Bekas Pemukiman Pejabat Belanda di Kota Malang Terancam Lenyap

Terakota – Menyusuri sudut Kota Malang masih bisa menemui bangunan dengan gaya arsitektur eropa klasik atau art deco. Khususnya di kawasan yang menggunakan nama jalan gunung – gunung (Bergeenburt). Dulu, kawasan ini merupakan tempat bermukim para pejabat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Kawasan jalan nama-nama gunung di zaman itu masuk dalam bouwplan atau rencana pengembangan tata kota. Persisnya setelah Kota Malang ditunjuk menjadi gementee atau kotamadya pada 1914. Herman Thomas Karsten, seorang ahli tata kota Hindia Belanda adalah orang yang dipercaya sebagai arsitekturnya.

Herman Thomas Karsten membagi menjadi bouwplan I – VIII atau delapan tahap rencana pengembangan tata kota. Permukiman di kawasan yang menggunakan nama jalan gunung-gunung masuk dalam bouwplan V dan VII. Mulai dari Jalan Ijen, Jalan Semeru, Jalan Bromo, Jalan Merbabu, Jalan Panderman, Jalan Kawi dan lainnya. Di kawasan ini, beberapa bangunan rumah masih bertahan keasliannya. Tapi, tak sedikit pula yang hancur atau berubah bentuk.

Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang telah menelitian pada 2005 silam bekerjasama dengan Pemerintah Kota Malang. Hasil studi digunakan sebagai guideline tata kota di jalan gunung-gunung. Hasil penelitian, diketahui perubahan bentuk bangunan sudah mencapai 38 persen. Laporan penelitian dimuat dalam Jurnal Asosiasi Sekolah Perencana Indonesia, Volume 3 Nomor 2 April 2004 di halaman 107-123.

“Hasilnya juga kami sampaikan ke Pemkot dan DPRD Kota Malang masa itu. Legislatif saat itu terkejut dengan banyaknya perubahan bentuk bangunan,” kata Guru Besar Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, Profesor. Ir. Antariksa Sudikno, M.Eng, Ph.d kepada Terakota.id

Padahal, upaya perlindungan dan pelestarian terhadap cagar budaya di Kota Malang telah dilakukan sejak 1980-an silam. Saat itu diterbitkan Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Dati II Malang Nomor SK/104/U/II/’80, yang dalam diktum kedua dari SK tersebut menggariskan perlunya mempertahankan bentuk keaslian lingkungan perumahan di jalan yang menggunakan nama gunung – gunung.

SK itu diperkuat menjadi Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1986, yang selanjutnya dilakukan perubahan menjadi Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 1989. Isinya antara lain bahwa dalam rangka usaha terciptanya salah satu citra Kota Malang sebagai Kota Pariwisata, perlu mempertahankan kelestarian bangunan yang dapat menunjang kepariwisataan. Dalam hal ini, pemerintah daerah melarang perubahan atau pembongkaran bangunan yang memiliki nilai sejarah, kebudayaan khusus, atau guna kepentingan pariwisata, kecuali bila mendapatkan ijin dari Kepala Daerah.

“Kenyataannya, perda itu tidak efektif karena banyak bangunan baru tumbuh menggantikan bangunan lama di kawasan yang sepatutnya dilindungi itu,” papar Antariksa.

Ia mengaku heran ada draft rancangan peraturan daerah tentang perlindungan cagar budaya yang disusun pada 2016 lalu. Ranperda dalam pembahasan legislative dan ditarget digedok menjadi perda pada tahun ini. Antariksa mempertanyakan apakah produk hukum yang dibuat kali ini sudah berdasarkan pada regulasi yang dibuat pada 1980-an tersebut.

Menurut Antariksa, regulasi lama itu memang tak memuat detil tentang kemudahan berupa insentif pajak atau biaya pemeliharaan bagi pemilik gedung atau bangunan kuno. Hanya berupa perlindungan kawasan. Namun, perda yang saat ini dibahas sepatutnya tetap mengacu atau bahkan penajaman dari regulasi lama.

“Kalau bikin baru, apakah tiga produk hukum sebelumnya itu sudah dicabut atau direvisi. Kalau aturan lama itu dianggap gagal, harus ada hasil evaluasinya,” tuturnya.

Meski demikian, ia berharap dalam rancangan peraturan daerah yang tengah digodok DPRD Kota Malang memberikan insentif pajak atau keringanan bagi pemilik bangunan. Sehingga, ada kejelasan kewenangan perawatan bangunan yang masuk kategori cagar budaya.

“Bangunan boleh saja berubah peruntukan fungsinya.Tapi bentuk bangunan harus tetap sama. Ini namanya konservasi, menyesuaikan fungsi baru tapi tak mengubah bentuk,” ujar Antariksa.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini