Batu Jalanan Tanpa Nama

Ilustrasi lukisan karya Mas Gito Lesung

Oleh : Trianom Suryandharu*

Terakota.id-Tiga hari lalu, hari raya Idul Fitri ke-2, pria itu datang ke rumah. Bersama anak perempuannya. Sumringah. Seperti biasanya, setelah lima ramadhan tak bersua, kami nerocos berbagi cerita. “Aku sekarang, main bumbu, Mas,” lontarnya membuka perbincangan.

Lalu, mengalirlah kisahnya. Dia ‘baru berhasil’ mengajak enam ibu, meracik bumbu dapur. Iya, aneka bumbu dapur jadi. Tinggal tuang, masak, jadi. Mau bumbu sayur lodeh, rawon, soto, apapun. Tinggal pilih. Semua bahan baku, dia yang sediakan. Langsung beli dari petani. Dia ambil sendiri, lalu diantarkan ke ibu-ibu itu untuk diracik. Setelah itu, giliran dia berkeliling memasarkan.

Hasil penjualan, dibagikan kepada para ibu itu, sebagai usaha bersama. Termasuk dirinya. “Kita memang membentuk kelompok usaha bersama. Abot-enteng, disunggi bareng. Seberapapun hasilnya, masio sithik, yo didum rata,” ungkapnya, tak lupa menebar senyum.

Sementara itu, bahan baku aneka empon empon diambilnya dari petani. Menurutnya, produk empon empon petani, kadang sulit pemasarannya. Karena itulah, empon-empon belum bisa menjadi komoditas utama.

“Kepada para petani, saya jarang menawar. Karena komoditas itu tidak mudah laku. Setelah tahu harga pasar, nyampai di petani saya selalu ambil semua yang dia miliki dengan harga pasar yang wajar. Asal dia gak rugi, kita juga gak rugi. Prinsip saya, jangan sampai jerih payah petani itu gak laku dan dibuang sia-sia. Apalagi sekarang banyak produk pertanian impor,” ujarnya dengan api yang masih menyala.

Pria dengan dua anak ini, mengaku sedang mencari mitra sebagai ‘marketer’. “Saya membutuhkan orang yang berjiwa sales. Dengan energi yang kuat. Karena, sebulan kami sudah mentok dengan omset Rp 70 juta. Butuh tambahan orang, agar bisa meluaskan pasar, agar bisa mengajak lebih banyak ibu-ibu lagi,” bertubi-tubi lontarannya.

Saat bersua lima ramadhan lampau, dia berkisah mengenai usaha goreng brambang (bawang merah). Hampir sama, juga melibatkan ibu-ibu di sekitar rumahnya. Para ibu yang dilihatnya, punya waktu luang. Dia tawari kegiatan, sekadar mengisi waktu luang, namun bernilai ekonomi.

Dia yang membeli bahan bakunya. Mengajari mereka mengupas dan menggoreng bawang merah. Lalu mengemasnya. Lantas, dia pula yang keliling menawarkan ke warung-warung.

Usaha bawang merah goreng, cukup berkembang. Setelah ada orang yang menggantikannya untuk pengiriman, dia pun memberikan usaha itu pada penerusnya. Dia sendiri, beralih ke usaha percaikan bumbu masakan.

Sebelum usaha bawang merah goreng, ia terlibat dalam usaha pemasaran peralatan pramuka. Uniknya, seluruh peralatan pramuka itu, dibuat oleh para narapidana yang akan ‘lulus’. Sebagai persiapan hidup di masyarakat, ada usaha yang bisa dilakukan. Seperti sebelumnya, satu usaha rintisan jalan, dilimpahkan, lalu dia beralih usaha lagi.

Sebelumnya lagi, usaha kerupuk rambak. Dia belajar sendiri, mencari informasi bahan baku, dia goreng sendiri, dipasarkan sendiri. Begitu usaha jalan, dia mengajak teman yang membutuhkan pekerjaan, dia ajak ikut gabung. Dia belikan alat penggorengan, dibelikan bahan baku. Diajari pengemasan. Diajak keliling buka pasar. Setelah berjalan, dia berikan usaha itu ke temannya.

“Lho, lha terus, yakapa aku kan mesti mbalekne modal usaha mu?” ia menirukan pertanyaan temannya.

Jawabnya tanpa beban, “Yo engko lek enek sing butuh gawean koyok awakmu biyen, balekno modal itu ke dia.” Terdengar tawanya membahana lepas.

Beberapa bulan terakhir, khususnya hari Sabtu-Minggu, dia menyisihkan waktu untuk seorang teman. Dia menyebutkan sebuah daerah di Malang. Di sebuah kampung yang berdekatan dengan perumahan. Nah, perumahan itu gak banyak laku, gegara sering terjadi kehilangan. Di kampung itulah temannya tinggal.

Dia itu, kisahnya berlanjut, pintar sekali dalam mengolah kayu. Mungkin, tangannya berjodoh dengan kayu. Hasil karyanya, bagus, rapi dan kuat. Lantas, ia coba carikan akses dana perbankan. Kebetulan, dia kenal salah satu pimpinan sebuah bank. Setelah disurvei, modal itu cairlah.

“Sekarang Mas, orang-orang warga kampung itu banyak yang dapat kerjaan dari usahanya. Salah satu produknya, membuat meja belajar pendek dan meja untuk mengaji. Tetangganya ada yang membuat kaki meja, memotong kayu, ada yang menghaluskan, mengecat,” diam diam, batin ini tak mampu menahan berdecak kagum.

Sayup terdengar kumandang adzan dzuhur. Dia mohon diri.” Iki mau, ora pamit karo ibu’e arek-arek. Lek weruh mrene, isa bengok bengok dekne. Lha wong wingi iku, sing ngajak mrene malah ibu’e arek-arek koq, Mas,” selorohnya seraya menuju pintu pagar.

Mesin sepeda motornya, terdengar menderu. Punggungnya menghilang ditelan tikungan jalan berbatu. Batu-batu yang, entah siapa telah menatanya, sehingga bisa menjadi jalan kebaikan bagi orang lain..

Omah Hijau Bandulan, 31052020
Ilustrasi lukisan karya Mas Gito Lesung

Penulis (Sumber: Dok. Pribadi)

*Penulis merupakan pegiat literasi dan bekerja di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPMM) Universitas Ma Chung Malang.

*Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini