Iklan terakota

Terakota.id–Beberapa waktu terakhir ini, saya melakukan apa yang oleh kamus urban definisikan sebagai binge-watching, menonton serial secara maraton dalam waktu yang cukup pendek. Yang menjadi objek (atau menjadikan saya subjek, tergantung cara pandangnya) dalam kegiatan binge-watching tersebut adalah The Walking Dead (TWD), sebuah serial produksi AMC yang musim perdananya telah tayang sejak 2010 lalu dan tahun ini mulai memasuki musim penghabisannya.

Penonton serial TWD memang menegangkan dan mendebarkan. Saya yang biasanya takut dan cenderung ngeri serta karenanya menghindar dari menonton film-film yang penuh adegan kekerasan, darah yang muncrat, badan yang terpotong dan terkoyak, seringai yang mengerikan, dan tubuh yang asimetris awalnya agak mulas juga menonton serial ini. Sampai saya menyadari bahwa TWD ini sebenarnya menjadikan zombie atau mayat berjalan yang horor itu lebih sebagai preteks bagi cerita kemanusiaan dari tokoh-tokohnya.

Zombie atau walker dalam TWD, meskipun merupakan momok yang mengerikan bagi manusia yang mampu bertahan hidup, seringkali lebih berfungsi sebagai latar depan (foreground) dan latar belakang (background) bagi cerita tokoh-tokohnya. Cerita dari tokoh-tokoh manusia inilah yang merupakan bagian sentral yang sesungguhnya dari TWD. Zombie dapat dilumpuhkan dengan merusak otaknya, entah dengan tusukan pisau, tongkat, dahan, atau sabetan pedang atau tembakan pistol. Namun, musuh sesungguhnya dari manusia adalah manusia itu sendiri, entah itu dalam wujud dirinya sendiri maupun sesama manusia.

Kehilangan dan Membangun Peradaban setelah Kehancuran

TWD merepresentasikan atau mengisahkan bagaimana manusia mencoba bangkit dan membangun kembali peradaban setelah kehancuran massal karena kegagalan teknologi yang menciptakan monster dan mengakibatkan kematian di mana-mana. Di tengah rasa frustrasi bahwa ternyata ‘obat’ untuk mengalahkan virus mematikan yang menyebabkan orang berubah menjadi zombie tidak dapat ditemukan, manusia tetap berharap dapat mengatasi kegagalan tersebut dan membangun kehidupan yang manusiawi.

Manakala dihadapkan pada kehancuran yang tak terelakkan dan total, reaksi pertama kebanyakan dari kita adalah menolak. Kita tidak akan menerima begitu saja kehilangan yang menimpa kita, yang membuat orang-orang yang pernah dekat di hati kita, yang merenggut apa saja yang pernah kita miliki dan banggakan (atau bahkan benci dan kurang sukai). Pada dasarnya, manusia menyenangi keteraturan dan kepastian, bahkan bila dalam kedua hal tersebut ada atau terkandung beberapa hal yang kurang disukainya. Ketidaksukaan kita pada beberapa hal dalam sesuatu yang berubah tidak lebih besar daripada ketidaksukaan kita pada perubahan, apalagi perubahan yang drastis dan disertai dengan kehilangan dan keharusan untuk melepaskan.

Sikap menolak atau mengingkari kehilangan dapat kita lihat pada sosok Herschel Green, seorang dokter hewan yang di lumbung di tanah pertaniannya ‘mengandangkan’ dan ‘memelihara’ kerabat-kerabatnya, termasuk istrinya, yang telah berubah menjadi zombie (TWD, Musim 2, Episode 6). Dia tidak ingin menerima dan mengakui bahwa orang-orang yang dikasihinya itu telah mati dan berubah. Herschel percaya bahwa obat akan segera ditemukan dan dia akan dapat mengubah kembali kerabat-kerabatnya tersebut menjadi manusia lagi.

Penolakan serupa juga dapat kita lihat dari tokoh Philip Blake, atau yang dijuluki The Governor of Woodbury. Dia telah kehilangan seorang yang sangat dekat di hatinya, yaitu putrinya yang bernama Penny (TWD, Musim 3, Episode 5). Saking cintanya kepada putrinya itu dan karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia telah mati dan berubah menjadi zombie, The Governor menempatkannya di sebuah ruangan kecil dan kepada Penny diberikannya daging manusia dari mereka yang menjadi musuhnya dan berhasil dibinasakannya.

Dalam kasus Herschel dan The Governor, kita melihat ekspresi dari penolakan akan kehilangan tersebut dalam bentuknya yang frontal: mencoba mempertahankan apa pun, termasuk memori, memorabilia, dan bahkan mayat hidup dari pribadi-pribadi yang disayangi namun telah tiada dan berubah menjadi zombie. Jika kenangan akan mereka yang telah hilang tersebut dapat diistilahkan sebagai nostalgia, penolakan dalam bentuknya yang sangat frontal dan langsung ini bisa kita pandang sebagai nostalgia restoratif (Sulistyaningtyas, 2021).

Dalam nostalgia restoratif, yang dominan dirasakan adalah rasa marah, kecewa, dan sedih yang tidak terobati. Kesesakan besar yang dirasakan akibat kehilangan mendorong orang yang mengalaminya untuk merekonstruksi memori menjadi seutuh seperti sedia kala. Namun, justru di sinilah masalahnya. Keadaan dan kenyataan sudah berubah dan tidak akan kembali pulih seperti semula. Orang-orang terkasih yang telah mati dan terjangkit virus zombie dipastikan akan berubah menjadi mayat hidup dan tidak, atau belum, ditemukan obat untuk itu.

Nostalgia restoratif, dengan demikian, merupakan jenis nostalgia yang buntu dan bahkan destruktif, karena tidak akan menghasilkan solusi yang positif dan kreatif. Zombie-zombie kerabat Herschel membahayakan anggota keluarganya yang masih hidup, dan kenangan akan Penny membuat The Governor menjadi seorang yang getir dan keji.

Di sisi lain, terdapat pula banyak tokoh lain yang juga kehilangan orang-orang yang sangat mereka sayangi. Sebagai misal, Carol kehilangan anaknya Sophia dan kemudian Henry, Rick Grimes kehilangan istrinya Lori dan Carl, Michone kehilangan seluruh keluarganya, Daryl kehilangan kakaknya, dan masih banyak tokoh lain.

Dalam kenyataannya, tidak ada satu tokoh pun dalam TWD yang tidak mengalami kehilangan. Mereka ini pun mengalami dan merasakan kegetiran dan kesesakan yang sangat. Ada unsur penolakan pula dalam sikap mula-mula mereka. Namun, rupanya mereka tidak berhenti pada penolakan dan nostalgia restoratif, karena mereka sadar kehidupan terus berlanjut, kemanusiaan perlu dibangunkan.

Bagi tokoh-tokoh yang tergolong terakhir ini, memori mereka akan orang-orang yang mereka sayangi adalah fragmen yang terus menetap dalam benak dan kesadaran. Pada waktu yang sama, mereka berusaha sebisa mungkin untuk menerimanya, serta memandangnya sebagai sebuah keniscayaan. Dengan menerima rasa kehilangan, mereka menjalankan nostalgia reflektif. Dari sana, timbul kehendak untuk terus berharap dan menjalani kehidupan yang tidak lagi sama.

Pada waktu selanjutnya, menjadi jelas bahwa hanya tokoh-tokoh yang mampu menjalankan nostalgia reflektiflah yang bisa berkembang dan menjadikan diri mereka batu-batu penjuru peradaban baru yang sedang dibangun kembali. Dan kemampuan untuk menjalankan nostalgia reflektif ini akan terus diuji karena kehilangan akan terus terjadi, meskipun itu tidak lantas menjadikan rasa kehilangan lebih mudah dihadapi.

Manusia-manusia berani inilah yang lantas saling bertemu, saling menguatkan, dan saling menyokong (juga saling sikut dan saling bantai) dalam membangun kembali kehidupan yang berantakan. Tentu saja, upaya pemberadaban ini tidak pernah mudah. Apabila yang dihadapi hanya mayat-mayat hidup, yang walaupun jumlahnya banyak tetapi tidak saling terkoordinasi dan bergerak secara acak, keadaan tentunya akan lebih sederhana. Tinggal dihadapi dengan senjata api, pisau, pedang, atau bahkan tongkat, maka habislah para zombie. Konflik dan benturan yang paling ganas justru terjadi antarmanusia, antarkomunitas, antarkelompok.

Kekacauan besar muncul karena setiap kelompok ingin mendahulukan kepentingan kelompoknya sendiri. Mereka tidak saling percaya dan memandang kelompok lain, atau bahkan individu lain dalam kelompok yang sama, sebagai ancaman bagi kehidupan mereka. Intinya, tidak langsung muncul solidaritas dan kemampuan untuk saling bekerja sama dan menghargai antarmanusia dalam situasi yang sangat elementer dan subsisten tersebut. Solidaritas, kerja sama, dan saling menghargai adalah hal-hal abstrak yang baru muncul setelah kebutuhan yang paling dasar atau elementer terpenuhi.

Kesadaran, atau lebih tepatnya berhentinya kesadaran, hanya sampai pada tahap elementer inilah yang menggerakkan kelompok barbar bernama Whisperers. Mereka percaya bahwa agar bisa bertahan dalam masa yang porak-poranda itu, satu-satunya jalan adalah menjadi porak-poranda, kembali ke keadaan paling dasar dari manusia: tidak perlu ada peradaban, tidak perlu ada rumah, tidak perlu ada demokrasi, tidak perlu ada seni. Yang penting adalah bertahan hidup secara elementer, bahkan jika itu berarti hidup seperti zombie.

Namun demikian, peradaban tercipta karena abstraksi kebersamaan dan solidaritas. Inilah yang pada akhirnya keluar sebagai ‘pemenang’, meskipun lantas peradaban yang terbentuk itu pun selalu dibantunkan dan diuji terus-menerus. Manusia membangun peradaban adalah seperti Sisifus yang dikutuk dewa untuk mendorong batu besar ke atas bukit hanya untuk digelindingkan lagi ke lembahnya.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini