Berbahasa Adalah ‘Be-rumah’ dan ‘Be-rumah’lah Yang Bijak

Rumah yang juga merupakan tempat pergumulan antara apa yang diupayakan dengan apa yang diberikan oleh alam (peruntungan), adalah ruang kemengakaran manusia di lingkungan yang mengitarinya. Dengan begitu, bahasa sebagai rumah bagi manusia yang meng-Ada, adalah ruang ke-ber-akar-annya.

Oleh: Siti Muniroh*

Terakota.id–Bahasa adalah ‘rumah’ ada, demikian Martin Heidegger, sang filsuf Jerman berkata. Apa itu Ada? Ada adalah segala hal yang memungkinkan manusia menjadi dirinya sebagaimana ia apa adanya. Oleh karenanya, manusia di dalam Ada atau yang meng-Ada (suatu aktifitas berupa ke-menjadi-an-nya sebagai ia apa adanya), juga be ‘rumah’ di dalam bahasa.

Rumah sebagaimana kita kenal sebagai kediaman dimana kita hidup dan berkembang (yang saya maksud adalah rumah di pedesaan dan bukan rumah yang sekedar menjadi tempat istirahat di malam hari bagi pekerja keras perkotaan), tidak bisa tidak, harus kita sebut sebagai tempat hunian. Ia dilawankan dengan persinggahan di mana seseorang hanya sementara berdiam dan berpindah ke tempat lain.

Rumah yang juga merupakan tempat pergumulan antara apa yang diupayakan dengan apa yang diberikan oleh alam (peruntungan), adalah ruang kemengakaran manusia di lingkungan yang mengitarinya. Dengan begitu, bahasa sebagai rumah bagi manusia yang meng-Ada, adalah ruang ke-ber-akar-annya. Lingkungan di mana ia seperti menjadi seperti satu tubuh bersama bahasa. Misalkan saja terjadi pertemuan yang tak terduga di antara dua orang perantauan  dari suku yang sama, mereka lantas bercakap-cakap dalam bahasa kesukuannya. Terlontarlah banyak kata yang tidak dimengerti oleh orang dari suku lain.

Mengapa aktifitas ini seringkali terjadi? Karena mereka merasakan keberbagian dan keakraban yang tak terlukiskan, yang khas dan berbeda dari suku lainnya. Tentang segala kekayaan budaya yang mereka alami di kampung halaman dalam tuturan suku asali mereka itu. Bahasa yang mereka gunakan dalam bercakap-cakap satu sama lain, menjadi semacam situs yang menjejakkan adanya ‘ke-be-rumah-an’ mereka dulu di kampung halaman.

Baca juga :  Svarayatra Bincang Musik, Belajar Budaya dan Musik India

Kata waras misalnya, sejak penulis lahir dan tumbuh dewasa di Jakarta, pengertiannya hanya sebatas pada kesehatan otak saja. Namun ketika penulis tinggal di Jawa Timur, makna kata ini lebih luas lagi. Yakni kesehatan secara keseluruhan dari diri seseorang (jasmani dan rohani). Begitu pula dengan kata kerasan, maknanya tidak hanya terbatas kepada pengertian betah atau nyaman di suatu tempat.

Melainkan juga familiar dengan segala lingkungan yang ada di dalamnya. Kedua kata ini, sebelum saya ketahui makna luasnya, hanyalah diketahui oleh orang Jawa Timur saja. Oleh karenanya, ketika dua orang Jawa Timur bertegur-sapa; “sampean waras?” atau “sampean kerasan?”, satu sama lainnya sudah amat paham kalimat-kalimat ini.

Ketersituasian` dan Pemahaman`

Ke-be-rumah-an atau keberakaran, menurut Heidegger dalam karyanya “Ada dan Waktu” (Being and Time, untuk selanjutnya disingkat BT, bagian 1, 1973) adalah aktifitas ‘Ketersituasian’ (Befindlichkeit) dan‘Pemahaman’(Verstehen). Kedua arti dari dua bahasa Jerman ini saya kutip dari F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian, (Gramedia, 2008, 69).

‘Ketersituasian’ menurut filsuf Jerman abad 20 ini adalah bahwa seseorang selalu sudah berada di dalam situasi yang tak terpikirkan olehnya dan ia larut di dalamnya. Bila ia berangkat kerja misalnya, ia sudah berada di dalam situasi tertentu. Setibanya di tempat kerja, ia sudah berada di dalam situasi lainnya yang tertentu pula. Begitu seterusnya. Situasi-situasi ini, sudah ada begitu saja bahkan jauh sebelum ia lahir.

Ketika kita lahir ke dunia, bukankah kita sudah berada di dalam logat bicara dalam bahasa tertentu, pola komunikasi tertentu, karakter daerah tertentu dan sebagainya? Hal ini menurut Heidegger, menunjukkan bahwa manusia sudah selalu terlibat dalam pelbagai macam suasana dengan pelbagai macam entitas (Heidegger, BT, 1973, 180, 171, 132).

Baca juga :  Membaca Lemah Tanjung, Melihat Konflik Rasial Mei 1998

Ada pun ‘Pemahaman’, bukanlah suatu aktifitas kognitif, melainkan yang lebih primordial dari itu. Heidegger mengatakan bahwa lantaran manusia berada dalam ‘keterrsituasian’ dan sejatinya ia juga adalah mahluk yang terbuka dengan pelbagai macam entitas yang melingkupi dirinya sejak ia muncul ke dunia, maka seketika itu pula ia meresponnya (Heidegger, BT, 182, 214). Secara perlahan, proses interaksi yang tidak pernah absen ini  mengendap dan mengakar menjadi semacam ‘alam bawah’ sadarnya. Pengenalan kognitif adalah sebagian memori yang terangkat darinya, yang berarti disadarinya meski belum sampai ke tahap kesadaran reflektif.

Oleh karenanya, bila dua perantauan dalam contoh di atas bercakap-cakap dalam bahasa ‘ibu’nya, tak lain dan tak bukan adalah karena keduanya ’tersituasikan’ di dalam suku asal mereka dan terbentuklah ‘pemahaman’ di dalam diri keduanya. Inilah proses ‘kemengakaran’ atau ‘ke-be-rumah-an’ keduanya di dalam bahasa. Mereka hidup dan menubuh di dalam bahasa, yang tak lain dan tak bukan adalah rumah Ada.

‘Be-rumah’lah Yang Bijak

Di media sosial, sudah amat sering kita jumpai kutipan-kutipan yang entah hal ini dengan maksud untuk bercanda mau pun meledek dan bahkan mem-bully (menggertak) orang lain di dalam laman atau pun di ruang komentar dari laman sang pemilik akun tersebut. Misalnya yang seringkali kita temukan saat ini adalah kata “jaman now’. Dua kata campuran dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris ini merupakan lontaran dari ucapan seseorang di dunia nyata.

Lantas banyak anak muda mengutipnya dalam status-status di laman mereka. Kenyataan ini dapat mengakibatkan komunikasi yang terjadi di antara dua orang misalnya, yang mungkin saja salah satu dari kedua orang ini tidak mengerti salah satu dari dua bahasa yang dicampurkan ini, terdistorsi. Kata “jaman now’ adalah salah satu dari kata-kata yang pernah populer di media sosial belum lama ini (persisnya ketika menjelang Pilkada DKI hingga acara perhelatan tersebut usai) yaitu ‘kaum bumi datar’ atau ‘kaum onta’, ‘pitsa hat’ dan lain sebagainya.

Baca juga :  NH Dini Menginspirasi Para Penulis dan Sastrawan

Kondisi ini menggambarkan suatu kenyataaan tentang publik Indonesia yang senang sekali bersikap meledek dan nyinyir. Suatu sikap yang tidak dipertimbangkan lagi bahwa media sosial sejatinya adalah ruang publik dan bukan ruang interpersonal (ranah terbatas antar teman), begitu menurut Agus Sudibyo, salah seorang pakar komunikasi dari Dewan Pers Indonesia. Bila kultur semacam ini terus berlangsung maka akan tercipta lingkungan yang buruk bagi proses ‘ketersituasian’ dan ‘pemahaman’ generasi berikut. Makin lama, makin tergeruslah ciri khas masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat yang ramah.

Oleh karenanya, bila kita ingin terus merawat gelar yang kita sandang sebagai masyarakat Indonesia yang ramah, ada baiknya kita ‘be-rumah’ (ber-media sosial) yang bijak, yakni dengan mempertimbangkan terlebih dahulu kata-kata yang hendak diketik dalam laman akun pribadi kita.

*Pengajar di Universitas Raden Rahmat (UNIRA) Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini