. Belum semua jenis capung dieksplorasi. 

Keragaman capung di Wendit, juga berkat pertanian sayur kangkung di kawasan Wendit. Karena kangkung menjadi rumah nyaman dan tempat nyaman capung, maupun saat berbentu nimva. Kangkung menyediakan makanan melimpah untuk capung seperti serangga air dan ikan kecil. Selain itu, kangkung juga menyerap polutan dari detergen yang berasal dari kolam pemandian Wendit Water Park yang berada di atas sungai Wendit.

Kekayaan ragam capung di Wendit ini yang membangkitkan IDS mengusulkan Wendit sebagai suaka capung. Jika teraliasasi, Wendit menjadi suaka capung pertama di Asia. Wendit memiliki sejumlah capung endemik Jawa antara lain Nososticta Insignis, Paragomphus Reinwardtii dan Zyxomma Obtusum

Habitat capung tersebar di tanaman kangkung, areal persawahan, rumpun bambu dan sungai Wendit sepanjang satu kilometer. Ada beberapa jenis capung yang hanya hidup di kangkung, bambu dan sawah. Namun, sebagian juga hidup di seluruh habitat itu. Termasuk sejumlah jenis capung hanya hidup di musim penghujan saja, kemarau atau saat perpindahan musim. 

Para pelajar belajar mengenal capung dan habitatnya di kawasan Sumber Wendit. (Foto : dokumentasi IDS).

“Capung hadir pagi dan sore, untuk mencari makan. Siang memilih berteduh berlindung dari sinar matahari,” katanya. Jika menjadi suaka capung, Wendit akan menjadi laboratorium alam yang menyediakan aneka jenis capung. Serta bisa dikembangkan menjadi wisata pendidikan. Dampaknya, usaha perekonomian di sekitar bakal bangkit. Warga sekitar bisa menyediakan aneka jenis cinderamata, kerajinan, dan kesenian bermaskot capung. 

Bahkan, usaha kuliner juga bisa berkembang. Warga juga bisa menjadi pemandu untuk melihat ragam capung yang hidup di kawasan itu. Usulan IDS mendapat sambutan positif dari tokoh masyarakat Wendit. Untuk mendukung konsep suaka capung, IDS menyiapkan buku berisi foto dan identifikasi capung Wendit. 

Buku yang diluncurkan Desember 2012, dibagikan secara cuma-cuma untuk dunia pendidikan. Buku ini menjadi buku identifikasi capung pertama di Indonesia, sebelumnya LIPI hanya mengeluarkan buku mengenal capung. Buku identifikasi ini sekaligus menjadi panduan bagi pelajar untuk mengenal capung di alam. 

“Ada buku Dragonfly of Borneo, Dragonfly of Papua. Semua penulis orang luar,” ujarnya. Kawasan Wendit, katanya, harus dijaga kelestariannya. Aktivitas masyarakat sekitar Wendit ditata, sanitasi dijaga. Disediakan tempat mencuci, mandi dan buang kotoran tertata agar tak merusak habitat capung. 

Apalagi saat ini ancaman kelestarian capung mulai nyata di depan mata. Penampang sungai menyembit, terjadi pendangkalan. Padahal, sebelumnya perahu petani kangkung bebas melintas di sungai. Sekarang, perahu tak bisa melintas bebas. Penyebabnya, warga sekitar Wendit tak memperhatikan sungai Wendit. “Dulu, warga sering kerjabakti membersihkan sampah,” ujarnya.

Menjaga Naga Terbang

Pemerintah Kabupaten Malang, tertantang mengembangkan Wendit sebagai suaka capung. Sejumlah pertemuan membahas rencana penetapan suaka capung dilakukan dengan IDS. Namun, ragam jenis capung tak diimbangi dengan populasi yang melimpah.

Suaka capung, masih terbuka lebar. Habitat diperbaiki, agar bisa mengundang capung lebih banyak di kawasan itu. Serta dikembangkan untuk layak dijadikan tempat wisata pendidikan. Keunikan capung, sekaligus bisa menjadi unggulan Kabupaten Malang.

Wahyu justru berharap agar tak banyak pembangunan di kawasan itu. Sebab, bakal mengancam habitat sekaligus populasi capung. Ia tak ingin habitat capung justru rusak jika pengunjung berlebihan dan dengan pola penanganan yang tak tepat. “Lebih tepat wisata pendidikan, berbeda dengan obyek wisata Kolam Wendit itu,” katanya.

IDS juga menyiapkan warga agar peduli dengan kelestarian capung. Antara lain mengenalkan jenis, perilaku dan habitat capung terhadap pelajar Sekolah Dasar Negeri 2 Mangliawan yang berdekatan dengan habitat. Wahyu berharap pendidikan sejak dini kepada para pelajar menumbuhkan kecintaan dan pelestarian habitat capung. 

Indonesia tertinggal dibandingkan dengan Singapura. Negeri tetangga ini memiliki tujuh taman buatan untuk melestarikan capung. Taman di tengah kota ini ditemukan sebanyak 47 jenis capung. Taman juga dikembangkan menjadi tempat wisata, pendidikan, pengamatan dan fotografi.

Habitat capung juga dibangun di pemukiman penduduk di Amerika. Tujuannya, untuk mengendalikan nyamuk. “Setiap capung memakan 50 sampai 100 ekor nyamuk per hari,” katanya. 

Capung berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem.  Capung  membantu petani menjaga produktifitas pertanian. Karena  capung  menjadi predator aneka jenis serangga hama pertanian seperti wereng cekolat, kupu, lalat, nyamuk, tomcat dan serangga pemakan daun. Selain itu, nimva capung hanya hidup di perairan yang sehat dan bersih. “Capung menjadi indikator lingkungan,” ujarnya.

Worldwild Dragonfly Assosiation, komunitas pencinta capung tingkat dunia memasukkan capung Indonesia ke daftar merah atau terancam punah. Penyebabnya karena habitat capung terus berkurang. Sumber air yang menjadi habitat capung hilang, akibat penggundulan hutan. Serta menurunnya kualitas air akibat penambangan dan pencemaran industri. 

Indonesia Dragonfly Society mengenalkan capung dan habitatnya kepada pelajar
Sekolah Dasar Negeri 2 Mangliawan. (Foto : Dokumentasi IDS).

“Tapi belum ada data jenis capung yang terancam punah,” kata Wahyu. Kini, IDS tengah mendata jenis capung di Indonesia. Capung di pulau Jawa mencapai 110 jenis. Tahap awal, pendataan dilakukan di pulau Jawa. Melibatkan komunitas mahasiswa pecinta alam, dann fotografi. Sementara, pendataan dilakukan di Madura, Banyuwangi, Kali Bendo, Wonosalam, Rawa Pening, Yogyakarta, Jawa Barat di Curug Nangka. 

“Setiap provinsi didata di beberapa titik,” katanya. Dalam kongres dunia capung, Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah kongres pada 2017 mendatang. Kongres diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Pendataan capung ini, katanya, sekaligus mengejar ketertinggalan pendataan capung dibanding negara lain. Bahkan, Singapura telah mengeluarkan tiga buku yang mengidentifikasi capung.

Ancaman Pencemaran

Direktur eksekutif Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah atau Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) Prigi Arisandi menyebut 400 an sungai di Jawa Timur tercemar. Sungai tercemar ringan, sedang hingga berat. “Bahkan di Indonesia 95 persen sungai dalam kondisi tercemar,” katanya. 

Pencemaran terjadi karena perilaku manusia. Kali Surabaya contohnya, 86 persen sumber pencemar berasal dari industri. Sehingga capung tak bisa berkembang biak dengan baik. Karena capung hanya hidup di perairan yang bersih dan sehat. Sehingga, capung hanya ditemukan di daerah ketinggian. Seperti di kaki gunung Kelud, Welirang dan Kawi.

Pelajar Sekolah Dasar Negeri 2 Mangliawan diajak langsung ke habitat capung. (Foto : Dokumentasi IDS).

“Di tempat lain ada, tapi kondisinya cacat atau kelaminnya ganda,” katanya. Untuk itu, warga di sekitar sungai diajak untuk menjaga lingkungannya. Agar capungkembali hadir dengan ragam, warna menarik. Sungai kotor dan tercemar, katanya, bisa diperbaiki. Asal masyarakat dan pemerintah berkomitmen menjaganya. Buktinya di korea, dulu sejumlah sungai tercemar. Sekarang bersih dan terjaga.

Wahyu juga mengajak warga sekitar Wendit untuk turut menjaga habitat capung. Para petani kangkung diberi penghargaan, serta mengertian untuk mempertahankan tanaman kangkung. Agar capung bertahan di sumber mata air tua Wendit. Termasuk capung jenis Nosoctita Insignis hinggap di dahan dan menjadi obyek foto dan penelitian. 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini