Berbelanja Sembari Melestarikan Cagar Budaya Kota Malang

Reporter : Yogi F. Prayoga

Terakota.id—Sejumlah pelaku usaha pusat perbelanjaan, pegiat beragam komunitas dan pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang memukul lesung di depan pusat perbelanjaan Sarinah Plaza, Kota Malang akhir pekan lalu. Tempik sorak bergema, senyum mengembang dari seluruh peserta yang hadir. Lesung bergema bertalu-talu menggaung di sekitar Alun-Alun Kota Malang, pusat Kota Malang.

Pemukulan lesung menjadi penanda dimulainya Malang Shopping Adventure. Sebuah acara rutin yang digelar Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) saban tahun. Tahun ini merupakan kali ke delapan. Tujuannya untuk menggairahkan pusat perbelanjaan dan mendongkrak penjualan sepanjang tahun.

APPBI bekerjasama dengan komunitas untuk mengembangkan Malang sebagai tujuan wisata belanja. Kepala Seksi Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang Agung H Buana menilai tema Save Malang Heritage juga akan menggaungkan Malang sebagai tujuan wisata cagar budaya.

“Masyarakat dan pengelola pusat perbelajaan menyadari pentingnya pelestarian cagar budaya dan sejarah Kota Malang. Harus dijaga dan dirawat,” ujarnya. Sebanyak tujuh pusat perbelanjaan di Kota Malang memberikan potongan harga atau diskon besar selama April.

Pekan depan, katanya, akan diluncurkan Kampung Heritage Kayu Tangan. Kampung ini akan menjadi tetenger andalan baru wisata di Kota Malang. “Jika di Bandung ada Jalan Braga dan Yogyakarta dikenal dengan Jalan Malioboro,  Malang ada Kayu tangan,” kata Agung.

Memetakan Bangunan Cagar Budaya

Presiden Indonesia Marketing Assosiation (IMA) Chapter Malang, Rachmad Santoso menilai kawasan pertokoan Kayu Tangan merupakan Kawasan penggerak perekonomian Kota Malang sejak dulu. Sehingga layak dianggap sebagai pusat pertumbuhan perekonomian yang harus diangkat untuk kepentingan wisata.

IMA bersama APPBI, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) bersama komunitas pecinta cagar budaya dan media untuk membangun gerakan melestarikan cagar budaya. Menyelamatkan bangunan, pakaian tradisi, artefak, bahasan, kesenian dan kuliner warisan budaya.

“Ini gerakan moral. Melibatkan seluruh masyarakat,” ujarnya. Ide berawal dari APPBI Malang menyambut ulang tahun Kota Malang ke 104 melalui Heritage Corner. Lantas, IMA Malang melihat gerakan tersebut bisa dikemas dengan benar dan melibatkan banyak komunitas. Menggairahkan kepedulian masyarakat untuk melestarikan dan melindungi cagar budaya.

Gedung Bank Indonesia wilayah Malang dahulu bernama De Javasche Bank (Zainul Arifin/terakota)

“Jika dikemas baik, bisa dijual untuk paket wisata,” ujarnya. Ia mencontohkan kota tua di Pinang, Malaysia Pinang yang menjaga dan merawat bangunan tua untuk destinasi wisata. Biro perjalanan dan pegiat wisata mengemas secara menarik. Sehingga menjadi tujuan wisata Internasional.

Saat ini, katanya, ia tengah melibatkan pakar sejarah, akademikus dan arsitek untuk memetakan kawasan yang harus diselamatkan. Termasuk bahasa walikan yang mulai menurun penuturnya. Padahal bahasa yang dikenal sebagai bahasa Malangan ini merupakan bahasa sandi saat perjuangan.

“Sedang didata, akan dibuatkan peta bangunan cagar budaya yang harus diselamatkan. Setelah dipetakan, diolah untuk masukan kepada pemerintah.” Sehingga biro perjalanan dan bus Malang City Tour(Macito) bisa menelusuri kota tua di Malang dengan jalur yang disusunnya.

“Malang Kota punya banyak potensi. Kota legendaris, banyak bangunan peninggalan masa kolonial,” ujarnya.

Donasi untuk Selamatkan Cagar Budaya

Rachmat juga membuka donasi dari masyarakat untuk memberikan sumbangan bagi pelestarian cagar budaya. Uang yang terkumpul di rekening tersebut diawasi notaris dan auditor sehingga bisa dipartanggungjawabkan kepada publik. Dana yang terkumpul akan digunakan secara optimal untuk melestarikan cagar budaya.

Selanjutnya, akan ditentukan skala prioritas bangunan yang bakal direvitalisasi dengan dana yang terkumpul. Seperti papan penunjuk arah di kantor PLN, katanya, merupakan salah satu tetenger yang harus diselamatkan. Termasuk patung Chairil Anwar, katanya, yang dulu menjadi lokasi titik kumpul para pejuang melawan Belanda.

Wali Kota Malang Sardjono bersama panitia pembuatan Monumen Chairil Anwar pose bersama (Repro/Yayasan Inggil)

“Agustus akan diberikan penghargaan kepada pelaku usaha yang turut melestarikan budaya dan sejarah.” Selain itu, juga meminta pemerintah untuk memberikan kemudahan ijin usaha dan pembebasan pajak bagi pengusaha yang turut menjaga cagar budaya tersebut.

“Masyarakat bangkit ikut terlibat dan merasa ikut memiliki.”

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni mendukung gerakan Save Malang Heritage. Sebuah  gerakan bersama untuk melindungi dan melestarikan cagar budaya. Sehingga memiliki nilai tambah dan daya pikat untuk wisata.

“Kita tak punya wisata alam. Cagar budaya bisa dijual untuk wisata,” ujarnya. Pemerintah Kota Malang, katanya, melalui Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2018 tentang Cagar Budaya tengah berusaha melindungi bangunan cagar budaya. Perda mengatur perlindungan, pengembangan, pembinaan dan pemanfaatan bangunan cagar budaya.

“Perda cagar budaya melalui proses panjang sejak lima tahun lalu diusulkan.”

Hollandsch Chinesche School dibangun sekitar tahun 1927. Sekarang menjadi Kantor Pelayanan dan Perbendaharaan Negara (KPPN) Malang (Zainul Arifin/Terakota)

Beragam situs purbakala mulai peninggalan masa hindu kuno hingga bangunan berarsitektur eropa klasik atau art deco bertebaran di Kota Malang. Malang memiliki kekayaan bangunan dan situs bersejarah bernilai tinggi.

Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang pada 2012 lalu mencatat sebanyak 20 bangunan dan 8 benda cagar budaya dimasukkan registrasi nasional. Tahun berikutnya, 14 bangunan dan sebuah struktur cagar budaya. Sepanjang 2013 sampai 2016, tengah diproses 85 bangunan cagar budaya.

Pemetaan juga melibatkan tim Kerjasama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Jawa Timur. Data bangunan cagar budaya itu, katanya, akan ditetapkan oleh Wali Kota Malang. Tim ahli cagar budaya meliputi akademisi (Arkelogi, arsitektur, dan sejarah), media dan komunitas pegiat sejarah.

Tinggalkan Balasan