Belajar Dunia Literasi kepada Pendiri Bangsa

Terakota.id–Pemerintah kolonial Belanda menangkap Sukarno dan menjebloskannya ke penjara di pengujung 1929. Ia dituding menghina pemerintahan Belanda. Selama menjalani hukuman, Sukarno tak hanya diam meratapi nasib. Namun menyusun naskah pembelaan berjudul Indonesia Menggugat. Pledoi dibacakan di muka pengadilan,  pada Desember 1930.

Pledoi ini menggugat sekaligus menampar wajah kolonialisme yang berkembang di Indonesia. Meskipun, Sukarno harus menjalani hukuman. Merujuk Muhidin M Dahlan (2016: 145), pledoi Sukarno mengutip 66 tokoh dunia. Meliputi Anton Manger, Jules Hermand, Karl Marx, Karl Renner, Manuel Quezon, Mac Swiney, dan sebagainya.

Presiden Sukarno menghadiri pameran pekan buku Indonesia 1954. (Foto : wikimedia)

Para tokoh beraliran sosialis liberal, agamawan, komunis sampai mereka para penganjur kapitalisme modern. Gugatan Sukarno itu bersandar dari 33 buku, yang 99 persen berbahasa Belanda. Apa yang dilakukan Sukarno, tidak mungkin terjadi tanpa budaya literasi yang kuat.

Begitu pula Tan Malaka, yang merampungkan naskah penting Materialisme Dialektika dan Logika (Madilog). Ia tidak mengurung diri di dalam perpustakaan, melainkan menulis dengan keterbatasan buku. Dikerjakan di sela-sela gerilya kemerdekaan. Naskah ditulis selama lebih kurang delapan bulan, mulai 15 Juli 1942 sampai dengan 30 Maret 1943. Sekurang-kurangnya tiga jam per hari.

“Pena merayap di atas kertas dekat Cililitan, di bawah sayapnya pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas pondok saya. Madilog ikut lari bersembunyi ke Bayah Banten, ikut pergi mengantarkan Romusha ke Jawa Tengah dan ikut menggeleng-geleng kepala memperhatikan proklamasi Republik Indonesia. Di belakang sekali ikut pula ditangkap di Surabaya bersama pengarangnya, berhubung dengan gara-gara Tan Malaka palsu …. bahkan hampir saja Madilog hilang,” tulis Tan Malaka dalam Sejarah Madilog (1946).

Kisah ini menunjukkan para pendiri bangsa Indonesia merupakan sosok tokoh yang menjunjung budaya literasi. Mereka tekun membaca, menulis buku sebagai pandu perjuangan. Menulis sama pentingnya dengan berpidato dalam rapat politik, berorasi di  tengah rakyat, atau berdebat serta berdiskusi. Setiap gagasan penting dituliskan, dideperdebatkan dan disebarluaskan.

Jika para tokoh penggerak kemerdekaan ini timbul ketiksepakatan, mereka berpolemik dan mendebat melalui buku. Kala Sukarno menulis Islam Sontoloyo, M. Natsir menanggapinya dengan menulis Islam dan Akal Merdeka. Ketika Tan Malaka menuangkan pandangan dan pertanyaan-pertanyaannya soal pemberontakan PKI 1926 dalam buku berjudul Tesis. Alimin Prawirodirdjo, menanggapinya dengan menulis buku berjudul Analisis.

Saat Mohammad Hatta bersitegang dengan Sukarno ihwal Demokrasi Terpimpin dan berujung pada pengunduran diri, ia memprotes melalui risalah Demokrasi Kita.

Para tokoh perintis kemerdekaan juga mengembangkan media massa. HOS. Tjokroaminoto guru pergerakan sekaligus Pemimpin Redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa. Kiai Hadji Misbach tokoh pejuang yang menerbitkan Medan Moeslimin pada 1915 dan Islam Bergerak pada 1917.

Semaoen, pada usia18 tahun, memimpin Sinar Djawa dan berubah menjadi Sinar Hindia. Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo juga menahkodai De Expres untuk perjuangan. Soekarno mendirikan Persatoean Indonesia dan Fikiran Ra’jat. Moh. Hatta dibantu Sjahrir menerbitkan majalah Daulat Ra’jat. Mas Marco Kartodikromo, pada 1914 mendirikan Doenia Bergerak dan perhimpunan jurnalis Inlandsche Journalisten Bond (IJB).

Literasi telah memandu perubahan bangsa ini. Dari awalnya bangsa terjajah, menjadi bangsa yang merdeka. Tanpa bahan bacaan yang memadai, kemerdekaan tidak mungkin terumuskan. Gagasan sebuah bangsa yang berdaulat dengan seperangkat konstitusinya, mustahil muncul dari tetesan air hujan di atas daun talas.

Urgensi Budaya Literasi

Intrans Publishing memberikan penghargaan kepada para penulis inspiratif. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).

Deputi Bidang Advokasi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Profesor Hariyono menekankan pentingnya membaca. Membaca, katanya, membuat wawasan berkembang. Wawasan yang berkembang akan menimbulkan resonansi terhadap pikiran seseorang. Sehingga, bacaan akan berpengaruh pada pikiran sekaligus juga tindakan.

“Sebenarnya wacana tidak hanya berhubungan dengan kognisi, pikiran, melainkan juga tindakan. Terpelajar tidak hanya wawasannya, tapi juga kongruen dengan prilaku,” kata Hariyono, kepada Terakota.id, usai peluncuran buku Menuju Negara Bermartabat dan Penganugerahan Penulis Inspiratif yang diselenggarakan Intrans Publishing, akhir pekan lalu.

Minimnya literasi berakibat fatal. Pendangkalan nalar terjadi akibat sempitnya wawasan yang minim asupan pengetahuan. Padahal, kata Hariyono, nalar yang dangkal punya pengaruh terhadap eksistensi seseorang untuk tumbuh secara manusiawi. “Proses pencerahan berbanding dengan proses literasi.”

Hariyono menerima anugrah Penulis Inspiratif 2018 dari Intrans Publishing. Dua buku yang ditulisnya, berjudul Ideologi Pancasila masuk dalam daftar buku yang banyak dicari. Sedikitnya, 3 ribu eksemplar ludes di toko buku, belum termasuk ketika pameran ataupun bedah buku.

Selain Hariyono, ada empat penulis lainnya yang masuk dalam kategori Penulis Inspiratif 2018, bukunta terjual lebih dari 3 ribu eksemplar. Yakni Masdar Hilmy (Jalan Demokrasi Kita dan Pendidikan Islam dan Tradisi Ilmiah),  Jeni Susyanti (Perpajakan untuk Praktisi dan Akademisi), Suparlan Al-Hakim (Pendidikan Kewarganegaraan dalam Konteks Indonesia), dan Moh. Najih (Pengantar Hukum Indonesia). Selain kelimanya itu, ada juga penulis lain yang mendapatkan anugerah karena bukunya terjual di atas 2 ribu eksemplar.

Direktur Intrans Publishing, Luthfi J. Kurniawan menuturkan penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap penulis. Intrans Publishing telah bekerjasama dengan para penulis selama 15 tahun, sejak Agustus 2003. Hubungan perusahaan penerbitan dengan para penulis, bukan hubungan bisnis semata. Melainkan hubungan yang dilandasi komitmen untuk memperkuat budaya literasi masyarakat.

Hingga kini, perusahaan penerbitan yang beralamat di Jalan Joyosuko Metro 42 A Kota Malang ini, telah menerbitkan sekitar 1.700 judul buku. Total lebih dari 1,7 juta eksemplar buku diedarkan. Sayang, pemerintah tak memberikan insentif bagi perusahaan penerbitan ataupun proteksi bagi para penulis. Perusahaan penerbitan sama dengan perusahaan yang lain.

“Intrans Publishing tidak boleh meninggalkan aspek humanistik dan pengetahuan. Sehingga tidak akan menerbitkan buku yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan intelektual. Perubahan itu dipandu oleh pengetahuan, dan buku mengandung pengetahuan,” tutur Luthfi.

Luthfi berharap dunia literasi tidak hanya dimaknai sebatas membaca. Literasi harus berhubungan dengan lebih berkembangnya pengetahuan. Sehingga literasi terkait dengan diskusi buku, bedah buku, dan mengkritik isi buku. Tidak asal membaca buku.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI (2003-2008) dan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Profesor A. Mukthie Fadjar meluncurkan Menuju Negara Bermartabat. “Hampir semua buku yang saya tulis berisi tentang Negara. Bagaimana Negara yang dikelola secara benar, secara teori dan ideologi,” ujar Mukhtie Fadjar.

Buku yang diluncurkan ini tidak jauh dari seputar tata Negara. Maksud menuju Negara bermartabat, katanya, tidak hanya dimensi hukum saja yang penting dalam Negara, melainkan juga etika. Baginya, dimensi etis lebih tinggi daripada hukum.

Buku ini melengkapi beragam buku yang ditulisnya. Meliputi Partai Politik dalam Perkembangan Ketatanegaraan Indonesia (Setara Press, 2008), Teori-teori Hukum Kontemporer (In-Trans, 2008), Sang Penggembala: Perjalanan Hidup dan Pemikiran Hukum A. Mukhtie Fadjar, dan lain sebagainya.

 

Tinggalkan Balasan